free counters
Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Agustus 2016

Pak Supir, Karyawan, dan Pengusaha

by Unknown  |  in Motivasi at  Senin, Agustus 15, 2016
Ada kata-kata bijak yang mengatakan:
 "Kita dapat belajar dari siapapun, siapa pun dapat menjadi guru kita"
dan kata-kata ini tepat adanya.

Pengalaman saya kemarin malam mengajarkan betapa tepatnya kata-kata tersebut.

Saat itu saya sedang dalam perjalanan pulang ke kost di daerah sekitar padang bulan menggunakan angkot pada kisaran pukul 21:30. Dan saat itu penumpang hanya berjumlah 3 orang. Setelah hampir setengah perjalanan, tinggalah saya sendiri dan pak sopirnya. Dan terjadilah sebuah percakapan:

Pak Supir: Mau kemana bang?
Saya: Simpang pos Pak. (Pembaca yang tinggal di medan kemungkinan besar tahu dimana simpang pos)
Pak Supir: Abang yang kemarin naik yah?
Saya: Gak Pak, gak ada naik angkot kemarin Pak.
Pak Supir: Ohh, ada yang mirip sama abang kemarin.
Saya: (Dalam hati berpikir: Kayaknya awak gak ada naik angkot kemarin lah. Jadi saya berpikir, ternyata laku keras wajah awak di medan ini -- red. awak = saya, bahasa pasarnya medan.)
Pak Supir: Dari mana tadi bang?
Saya: Ngantar pacar Pak. (Inilah uniknya orang medan, yang ditanya dari mana tapi yang dijawab apa yang dilakukan)
Pak Supir: Setia juga yah. (Nah ini lebih hebat lagi. Walaupun dijawab lain dari pertanyaan, tapi tetap bisa dimengerti lawan bicaranya. Orang medan memang mantap)
Saya: Namanya juga pacaran Pak. (Dalam hati berkata: Awak memang setia, bawaan lahir)

...

Saya: Gak ada penumpang yah Pak.
Pak Supir: Iya, tadi aku tolak penumpang di lubuk pakam (Kalau saya artikan ini, saat itu penumpangnya penuh makanya gak diangkut)
Saya: Ohh..
Pak Supir: Nanti bulan 9 baru banyak penumpang.
Saya: ???. Kenapa bulan 9 Pak?
Pak Supir: Disitu mahasiswa masuk, jadi banyak penumpang.
Saya: Ohhhh...
Saya: Biasanya gak ramai hari minggu malam gini Pak?. Kan pulang dari kampung semua.
Pak Supir: Enggak bang, seperti hari biasa penumpangnya.
Saya: Ohh..
Pak Supir: Marga apa bang?
Saya: Sipayung Pak, simalungun.
Pak Supir: Ohh, Sipayung simalungun yah?
Saya: Ada yang simalungun ada yang toba Pak.
Pak Supir: Sama kayak Purba yah, ada simalungun ada juga toba.
Saya: Ada juga Purba Karo Pak.
Pak Supir: (Berbicara, tapi tidak jelas saya dengar karena berisiknya jalanan)
Saya: Bapak orang apa Pak?
Pak Supir: Aku orang jawa, tapi lahir di siantar.
Saya: Ohh..

... (pembicaraan diam beberapa detik)

Pak Supir: Dimana kampung bang?
Saya: Di Langkat, besitang Pak.
Pak Supir: Di medan tinggal di rumah atau kost?
Saya: Kost Pak.
Pak Supir: (Mengiyakan sambil fokus cari penumpang)

...

Pak Supir: Kuliah atau kerja bang?
Saya: Kerja Pak.
Pak Supir: Di mana?
Saya: Center Point Pak.
Pak Supir: Udah lama kerja di situ?
Saya: Baru beberapa bulan sih Pak.
Pak Supir: Berapa gajinya?
Saya: censored (tabu bicara gaji, hahahaha)

...

Saya: Masih jauh perjalanan Bapak yah. Ke pancur batu lagi yah.
Pak Supir: Iya, nanti sampai langsung cuci mobil lalu pulang bang.
Saya: Ohh.. (Mengangguk dan mengiyakan dalam hati)
Saya: Ini mobil Bapak sendiri?
Pak Supir: Iya.
Saya: Enak lah Pak yah, gak perlu lagi bayar setoran.
Pak Supir: Iya bang, kalau pagi sampai sore orang yang bawa. Maghrib saya yang mulai bawa.
Saya: Enaklah Bapak, sudah menerima uang setoran gak menyetor lagi.
Pak Supir: Yah gitu bang. Tapi sampai rumah gak enak juga bang.
Saya: (Bertanya dalam hati, apa yang gak enaknya)
Pak Supir: Sampai rumah gak bisa tidur cepat, paling cepat tidur jam tiga pagi. Menggambar.
Saya: Gambar apa Pak?
Pak Supir: Menggambar untuk proyek bangunan dari kantor.
Saya: Wahhh, hebat Bapak ini yah.
Pak Supir: Kalau hebat masih banyak yang lebih hebat di luar sana bang.
Saya: Setidaknya Bapak lebih hebat daripada saya yang masih menerima gaji dari orang. Bapak udah bisa menggaji orang.
...
...
Akhirnya saya sampai di tujuan, dan terpaksa menghentikan obrolan kami.

Kita lebih sering menutup mata dan berhenti untuk belajar berdekatan dengan orang lain hanya dikarenakan perbedaan pekerjaan. Dan karena itu kita menjadi buta akan kualitas yang dimiliki orang lain hanya karena pekerjaan kita kelihatan lebih berkelas daripada pekerjaan orang lain.

Setiap orang punya sisi positif yang dapat memberikan nilai tambah dalam kehidupan kita. Bahkan dari sisi negatifnya kita pun bisa belajar bahwa setiap orang punya kelemahan. Dan betapa besarnya kelemahan itu, tidak akan pernah menutupi potensi dari diri kita.

Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa kita tidak serta merta dapat menentukan apa kemampuan dari orang lain. Kita tidak dapat mengetahui mutiara yang tersembunyi dari orang lain tanpa kita berusaha untuk mengenal mereka lebih dalam. Dengan mengenal, kita mengetahui bahwa kita ternyata perlu banyak belajar dari orang lain. Ada banyak hal yang tidak bisa kita lakukan namun ternyata orang lain telah melakukannya. Setiap orang bisa menjadi yang ia inginkan. Setiap orang bisa menjadi guru yang baik bagi hidup kita. Setiap orang memiliki bumbu kehidupan yang bisa memberi makna dalam kehidupan kita.

Mari buka mata dan hati. Mari merendahkan diri untuk berusaha mengenal orang lain.


Jumat, 22 Juli 2016

Mempercepat Kualitas Kebasian Nasi

by Unknown  |  in Opini at  Jumat, Juli 22, 2016
Saya mengalami pengalaman yang unik baru-baru ini, yang saya rasa tidak semua orang pernah mengalaminya dan hanya orang-orang terpilih saja yang dapat paham, merasakan, dan menghayati pengalaman ini 8:).

Suatu ketika saya sedang kelaparan. Kebetulan ada nasi yang sebelumnya sudah ditanak di Rice Cooker dengan pemanas (Istilah kerennya: MagicJar). Rupanya setelah saya hendak memakannya, nasi tersebut saya temukan sudah mulai berair dan sedikit berbau. Tetapi masih layak untuk dimakan.

Karena memiliki pengetahuan yang cukup mendalam tentang proses fermentasi pada makanan, timbul ide untuk memanaskannya kembali, tetapi dengan memilih mode masak. Otak saya yang jenius ini berpikir pasti bakteri yang memfermentasikan nasi itu mati kepanasan. Kalau bakterinya mati, berarti nasinya bisa saya makan seperti biasanya.

Setelah menunggu beberapa menit suara "Klik" yang menandakan sudah masak berbunyi. Saya berguman dalam hati "Wah, sudah masak. Waktunya makan". Namun apa daya, setelah saya periksa nasinya ternyata malah jadi basi. Teori jenius saya ternyata salah total. Dan akhirnya saya terpaksa makan nasi basi karena sangat dan terlalu kelaparan.

Satu pertanyaan yang akhirnya muncul di benak,
Apakah hasil pengalaman saya bisa dijadikan basis untuk menerima Nobel Kimia?. Mungkin saja.


Moral Of The Story:

  1. Jangan terlambat makan. 
  2. Jangan suka menunda-nunda. 
  3. Sesuatu yang instan didapatkan cenderung tidak baik. 
  4. Hati-hati kena maag.
  5. Jangan malas.

Kamis, 24 Maret 2016

Sakit hati, kekecewaan, penderitaan, masalah, beban, dan kesulitan hidup

by Unknown  |  in Opini at  Kamis, Maret 24, 2016

Sakit hati, kekecewaan, penderitaan, masalah, beban, dan kesulitan hidup sebenarnya adalah faktor yang sangat penting bagi kehidupan kita. Memang sulit untuk dihadapi tapi perlu dilewati.

Semakin sering kita mengalami hal-hal tersebut, dan berhasil melewatinya, semakin dewasa pula kita. Memang itu semuanya benar-benar menyakitkan, tetapi ironisnya tanpa hal tersebut kita sulit untuk mengerti hal-hal yang bermanfaat bagi hidup kita sendiri.

Seperti halnya rasa sakit, kalau kita pikir sekilas rasa sakit mungkin kelihatan bermanfaat. Apa gunanya rasa sakit? Bukankah perasaan yang menyenangkan itu yang penting?. Contoh sederhana ini mungkin akan membuka pikiran kita:
Coba pikirkan kalau kamu tidak bisa merasakan sakit. Awalnya kelihatan hebat karena kamu tidak perlu lagi kuatir akan sulit dan kerasnya kehidupan. Sekarang bayangkan saat tanganmu kamu arahkan ke api dari sebuah lilin yang menyala. Dengan kondisi tanpa rasa sakit, kamu akan terus meletakkan tanganmu karena tidak ada rasa sakit karena terbakar. Dan jika kamu tidak menjauhkan tanganmu dari api tersebut, maka tanganmu akan terbakar dan bisa jadi cacat permanen. Rasa sakitlah yang menyebabkan kamu menjauhkan tanganmu dari api lilin tersebut. Rasa sakitlah yang menyelamatkan tanganmu.

Ada pepatah yang mengatakan "Pengalaman adalah guru yang terbaik", hal ini hampir sepenuhnya benar. Karena dari pengalamanlah kita belajar untuk menjadi lebih dewasa. Rasa sakit, kekecewaan, penderitaan, merupakan bagian dari pengalaman yang sangat berarti.

Kita bisa mengerti orang lain jika kita pernah mengalami hal yang sama dengan yang orang tersebut rasakan. Rasa sakit mengajarkan kita untuk lebih memahami hidup dan menjaga hidup kita. Rasa sakit menunjukkan kepada kita bahwa sebenarnya kita adalah makhluk yang tidak sempurna yang masih perlu banyak belajar untuk mengerti arti kehidupan yang sesungguhnya.




sumber gambar: https://www.coursera.org/course/chronicpain

Minggu, 06 Maret 2016

Harga diri atau kebahagiaan

by Unknown  |  in Opini at  Minggu, Maret 06, 2016

Harga diri merupakan hal yang terkadang menjadi bumerang bagi kebanyakan orang. Ini dikarenakan sifatnya yang dualisme; yang satu meningkatkan penilaian yang baik pada diri seseorang, dan yang satu lagi meningkatkan penilaian bahwa seseorang itu memiliki martabat yang lebih tinggi dari orang lain. Memang orang yang memiliki harga diri yang tinggi cenderung memiliki kepercayaan diri yang tinggi juga. Dan tentu saja hal tersebut memberi pengaruh positif yang sangat besar bagi perkembangan kepribadian seseorang. Tetapi saat harga diri bergeser menjadi semata-mata bermakna martabat diri yang lebih tinggi dari orang lain, maka sering terjadi pergesekan-pergesekan kepentingan yang malah merugikan.

Memang harga diri itu penting bagi semua orang. Harga diri yang tinggi membantu kita bertumbuh dan membantu perkembangan karakter individu ke arah yang positif. Orang-orang pemenang selalu memiliki harga diri yang tinggi.

Saya termasuk orang yang memiliki harga diri yang tinggi. Saya memiliki harapan yang tinggi dalam kehidupan pribadi. Saya memiliki kepercayaan yang tinggi bahwa saya pasti meraih kesuksesan yang saya mau. Saya memiliki intelegensi dan kemampuan belajar yang tinggi semua berkat harga diri yang tinggi. Sisi buruknya adalah, saya lebih sering keras kepala dan sering terlalu percaya diri akan kemampuan saya. Menganggap pendapat orang lain itu biasa dan tidak berpengaruh merupakan salah satu sifat buruk yang saya miliki. Untung sifat ini sudah berkurang dan sudah mampu untuk saya kuasai.

Dulu saya biasa untuk beradu argumentasi dengan orang lain. Menjadi benar dan menang dalam argumentasi merupakan sebuah keberhasilan bagi saya. Dan yang saya hasilkan kebanyakan hanya kepuasaan sesaat. Menang dalam argumentasi hanya membuat hubungan kita dengan orang lain jadi jauh lebih buruk dari sebelumnya. Saya menang dengan membawa pulang ketidakbahagiaan.

I'd far rather be happy than right any day. Douglas Adams
Kebahagiaan jauh lebih penting daripada sekadar harga diri. Seandainya saya bisa kembali dan memperbaiki hidup saya sebelumnya, maka saya akan selalu berusaha untuk merendahkan diri saya sendiri untuk mendapatkan kebahagiaan. Apakah artinya kita hidup jika kita tidak bahagia?

Sulit untuk memilih antara harga diri atau kebahagiaan ketika keduanya saling bertolak belakang. Keputusan kembali kepada kita, apakah kita sudah cukup dewasa untuk memilih apa yang bermanfaat untuk waktu yang berkepanjangan atau mengikuti keinginan sesaat saja. Saya memilih untuk bahagia.



sumber gambar: Human value & a look at self-worth

Kamis, 03 Maret 2016

Memilih yang terpenting di antara yang menyenangkan

by Unknown  |  in Opini at  Kamis, Maret 03, 2016
Kalau kita dipaksa untuk jujur memilih apa yang terpenting yang kita lakukan dalam hidup kita, mungkin kita sama sekali bingung untuk menentukannya. Banyak hal yang terasa penting di dalam hidup kita. Kebanyakan hal yang menyenangkanlah yang kita anggap merupakan hal yang penting. Ini yang membuat kita sulit untuk tahu apa yang terpenting bagi hidup kita.

Kesenangan yang kita anggap hal yang penting sering malah merupakan hal yang menghambat kita untuk berkembang. Ada beberapa kesenangan penting yang sebaiknya kita batasi seperti:

  1. Berinternet yang berlebihan untuk bersosial media
  2. Menghabiskan waktu di luar untuk sekadar bersantai/rileks
  3. Main Game yang berlebihan
  4. Menonton Televisi
  5. Terlalu banyak berbicara dengan orang lain
Mari kita bahas mengapa kesenangan ini ternyata membatasi hidup kita.



Berinternet yang berlebihan untuk bersosial media

Zaman sekarang ini bisa dikatakan zamannya social media. Hampir setiap segi kehidupan memiliki kaitan ke social media. Bahkan hampir setiap orang yang memiliki perangkat telepon memiliki minimal 2 akun social media. Hampir setiap pengguna smartphone memiliki akun facebook, di mana rata-rata pengguna facebook menghabiskan waktu minimal 1 jam saat mengaksesnya. Bayangkan saja jika setiap orang memiliki 3 akun social media yang berbeda seperti facebook, twitter, instagram. Dengan perhitungan secara kasar, maka seseorang akan menghabiskan waktu minimal 3 jam dalam sehari hanya untuk bersosial media. Dan itu masih perhitungan minimalnya!. Saya saja, yang termasuk dalam pengguna facebook biasa, rata-rata menghabiskan waktu 1,5 jam untuk facebook-an. Bagaimana halnya dengan orang yang kecanduan facebook? Mungkin lebih dari 3 jam sehari bisa dihabiskan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Nicholas Christakis dan James Fowler dalam buku Connected, orang-orang yang terbiasa dengan media sosial memiliki kelemahan dalam hal fokus. Rata-rata mereka tidak akan bisa fokus selama 15 menit. Hal ini dikarenakan mereka sudah terbiasa menerima informasi yang terus menerus dalam waktu yang relatif singkat. Anda dapat dengan mudah membuktikan hal ini. Cobalah Anda perhatikan orang yang sedang bermedia sosial. Mereka hampir tidak pernah bisa bertahan lebih dari 15 menit tanpa melihat smartphone atau gadget mereka untuk mengecek media sosial mereka. 

Tanpa fokus yang baik dalam sebuah hal, hampir mustahil untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam hal tersebut. Atau bahkan kegagalan yang malah didapatkan.

Menghabiskan waktu di luar untuk sekadar bersantai/rileks

Untuk bagian ini saya harus sedikit menjelaskan siapa diri saya, karena setiap orang memiliki biasnya tersendiri. Saya orang yang introvert yang berdasarkan pengertian wikipedia adalah "Introversion is the state of or tendency toward being wholly or predominantly concerned with and interested in one's own mental life", yang mendapatkan kesenangan dari kehidupan pribadi sendiri.

Menurut saya, menghabiskan waktu di luar untuk sekadar rileks sering menunjukkan kemampuan kita yang kurang dalam mengontrol emosi diri. Hal ini seperti kita berusaha mencari penyelesaian hidup dengan berusaha mengelak dari persoalan hidup tersebut. Untuk orang-orang yang tidak memiliki keluarga atau teman yang berada dekat dengan tempat tinggalnya, menghabiskan waktu di luar mungkin cocok bagi mereka. Tetapi bagi yang memiliki keluarga dan teman yang berada dekat, hal tersebut sama dengan mengabaikan hal yang penting dan berarti yang ada di depan kita untuk hal yang menyenangkan dan sementara. Keluarga dan teman dekat itu jauh lebih berharga daripada teman untuk rileks. Mereka lebih tulus mengasihi kita walaupun lebih sering kita tidak menyadarinya.



Main Game yang berlebihan

Saya harus jujur dalam hal ini, saya juga adalah pecandu game yang baru saja bertobat. Di saat saya lagi kecanduan berat, dalam satu hari saya bisa menghabiskan hampir keseluruhan waktu saya dalam satu hari untuk bermain game. Di mana sisa waktunya saya gunakan untuk makan. Tentu saja setelah kelelahan main game saya harus tidur jauh lebih banyak dari biasanya. Bahkan satu hari penuh pun terasa seperti tidak tidur.

Ketika bermain game, kebanyakan pemain game seperti berada di dunia lain. Mereka asyik dengan game dan kehidupan gamenya. Orang-orang di 'luar' seperti tidak ada sama sekali. Mereka terputus dari kehidupan normal sehari-hari. 

Game itu menyenangkan kalau dilakukan secara bersahaja. Tetapi ketika game menggantikan kehidupan kita yang sesungguhnya, maka ia menjadi penghambat perkembangan kepribadian kita. Ia akan menghisap semua waktu kita dan kehidupan kita yang sebenarnya pun akan menjadi berantakan.

Menonton Televisi

Ada baiknya sekali-kali menonton televisi agar kita mendapatkan informasi tentang seputar kehidupan. Namun ada batas kewajaran yang harus kita buat bagi diri kita sendiri. Kecenderungan untuk menonton televisi terlalu sering merupakan hal yang sia-sia, karena yang kita dapatkan bukan lagi informasi yang berharga malah informasi yang tidak berharga seperti iklan-iklan yang muncul di televisi tersebut. Setiap hari dari televisi kita dibombardir dengan ribuan iklan, yang sama sekali tidak bermanfaat bagi hidup.

Orang-orang yang sukses malah tidak suka nonton televisi. Bahkan ada sebuah ejekan yang cukup mengena: 
Mengapa kamu tidak pernah melihat iklan komersil Lamborghini di televisi? Karena orang-orang yang bisa membelinya tidak duduk manis di depan televisi.

Kurangi menghabiskan waktumu dengan menonton televisi.

Terlalu banyak berbicara dengan orang lain

Semakin banyak kita berbicara maka akan semakin banyak kemungkinan kata-kata yang sembrono yang keluar dari mulut kita. Berbicara dengan orang lain memang penting karena dengan berbicara kita membentuk jalinan persahabatan. Tetapi berbicara berlebihan seperti waktu ngerumpi malah akan memberikan efek negatif bagi diri kita dan orang lain. Banyak hal-hal yang seharusnya tidak dibicarakan dengan orang lain, karena merupakan masalah pribadi, malah dibeberkan secara terang-terangan. Dan sering malah kita jadi turut membicarakan masalah orang lain yang kita tidak tahu apa sebenarnya masalahnya.

Bicaralah seperlunya dan tahan lidah kita.

Kesimpulan

Kita harus pintar memilah-milah mana yang baik bagi hidup dan mana yang tidak baik bagi hidup kita. Tidak semua hal yang menyenangkan itu penting. Pilihlah hal yang memberikan dampak positif dalam jangka panjang. Batasi hal yang memberikan kesenangan jangka pendek.


sumber gambar: Why haven't you ever seen a Lamborghini commercial before?

Rabu, 02 Maret 2016

Jadilah diri sendiri, orang lain sudah ada yang memilikinya.

by Unknown  |  in Opini at  Rabu, Maret 02, 2016

Sewaktu saya mencoba mempelajari konsep-konsep yang dipakai orang lain tentang bagaimana pengembangan aplikasi Android yang baik, saya teringat sebuah kalimat yang membuka pikiran saya, yang saya pernah baca dari sebuah buku:
Kami tidak mempunyai waktu untuk memikirkan saingan kami, kami melakukan dan memberikan apa yang terbaik pada pelanggan kami. Memikirkan pesaing kami hanya akan menghabiskan waktu kami untuk memperbaiki kualitas pelayanan kami.

Sedangkan saya saat ini malah menghabiskan waktu untuk mempelajari konsep yang dipakai orang lain. Waktu saya kebanyakan dipergunakan untuk mempelajari dan menjadi pesaing yang ulet dan tekun. Saya belajar menjadi seperti orang lain dan berhenti menjadi diri sendiri. Menjadi seseorang yang sama dengan kebanyakan orang lain dan berhenti menjadi otentik.

Hal yang saya lakukan tersebut malah menjadi penghalang saya untuk berkembang. Saya jadi hanya belajar untuk lebih baik sedikit dari orang lain, mendapatkan posisi di depan orang lain yang menjadi saingan saya saat ini.

Menjadi terdepan dengan bersaing hanya akan membuat saya lebih baik sedikit dari orang lain. Orang-orang yang berhubungan dengan saya hanya akan melihat saya sebagai orang yang memiliki kemampuan yang sama dengan pesaing saya, dengan hanya sedikit memiliki kemampuan di depan. Namun hal ini tidak akan bertahan lama, dan dalam kurun waktu yang panjang keadaan ini malah akan membuat saya tertekan karena selalu harus memperhatikan pesaing saya.

Menjadi otentik dan menjadi diri sendiri merupakan jalan yang terbaik yang bisa saya pilih. Karena setiap pribadi memiliki hal-hal yang istimewa yang tidak dapat ditemukan pada orang lain. Keistimewaan ini yang membuat kita tetap bertahan dan tetap terlihat menawan di hadapan orang lain.

Jadilah diri sendiri, orang lain sudah ada yang memilikinya.

Selasa, 02 Februari 2016

Kepercayaan yang membatasi diri

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Selasa, Februari 02, 2016

Pernahkah anda merasa tidak mampu melakukan sesuatu padahal anda belum pernah mencobanya? Berarti saat ini anda terjebak dalam kepercayaan yang membatasi diri.

Umumnya kita diingatkan akan ketidakmampuan diri kita dalam melakukan hal-hal tertentu. Sering kita dibatasi dengan kata-kata yang membuat kita rendah diri, seperti kata-kata berikut:

  • Kamu Payah
  • Tidak Ada Yang Bisa Kamu Lakukan
  • Kamu Tidak Mampu
  • Kamu Lemah
  • Kamu Tolol
  • Kamu Lamban
  • Kamu Bodoh
  • Kamu Tidak Punya Talenta
  • Kamu tidak Bisa Melakukannya
  • Itu Sulit Dilakukan
  • itu tak mungkin diselesaikan
  • Terlalu susah
  • Terlalu payah
  • Tidak mungkin
  • Mustahil
  • Kamu Pasti gagal
  • Sia-sia pekerjaanmu



Mungkin hampir setiap hari kita mendengar kata-kata tersebut sehingga secara tidak sadar, alam bawah sadar kita merekam dan menyimpannya. Dan ketika kita merasakan kegagalan, maka rekaman dari alam bawah sadar tersebut muncul dan memberikan kita pemikiran bahwa kita sungguh-sungguh seorang yang gagal. Padahal kegagalan sama sekali bukan hal yang permanen. Tidak ada orang yang gagal, yang ada hanya pola pikir yang gagal.

Pola pikir yang gagal ini harus diubah. Kita harus memulai dengan memberikan kata-kata yang positif pada diri sendiri. Daripada mengatakan bahwa Anda lamban, ganti dengan Anda kurang cepat. Jika anda selalu berkata "Aku tidak mampu melakukan sesuatu", ganti dengan "Aku bisa melakukannya, caranya saja yang tidak tepat". Hal ini sama dengan cara pandang anda dalam melihat sebuah gelas yang berisi air. Jika anda mengatakan airnya setengah penuh, maka fokus anda pada kelimpahan yang anda miliki. Jika anda mengatakan airnya setengah penuh, maka fokus anda pada kekurangan yang anda miliki. Anda bisa melakukan banyak hal jika mengubah sudut pandang anda.

Mulai sekarang gunakan kata-kata yang meningkatkan kepercayaan diri anda, seperti kata-kata berikut:

  • Aku bisa melakukannya
  • Aku mampu
  • Ini agak tidak mudah
  • Aku belum menemukan solusinya
  • Aku belum sukses
  • Aku memang sedikit kurang cepat
  • Aku memang kurang cekatan
  • Aku hanya kurang mengerti
  • Aku belum tahu semuanya
  • Ini pasti ada manfaatnya, hanya cara saja yang salah





Ubah kepercayaan yang membatasi diri anda. Tanamkan hal yang baik pada diri anda sekarang.



Sumber gambar: http://breathingprosperity.com/blog/tag/get-rid-of-limiting-beliefs

Senin, 01 Februari 2016

Anda berbeda dari orang lain, Jadilah diri sendiri

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Senin, Februari 01, 2016

Setiap orang punya kemampuannya tersendiri. Ada yang punya kemampuan lebih dalam berkomunikasi. Ada juga yang punya kemampuan untuk beradaptasi secara cepat dengan lingkungannya. Dan ada juga orang yang memiliki kemampuan untuk berpikir cepat. Masing-masing orang memiliki kelebihan tersendiri.

Kalau kita coba mengamati lingkungan sekitar kita, maka kita akan mendapati ada beberapa hal yang sepele menurut kita tetapi bagi orang lain sangat sulit untuk dilakukan. Seperti yang terjadi sama saya, bagi saya mengatur tingkat kecerahan layar komputer sangatlah mudah; tinggal cari settingan saja lalu sesuaikan dengan keinginan. Namun bagi kebanyakan orang, hal ini sepertinya mustahil dilakukan. Sebaliknya, bagi saya sangat sulit untuk berbicara tegas terhadap orang lain, namun bagi beberapa orang hal tersebut amat gampang dilakukan.


Hal ini bukan berarti kita memiliki kemampuan yang lebih rendah dibandingkan orang lain. Tetapi dengan kemampuan dan talenta yang berbeda-beda, kita menjadi orang-orang yang saling melengkapi. Sosialisasi terjadi karena perbedaan dan kemajemukan di antara kita. Tindakan dan kemampuan kita membentuk orang lain dan sekitar serta secara tidak langsung membentuk diri kita sendiri. Apa yang kita berikan akan kembali kepada kita sendiri.

Oleh karena itu, jangan pernah menganggap rendah orang lain. Dan jangan pernah menganggap rendah dirimu sendiri. Kita semua diciptakan secara khusus, masing-masing dengan keunikannya sendiri. Jangan mencoba menjadi orang lain. Jadilah dirimu sendiri.


"To help yourself, you must be yourself. Be the best that you can be. When you make a mistake, learn from it, pick yourself up and move on." Dave Pelzer

Sumber gambar: Be yourself, everyone else is taken

Kamis, 28 Januari 2016

Tujuan tanpa ada rancangan dan usaha sama dengan sia-sia

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Kamis, Januari 28, 2016

Walaupun sudah beberapa buku saya baca tentang pengembangan diri, saya masih saja sering terjebak dengan kebiasaan lama. Salah satu kebiasaan lama yang masih sering muncul adalah harapan bahwa sebuah tujuan bakalan segera tercapai tanpa perlu usaha.

Tidak ada tujuan yang bisa tercapai tanpa adanya usaha dari diri kita sendiri. Semakin besar tujuan yang ingin dicapai maka semakin besar pula usaha yang harus dikerjakan. Hal ini seperti saat kita bermain ayunan, semakin besar tolakan kita maka semakin jauh jarak ayunannya. Juga sama seperti halnya prinsip bertanam padi, untuk mendapatkan padi kita harus menyiapkan bibit, kemudian menyemai bibit, menanam bibit ke sawah, menyianginya, kemudian menunggu sampai padi besar dan menghasilkan bulir padi yang sudah masak, lalu kemudian menyabitnya untuk dipanen. Tidak ada istilah 'seketika' dalam proses menanam padi tersebut.

Rasa Malas
Rasa malaslah yang sering mengikat kita dengan mimpi-mimpi yang tidak masuk akal. Mimpi yang paling sering kemungkinan adalah mendapatkan undian berhadiah, namun hampir mustahil mimpi itu tercapai. Kalu kita lakukan perhitungan dengan hukum probabilitas, dimana rata-rata orang yang ikut undian berhadiah sekitar satu juta orang, maka peluang kita sangatlah kecil. Peluangnya 1:1.000.000, yakni 0,000001%, bahkan tidak sampai 1% !. Boleh saja kita boleh bermimpi yang tinggi, tetapi harus selalu dibarengi dengan kerja keras bukan cuma lamunan sesaat.

Tentu sebagian dari kita berpikir kalau Tuhan berkehendak, maka mukjizat pasti terjadi. Namun marilah kita kembali berpikir, marilah kita melihat pada kehidupan sehari-hari. Apakah kita yang sudah menjadi Ayah atau Ibu mau memberikan anaknya sesuatu tanpa mengajarkan pentingnya usaha? Maukah kita membiarkan anak-anak kita bermalas-malasan tanpa mengerjakan apapun? Atau kita hanya memberi apapun yang diminta mereka tanpa mau bergaul akrab dengan anak-anak kita tersebut? Celakalah kalau Anda seperti itu!. Orang tua yang baik akan memikirkan dan mengajarkan anaknya untuk hidup mandiri. Begitu juga sang Pencipta kita!


Tetapkan Rancangan
Hal ini berkali-kali sudah saya katakan kepada diri sendiri dan sudah sering saya tuliskan berulang-ulang di beberapa artikel sebelumnya. Namun karena sifat alamiah kita untuk melupakan sesuatu, maka baiknya kita terus diingatkan akan pentingnya rancangan.

Untuk mendirikan bangunan yang baik diperlukan rancangan yang baik. Demikian juga hidup kita. Untuk menentukan hidup yang baik maka kita perlu membuat rancangan kehidupan yang baik. Tanpa ada rancangan kita sama seperti orang yang berharap mempunyai padi ada tanpa perlu menanamnya. Demikian juga halnya dengan pekerjaan yang saya lakukan sekarang.

Saya saat ini sedang mengerjakan sebuah program hitung dan sebuah program game di Android dengan tim saya. Tidak mungkin kami mengerjakan program tersebut tanpa ada rancangan yang jelas. Tentu saja rekan satu tim saya akan bingung dan tidak tahu akan mengerjakan apa. Kami butuh rancangan yang jelas.


Kalau kita ingin memiliki hidup yang baik maka kita harus menetapkan rancangan yang baik untuk kehidupan kita, bukan orang lain. Orang lain tidak mengetahui siapa diri kita. Hanya ada dua yang mengetahui, yang pertama adalah Sang Pencipta kita, yang kedua adalah diri kita sendiri. Hanya kita yang mengerti apa yang kita mau. Tentu saja kita butuh orang lain, karena apalah tujuan hidup kita jika kita tidak bisa memberikan sumbangsih bagi kehidupan orang lain?

Tetapkan rancangan hidupmu. Tetapkanlah sekarang!

Selasa, 26 Januari 2016

Berdebat bukan sarana komunikasi yang baik

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Selasa, Januari 26, 2016

Berdebat hampir tidak berguna dalam komunikasi yang baik, karena tujuan debat selalu untuk menunjukkan siapa yang lebih benar dan argumentasi siapa yang paling masuk akal. Dalam komunikasi yang baik, orang hampir selalu tidak ingin direndahkan. Orang lebih menyukai pujian dan merasakan bahwa ia didengarkan. Orang lain lebih menyukai seorang pendengar yang baik.

Seperti yang saya paparkan di artikel "Bersikap Bodoh Itu Pintar dan Bersikap Pintar Itu Bodoh", orang lain tidak suka pada orang yang berlagak pintar. Hal ini jelas-jelas berlawanan dengan prinsip debat, yang menganjurkan kita agar bersikap pintar. Orang lain lebih suka pada orang yang berlagak bodoh, karena orang-orang seperti ini cenderung menjadi pendengar yang baik.

Untuk membentuk hubungan yang baik dengan orang lain lewat komunikasi, sebaiknya selalu hindari debat. Hindari yang namanya merasa diri lebih tahu dari orang lain.


Belajar dari pengalaman sendiri, saya sering kali berkomunikasi dimana saya harus selalu menang bicara. Memang ada kepuasan jika kita menang bicara dengan orang lain. Namun hal ini tidak membantu hubungan kita dengan orang lain. Orang lain tidak suka kalah. Orang lain tidak suka direndahkan. Orang lain selalu ingin dipuji. Hal ini merupakan sifat alami dari manusia.

Mari kita bersikap rendah hati, bersikap bodoh, dan lebih menghargai orang lain. Berhentilah berdebat dengan orang lain.




Sumber gambar: http://www.fairlawnschools.org/Page/4093

Minggu, 24 Januari 2016

Dihantui rasa bersalah

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Minggu, Januari 24, 2016

Pernahkah anda dihantui rasa bersalah terus menerus selama bertahun-tahun? Saya pernah dan saat ini masih terus merasakannya. Rasa ini sangatlah tidak nyaman. Seperti ada yang mengganjal dalam hati. Hidup menjadi tidak tenang.

Jika kita melakukan salah kepada orang lain atau telah menyakiti orang lain, maka sebaiknya kita cepat-cepat memperbaiki kesalahan tersebut dan meminta maaf atas kesalahan yang kita buat. Daripada terus-terusan diihantui kesalahan tersebut.

Meminta maaf agak sulit untuk dilakukan, sehingga kita lebih sering memilih untuk tidak melakukannya dan menyimpan kesalahan di dalam hati. Tetapi di kemudian hari, rasa bersalah itu muncul dan terus mengingatkan kita akan hal yang kita perbuat tersebut.


Sebaiknya, setelah melakukan kesalahan kita langsung saja minta maaf. Lupakan gengsi dan  harga diri. Lupakan kedudukan dan jabatan kita. Minta maaflah segera karena dihantui rasa bersalah jauh lebih menyusahkan hidup.


Lakukan segera apa yang bisa kita lakukan hari ini.




sumber gambar: Get rid of guilt

Hal-hal luar biasa yang tidak bisa dibeli uang

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Minggu, Januari 24, 2016

Uang telah bersama kita lebih dari 10.000 tahun. Uang menjadi bagian utama dalam hidup hingga taraf dimana tanpa uang seakan-akan kita bisa mati. Uang awalnya ditemukan sebagai alat hitung, yang digunakan untuk memperkirakan nilai dari barang-barang dan kepemilikan.

Sebelum uang ditemukan, orang-orang biasa menukarkan barang-barang yang dapat dinilai yang dimiliki lebih, dengan benda yang dapat yang dihitung yang mereka tidak dapat hasilkan, buat, atau tanam.

Ironisnya, ribuan tahun yang lalu orang-orang kesulitan untuk menetapkan nilai tukar standar untuk barang yang bisa dihitung. Namun orang-orang sekarang kelihatan kesulitan dalam membedakan nilai dari sesuatu dengan hal yang tidak ternilai.


Hal terbaik di dalam hidup ini sama sekali gratis. Ada banyak hal dalam hidup kita dimana mata uang tidak memiliki harga; seperti pertemanan, keluarga, dan ingatan yang baik. Uang bukan merupakan hal terpenting karena uang tidak bisa membeli segalanya yang kamu perlukan untuk mendapatkan hidup yang bahagia.

Berikut ini hal-hal yang tidak bisa dibeli uang:
  1. Rasa Hormat Dari Orang Lain
  2. Pengetahuan dan Pengalaman 
  3. Kesehatan 
  4. Cinta 
  5. Kebahagiaan 
  6. Kedamaian hati 
  7. Kesenangan Karena Telah Memenuhi Mimpi-Mimpi 
  8. Teman Baik 
  9. Menciptakan Perbedaan di Dunia
  10. Percaya Pada Diri Sendiri 
  11. Melihat Orang Lain Bahagia 
  12. Jatuh Cinta Pertama Kali 
  13. Menepati Janji 
  14. Reputasi Yang Baik 
  15. Hubungan Dengan Anak 
  16. Cinta dan Perhatian
  17. Kesenangan dan Rasa Puas Hati 
  18. Masa Muda 
  19. Keadilan 
  20. Pikiran yang Terbuka 
  21. Tidak Hidup Dalam Penyesalan 
  22. Rasa Ingin Tahu 
  23. Cinta dan Kesetiaan dari Hewan Peliharaan 
  24. Bangun Pagi Setiap Hari 
  25. Hangatnya Senyuman 
  26. Seseorang yang Tidak Pernah Menyerah Untukmu 
  27. Memaksa Dirimu Mencapai Sesuatu yang Besar 
  28. Kembali Berkumpul Lagi Dengan Seseorang yang Disayangi
  29. Integritas
  30. Umur Panjang 
  31. 25 Jam Satu Hari 
  32. Kenangan yang Indah 
  33. Keluarga yang Hangat dan Bahagia 
  34. Waktu 
  35. Kebahagiaan 
  36. Pikiran yang Baik
  37. Satu hari Tanpa Kuatir
  38. Berhasil Mengatasi Masalah 
  39. Kesempatan Kedua Dalam Hidup 
  40. Apresiasi Terhadap Hal-Hal yang Kecil 
  41. Kepercayaan Dari Orang Lain 
  42. Permintaan Maaf yang Tulus 
  43. Sikap yang Positif 
  44. Keberuntungan 
  45. Kesabaran 
  46. Cinta Sejati 
  47. Talenta 
  48. Indahnya Matahari Diwaktu Terbit dan Terbenam
  49. Waktu Berkualitas Dengan Anak-Anak 
  50. Kebijakan 
  51. Rendah Hati 
  52. Cara Pandang yang Benar 
  53. Waktu Untuk Beristirahat 
  54. Kecantikan Alami 
  55. Menghabiskan Masa Tua Dengan Orang yang Dicintai 
  56. Seseorang yang Menyemangati
  57. Moral yang Baik 
  58. Tujuan Dalam Hidup 
  59. Kerja dan Hidup yang Seimbang 
  60. Anak-Anak yang Berkepribadian Baik
  61. Pendapat yang Jujur 
  62. Teman Naik yang Selalu Ada Untukmu 
  63. Keluarga yang Dapat Diandalkan 
  64. Humor dan Tawa 
  65. Sikap yang Baik 
  66. Seseorang yang Mendukung Mimpi-Mimpimu
  67. Kenangan Indah Saat Masih Sekolah
  68. Pelajaran yang Didapat Dari Saat-Saat yang Sulit
  69. Berpengharapan

Sabtu, 23 Januari 2016

Empati

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Sabtu, Januari 23, 2016

Hampir mustahil bagi kita untuk merasakan penderitaan orang lain jika kita tidak pernah merasakannya. Seorang pria tidak bisa memahami bagaimana rasanya nyeri haid pada wanita, hanya wanitalah yang mengerti. Tidak mungkin kita bisa mengerti rasanya tidak memiliki uang jika seumur hidup kita selalu berkelimpahan. Bagaimana mungkin kita merasakan bagaimana kelaparan jika kita sama sekali tidak pernah kekurangan makanan?

Kita mulai kehilangan empati pada orang lain. Tentu saja, karena umumnya kita terlalu mementingkan diri sendiri dan mengurangi intensitas dalam berhubungan dengan orang lain. Kita hidup untuk diri kita sendiri.

Menjadi seorang yang berhasil dengan mengutamakan kepentingan diri sendiri menjadi hal yang usang sekarang ini. Golden Rule lah yang saat ini membuat kita bisa berhasil. Lakukan apa yang terbaik yang bisa kita lakukan pada orang lain dan lingkungan, maka semuanya itu akan kembali kepada kita berlipat ganda. Egoisme sudah menjadi hal yang kuno dan tidak bermanfaat, altruisme sekarang yang menjadi trend.

Sama seperti hukum fisika Newton di mana ada aksi di situ ada reaksi, seperti itu juga kehidupan kita, disaat kita memberikan kontribusi kepada orang lain dan lingkungan kita, maka secara otomatis orang lain dan lingkungan akan memberikan kembali kontribusi pada diri kita. Dan yang lebih hebatnya, kontribusi kembali yang diberikan orang lain dan lingkungan berlipat ganda daripada yang kita berikan.

Kita harus memberikan yang terbaik yang bisa kita lakukan untuk orang lain. Jangan menahan-nahan potensimu.

Selasa, 19 Januari 2016

Bersikap bodoh itu pintar dan bersikap pintar itu bodoh

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Selasa, Januari 19, 2016

Terkadang berlagak bodoh itu lebih baik daripada berlagak pintar, karena orang yang berlagak bodoh memiliki elemen kejutan karena dianggap sepele oleh orang lain. Berlagak pintar sebaliknya malah memberikan efek buruk karena orang yang berlagak pintar cenderung sok tahu semuanya, dan biasanya orang yang berlagak pintar cenderung memberikan informasi yang berlebihan yang seharusnya orang lain tidak perlu tahu.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa sekalipun kita memiliki kepintaran di atas rata-rata, kita kemungkinan melakukan kesalahan ketika mencoba menyelesaikan sebuah masalah sederhana karena penyimpangan penilaian. Hal ini dikenal sebagai "bias kognitif".

Untuk menghasilkan kesimpulan ini, sebuah tim peneliti dari Universitas Toronto memberikan 482 mahasiswa sebuah kuisoner persoalan bias klasik untuk diselesaikan. Satu contoh pertanyaannya adalah berikut ini:
Sebuah tongkat pemukul dan bola seharga satu dollar dan 10 sen. Tongkat pemukulnya seharga satu dollar lebih dari bolanya. Berapakah harga bolanya?
Jika anda tergesa-gesa, anda mungkin akan menjawab harga bolanya 10 sen. Tidak: harganya 5 sen. Jika anda menjawab salah, berarti otak anda mengambil jalan pintas karena menganggap jawabannya masuk akal, tetapi mengabaikan perhitungan matematikanya. (Jika anda beranggapan tiap orang yang menjawabnya orang bodoh, silahkan dengar faktanya: lebih dari 50 persen mahasiswa Harvard, Princeton, dan M.I.T memberikan jawaban yang salah)

Sok Tahu
Sering sekali kita malah berlagak sok tahu dan akhirnya terperangkap dalam kebodohan sendiri. Kita gagal mengenali kekurangan kemampuan/skill yang dimiliki. Gagal mengenali batasan pengetahuan sendiri. Dan gagal mengenali kemampuan/skill yang orang lain miliki.

Daripada berlagak sok tahu yang malah akhirnya mempermalukan diri sendiri, lebih baik kita diam dan melakukan yang terbaik yang bisa kita berikan tanpa perlu mengumbar-ngumbar kemampuan dan pengetahuan yang kita miliki.



Referensi:
1. Why Smart People Are Actually Dumb
2. Dunning–Kruger effect
3. Dumb is Smart and Smart is Dumb


Sumber gambar: http://tvtropes.org/pmwiki/posts.php?discussion=1316766923044417300&page=3

Uang tidak bisa membeli segalanya

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Selasa, Januari 19, 2016

Saya teringat sebuah frasa dalam bahasa inggris yang kebanyakan mungkin orang tahu:

"Money Can't Buy You Anything"
yang kalau diartikan dalam Bahasa Indonesia menjadi:
"Uang Tidak Bisa Membeli Segalanya"

 Namun kita sering lupa akan perkataan tersebut. Menganggap uang segalanya, berpikir bahwa uang dapat memberikan apa yang kita mau. Kenyataannya tidak semuanya dapat dibeli dengan uang. Uang hanyalah alat pembayaran yang kita buat. Apakah uang menentukan hidup kita? Tentu saja tidak. Mari kita coba merenung, selama ini apa yang sebenarnya kita cari? Apakah kita mencari uang? Apakah kita cuma mencari kebebasan finansial? Lalu setelah itu apa?. Sebenarnya yang kita perlukan bukan uang, tetapi pemenuhan keinginan hati yang dapat dipenuhi oleh uang. Perlu digarisbawahi, tidak semuanya dapat dipenuhi oleh uang.

Saya menemukan sebuah cerita yang mungkin akan memberikan wawasan kita tentang apa yang tidak bisa dibeli oleh uang. Seperti ini ceritanya:

Niko adalah seorang anak laki-laki berumur 10 tahun. Ia anak satu-satunya dari orang tuanya. Ayahnya adalah seorang pebisnis pekerja keras sehingga hampir tidak pernah menghabiskan waktunya dengan anak laki-lakinya. Ayah Niko pulang ke rumah saat Niko telah tertidur, dan meninggalkan rumah sebelum Niko bangun, atau masih tidur sampai Niko pergi ke sekolah. Ayah Niko jarang sekali mempunyai waktu untuk bersama dengan keluarganya. Dia tidak bisa menemani Niko maupun keluarga. Sama seperti anak laki-laki lainnya, Niko ingin bermain di luar rumah bersama Ayahnya dan bersenang-senang dengannya. 
Suatu hari, Niko sangat terkejut dan gembira melihat ayahnya di rumah pada sore hari.
"Ayah, suatu kejutan besar melihat ayah ada di rumah" kata Niko.
"Iya nak, meeting ayah dibatalkan dan penerbangan ayah selanjutnya tertunda 2 jam. Jadinya ayah di rumah", jawab ayahnya. 
Percakapan Niko dan Ayahnya:
Niko: "Yah, boleh aku nanya?"
Ayah: "Ya nak, silahkan."
Niko: "Kapan ayah kembali lagi?"
Ayah: "Besok sore."
Niko: "Yah, berapa penghasilan ayah setahun?"
Ayah: "Sayang, jumlahnya sangat besar, kamu pasti tidak akan memahaminya."
Niko: "Ok yah, Ayah senang dengan jumlah pendapatan itu?"
Ayah: "Iya sayang. Ayah sangat senang, bahkan ayah berencana meluncurkan kantor cabang baru dan bisnis baru dalam beberapa bulan. Luar biasa kan?"
Niko: "Iya yah. Niko senang mendengarnya."
Ayah: "Jadi nak, kamu masih punya pertanyaan lainnya?"
Niko: "Ada yah, aku punya satu pertanyaan lagi."
Ayah: "Ya, tanya lah!"
Niko: Yah, Ayah gak mau memberi tahu berapa banyak penghasilan ayah setahun atau sebulan. Tapi maukah ayah beri tahu berapa penghasilan ayah sehari atau setengah hari?
Ayah: "Kenapa Niko nanyanya gitu? Ayah kan sudah mencukupkan semua kebutuhan Niko."
Niko: "Bukan itu maksud Niko yah, Ayah selalu memberikan yang terbaik untuk Niko, tapi Niko senang kalau Ayah beri tahu berapa pendapatan Ayah satu jamnya."
Ayah: "Nak, itu gak adil. Niko harusnya gak boleh mempertanyakan penghasilan ayahnya sendiri." 
Niko lalu meminta dukungan Ibunya agar mendukung pertanyaan ke Ayahnya tadi. 
Niko dan Ibunya meminta jawaban tentang berapa pendapatan Ayahnya perjam, atau pendapatan hariannya. 
Ayah Niko menjawab pertanyaan tersebut, pendapatannya sekitar Rp. 500.000 per jam. 
Niko berlari ke kamarnya, dan datang dengan membawa celengan yang berisi tabungannya. 
"Yah, Niko punya uang Rp. 1.500.000 di celengan ini. Bisakah Ayah menyediakan waktu 3 jam untuk Niko? Niko mau pergi ke pantai dan makan malam bersama Ayah besok malam. Maukah Ayah memasukkannya ke jadwal Ayah?" Kata Niko. 
Ayah Niko terdiam seribu bahasa!




Inti dari cerita di atas adalah:
Mengejar uang membuat anak-anak kehilangan kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya. Uang tidak bisa membeli segalanya.




referensi:
Money Can’t Buy Everything
Father Son Conversation

Jumat, 15 Januari 2016

40 Hal yang menyebabkan kita gagal

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Jumat, Januari 15, 2016

Berdasarkan pengalaman gagal saya yang cukup banyak dan lama dan keinginan untuk menolong orang lain, saya merasa cukup layak untuk membagikan hal yang menyebabkan kegagalan bagi Anda agar tidak turut merasakan sakitnya kegagalan.

Kegagalan memang sesuatu yang harus dirasakan setiap orang yang ingin berhasil, karena kegagalanlah yang membuat kita terus berusaha. Namun bukan berarti kita harus mengulang-ulang kegagalan berkali-kali. Ada kegagalan yang diperlukan, ada juga kegagagalan yang sia-sia. Saya di sini membagikan pengalaman saya agar Anda tidak perlu melewati kegagalan yang sia-sia.

Berikut adalah daftar dari 40 hal yang dapat menyebabkan kita gagal mencapai tujuan, visi, dan cita-cita:

  1. Tidak disiplin
  2. Lambat
  3. Suka menunda-nunda
  4. Tidak punya cetak-biru (blueprint) yang jelas akan hal yang ingin dicapai
  5. Tidak spesifik dalam menentukan tujuan yang ingin dicapai
  6. Tidak bekerja keras
  7. Tidak semangat
  8. Kehilangan fokus
  9. Melakukan hal yang tidak penting (seperti main game berlebihan) sehingga menghabiskan waktu yang berharga
  10. Tidak memiliki kalender kerja yang baik dan ketat
  11. Tidak terorganisir
  12. Gampang dipengaruhi emosi
  13. Tidak konsisten
  14. Tidak punya waktu kapan tujuan harus tercapai
  15. Cepat putus asa
  16. Tidak memiliki teman berbagi
  17. Tidak memiliki Master Mind (orang-orang yang memiliki tujuan yang sama) dalam mencapai tujuan
  18. Gampang dipengaruhi keadaan
  19. Tidak menentukan 'milestone' untuk hal yang perlu dicapai/diselesaikan dalam waktu yang singkat (Seperti dalam tempo harian, mingguan, atau bulanan)
  20. Tidak percaya diri/rendah diri
  21. Tidak memiliki pola pikir yang benar
  22. Tidak belajar dari kesalahan yang sebelumnya
  23. Tidak memiliki catata sejarah yang lengkap mengenai kegagalan dan keberhasilan yang dicapai di masa lalu
  24. Tidak belajar dari orang-orang yang sudah berhasil di bidang yang sama yang saat ini dikejar untuk dicapai
  25. Memiliki pasangan yang tidak mendukung tujuan
  26. Tidak menjaga kesehatan dengan berolahraga yang baik
  27. Kaku atau tidak fleksibel dalam menggunakan cara yang dipakai untuk m encapi tujuan
  28. Tidak memiliki iman yang kuat
  29. Ragu-ragu
  30. Terlalu muluk-muluk menentukan tujuan tanpa terlebih dahulu menilai apakah tujuan tersebut mungkin dicapai atau tidak
  31. Tidak melakukan perhitungan kemampuan diri (Self Assessment)
  32. Tidak mengejar tujuan yang sesuai dengan diri atau hobby
  33. Salah menilai tujuan yang sesungguhnya dengan menganggap uang adalah tujuan utama
  34. Tidak menerima nasihat orang yang lebih berpengalaman
  35. Terlalu memasukkan dalam hati kata-kata orang yang tidak membangun
  36. Tidak mencari tahu ilmu yang berkaitan dengan tujuan yang ingin dicapai
  37. Tidak bertanggung jawab
  38. Tidak ada motivasi
  39. Berpikiran sempit atau tidak berpikir global
  40. Tidak memanfaatkan dan membangun jaringan sosial


Semoga pengalaman saya membantu. 

Selasa, 12 Januari 2016

Bayi tidak pernah merasa gagal

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Selasa, Januari 12, 2016

Kita sebaiknya kembali memiliki sifat seorang bayi yang baru belajar berjalan. Bayi memiliki kegigihan yang tinggi. Meskipun berkali-kali gagal saat mencoba berjalan, dia tidak pernah sekalipun merasa lelah untuk mencoba. Sakit dan luka sepertinya tidak dirasakan, hanya fokus pada usahanya untuk dapat berjalan. Tidak ada istilah kegagalan dalam pikiran seorang anak bayi.

Sebagai orang dewasa, kita sudah kehilangan kegigihan tersebut. Kegagalan sepertinya menjadi sesuatu yang sangat mengerikan. Gagal menjadi hal yang permanen dalam hidup kita ini. Mungkin karena kita terlalu fokus pada kegagalan bukan pada tujuan yang ingin dicapai. Atau barangkali kita dalam proses kedewasaan malah menjadi semakin berpikiran sempit?

Kegagalan menjadi permanen saat kita berhenti berusaha. Seorang anak bayi tidak akan berhasil berjalan jika ia berhenti berusaha. Tidak ada dalam pikirannya kegagalan yang permanen, yang ada hanya kepercayaannya bahwa ia pasti bisa berjalan.


Juga hal yang membuat kita gagal adalah karena kita berhenti percaya dan menerima saja kenyataan bahwa kita tidak bisa berbuat apa-apa.

Pilihan ada di tangan kita; Percaya bahwa kita mampu melakukan dan mampu melewati rintangan kegagalan ataukah memilih untuk menerima kenyataan bahwa kita tidak memiliki potensi apapun untuk berhasil.

Ingatlah! bahwa kamulah yang menentukan masa depanmu, bukan orang lain.


1. Miliki Kepercayaan Pada Diri Anda
2. Kesadaran Bahwa Saya Memiliki Potensi Berhasil
3. mengapa saya terus-terusan gagal
4. Cintailah Dirimu Sendiri
5. Mengakui kelemahan diri
6. Saya orang gagal, saya tidak bisa melakukan apa-apa
7. Banyak masalah? Berhentilah memikirkannya



sumber gambar: You Don’t Need Therapy, You Are A Baby

Senin, 11 Januari 2016

Mengubah Banyak Hal Sekaligus = Gagal

by Unknown  |  in Opini at  Senin, Januari 11, 2016
Saya baru sadari ternyata yang membuat perubahan pada karakter yang kita lakukan tidak terjadi adalah karena kita terlalu banyak merencanakan perubahan dalam satu waktu. Saya ambil contoh dari diri saya sendiri biar lebih fair; saya merencanakan untuk mendisiplinkan diri, berubah menjadi orang yang sabar, mengubah kebiasaan terlalu banyak bicara, mengubah kebiasaan tidak fokus, mengubah pola tidur yang sesuai dengan kerja yang saat ini saya lakukan, dan sebagainya. Apakah anda melihat apakah kelemahan dari rencana perubahan saya? Ya!, tepat sekali, saya TERLALU BANYAK ingin menyelesaikan satu masalah sekaligus. Mengapa begitu? karena kita umumnya tidak bisa melakukan banyak hal sekaligus dalam satu waktu. Terlalu banyak masalah yang ingin diselesaikan sekaligus malah akan menambah masalah lain. Semakin banyak dan semakin banyak masalah akan terkumpul.

Saya mendapatkan bahwa kita tidak akan bisa mengubah banyak hal sekaligus. Tetapi satu demi satu. Sama dengan laser yang terfokus, demikianlah kita akan mengubah satu hal jika kita fokus pada hal tersebut.

Selesaikan satu hal dulu baru lanjut ke hal yang lainnya.

Minggu, 10 Januari 2016

Berserahlah disaat kamu lelah

by Unknown  |  in Opini at  Minggu, Januari 10, 2016

Mungkin kata berserah bagi kita seperti sebuah kekalahan. Ternyata dibalik rasa berserah, kita dilepaskan dari beban pikiran. Bukannya malah dilemahkan malah semakin dikuatkan.

Adakalanya kita harus memilih untuk berserah disaat semuanya kelihatan tidak mungkin. Disaat semuanya kelihatan mustahil dan mengalami jalan buntu, tidak ada pilihan lain lagi selain berserah. Kekuatan muncul disaat kita berserah karena disaat berserah keseluruhan tubuh menjadi rileks dan beban pikiran hilang. Pikiran yang jernih kita dapatkan kembali. Daya juang yang sebelumnya hilang kembali diisi.

Berbeban berat?
Kadang tidak disadari bahwa beban pikiran yang kita pikul terasa berat karena kita memilih untuk berserah. Kita terlalu fokus pada penyelesaian masalah yang semakin hari semakin memperberat beban pikiran. Otak semakin jenuh. Otak menjadi semakin lambat karena daya pikirnya dan kerjanya terganggu oleh pikiran-pikiran yang seharusnya tidak selalu hadir di dalam otak. Otak kita perlu istirahat. Otak kita perlu waktu untuk memperbaiki dirinya. Tetapi nyatanya kita terlalu sombong dan terus memaksa kerja otak yang telah jenuh. Kita sering berpikir bahwa semakin banyak tugas, pekerjaan, dan pikiran yang melekat pada diri menunjukkan kita lebih hebat dari orang lain. Lihat saja di sekitar kita, masyarakat lebih menghargai orang yang sibuk, orang yang punya banyak pekerjaan, orang yang bisa disebut workaholic. Kita menjadi orang-orang yang menganggap rendah dan tidak berharganya waktu untuk bersantai. Seolah-olah waktu itu diciptakan hanya untuk bekerja.

Jika beban hidupmu terasa berat dan menyesak, berhentilah. Hentikan kegiatanmu. Hentikan egomu. Berhentilah berpikir bahwa kamu mampu berdiri sendiri dengan kekuatanmu. Berserahlah kepada Penciptamu. Sebab Ia tahu apa yang kamu perlu. Sebab Ia tahu kamu memerlukan istirahat bagi kesegaran tubuhmu. Ia mengerti dirimu jauh lebih baik daripada dirimu sendiri. Ia akan memberikan jalan yang terbaik jika kamu berserah penuh kepada-Nya.



sumber gambar: www.tumblr.com

Jumat, 08 Januari 2016

Lingkungan dan kata hati

by Unknown  |  in Opini at  Jumat, Januari 08, 2016

Sering kita lupa akan hal penting yang perlu kita lakukan, malah memprioritaskan hal yang menyenangkan untuk dikerjakan terlebih dahulu. Akibatnya, hal yang penting tersebut gagal diselesaikan dengan baik.

Sadar atau tidak sadar, kita sering diingatkan akan hal penting yang perlu kita selesaikan. Lingkungan sekitar kita sepertinya punya cara untuk mengingatkan kita sebagai penghuninya untuk melakukan apa yang penting bagi hidup kita. Namun sering sekali kita tidak memperdulikannya.

Kata hati kita pun sering menjadi salah satu pengingat yang paling sering dan getol untuk mengingatkan kita akan prioritas yang harus dilakukan di dalam hidup. Tetapi tetap saja, karena kekerasan hati kita atau mungkin karena kebiasaan untuk meniadakan kata hati, kita sering mengabaikan petunjuk yang diberikan oleh kata hati.

Mungkin kita seperti dilupakan dan diabaikan di dunia ini, tetapi sesungguhnya masih banyak yang peduli dan memperhatikan kita. Mungkin kita merasa sendirian dan kesepian, tetapi sebenarnya bukan kesepianlah yang sebenarnya terjadi karena yang terjadi adalah kita meniadakan diri kita sendiri, meniadakan hati kita sendiri, meniadakan petunjuk yang biasanya kita terima untuk mengarahkan kita menuju hal yang berharga dan bermanfaat bagi hidup.

Manusia dan hewan sama-sama dibekali oleh insting alami yang berguna dalam bertahan hidup. Hewan senantiasa mendengarkan insting, kata hatinya, tetapi kita manusia malah mengabaikannya. Kita cukup sombong untuk hidup tanpa bantuan kata hati.

Marilah kita memulai untuk rendah hati dan kembali mendengarkan kata hati yang telah lama kita abaikan.




Sumber gambar: Sebagai Wirausaha, Apakah Anda Sudah Menggunakan Insting?