Diberdayakan oleh Blogger.

Sabtu, 26 Mei 2012

Demam Indonesian Idol, Sebuah Opini

by Joielechong sipayung  |  in Opini at  Sabtu, Mei 26, 2012


Demam Indonesian Idol semakin melanda Indonesia, tingginya tingkat pemberitaan baik di media kertas maupun elektronika turut mendongkrak laju peningkatan jumlah penonton Indonesian Idol. Penonton menyaksikan penampilan para Idola mereka di televisi, membicarakan tentang Indonesian Idol disela-sela waktu, termasuk meng-update status di facebook mengenai Indonesian Idol tersebut, seolah-olah merupakan bagian hidup mereka.
Apakah menyukai seseorang itu salah?, tentu tidaklah salah. Tetapi mengidolakan seseorang itu merupakan sesuatu yang perlu dicermati lebih lanjut. Saya akan coba menggambarkan opini saya tentang hal ini dengan penyampaian bahasa yang sederhana dan enak dicerna bagi kita semua.

Dari asal katanya (etimologi), Idol adalah sebutan untuk berhala, jadi mengidolakan seseorang berarti menganggap seseorang itu adalah berhala yang patut disembah. Dari sudut pandang beberapa agama Abraham/Ibrahim, berhala merupakan hal yang sesat dan harus ditiadakan, dari sudut pandang psikologi (yang saya pahami), orang yang mengidolakan sesuatu cenderung menganggap idolanya lebih penting dari segalanya bahkan hidupnya sendiri sehingga ia akan melupakan eksistensinya dan lingkungannya. Menjadikan seseorang sebagai panutan bukanlah hal yang salah, tetapi menjadikan seseorang pujaan hatinya lebih dari dirinya sendiri merupakan hal yang salah (tanpa mencampurkan aspek agama).

Pengidolan akan seseorang membuat seseorang berusaha sebisa mungkin menjadi seperti idolanya dan berusaha untuk memiliki semua hal yang mengandung konten idolany tersebut. Ia akan berangsur-angsur menanggalkan kepribadiannya dan kemudian memakai kepribadian 'semu' yang meniru kepribadian idolanya. Tanpa ada kepribadian yang nyata, orang akan menjadi pribadi yang lemah, sosok yang mudah terombang-ambing. Pribadi tersebut tidak akan tahan menghadapi dunia.

Demam Indonesian Idol akan membentuk banyak pribadi yang lemah, yang tidak tahan uji, yang kemudian akan membentuk komunitas yang tidak tahan uji pula. Komunitas ini secara tidak langsung akan turut memperburuk kondisi bangsa. Semakin banyak pribadi yang lemah dalam sebuah negara maka semakin lemahlah negara tersebut.

(Hanya sebuah opini yang sedikit ngawur kemana-mana).

0 comments:

Silahkan tinggalkan komentar anda: