free counters
Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Motivation. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivation. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Januari 2016

Komunikasi, Berikan pujian yang tulus

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Jumat, Januari 01, 2016
Ada satu hal yang sering kita lupakan sebagai cara berkomunikasi, pujian yang tulus untuk orang lain. Kita sering lupa untuk memberikan pujian yang tulus pada orang lain, sebaliknya selalu ingin dipuji orang lain. Ini merupakan sifat alami yang dimiliki manusia, keinginan untuk dipuji. Sayangnya tidak semua orang suka memuji, bahkan kalau bisa dibilang sangatlah sulit untuk menemukan orang yang memuji orang lain dengan tulus.

Kalau kita berusaha untuk jujur, kebanyakan dari kita sesungguhnya cukup egois. Kita sering mengharapkan pujian dari orang lain tanpa pernah berusaha untuk memuji orang lain. Karenanya, banyak komunikasi yang baik tidak terjalin hanya karena tidak adanya pujian yang tulus.

Setiap orang senang untuk dipuji. Hampir setiap orang senang dengan orang yang suka memuji. Oleh karena itu, jika kita ingin berkomunikasi dan dekat dengan orang lain maka pujian merupakan sesuatu yang wajib kita lakukan. Karena orang yang dipuji merasa dia berharga, Ia mendapatkan energi positif dari pujian orang lain.

Pujian yang tulus itu sangat berharga. Tetapi pujian yang mengada-gada merusak. Orang senang dengan pujian yang jujur dan tulus bukan dengan kebohongan.

Minggu, 01 November 2015

Waktu Untuk Menunggu

by Unknown  |  in Opinion at  Minggu, November 01, 2015
Pernahkah kita sadar bahwa banyak waktu yang telah terbuang saat kita menunggu? Pernahkah terpikir mempergunakan waktu tersebut untuk sesuatu yang lebih bernilai bagi hidup kita?

Bisa dikatakan tiada hari bagi kita tanpa menunggu. Baik kita sadari atau tidak sadari, menunggu sudah menjadi bagian dari hidup. Saat kita menunggu acara telivisi kesenangan, menunggu waktu pulang dari tempat kerja, menunggu keluarnya gaji, saat menunggu jawaban teman dari media sosial melalui aplikasi seperti BBM, Whatsapp, Line, dan sebagainya, menunggu menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan saat akan berangkat kerja, dan menunggu-menunggu yang lainnya. Bahkan saya sendiri saat akan menulis tulisan ini harus menunggu proses loading dari blogger yang memakan waktu lebih dari 5 menit dikarenakan jaringan internet yang tidak stabil.

Bayangkan jika setiap kita menunggu diperlukan waktu minimal 5 menit. Maka jika dalam satu hari tersebut kita menunggu beberapa hal (ini hanya imajinasi saya tentang orang kebanyakan) seperti: menunggu makanan untuk sarapan pagi, menunggu angkot untuk berangkat kerja, menunggu angkot sampai ke tempat kerja, menunggu jam makan siang, menunggu kerjaan selesai, menunggu jam pulang kerja, menunggu makan malam. Dari 7 penungguan ini, maka kita telah menghabiskan 5 x 7 menit, 35 menit waktu kita dalam satu hari. Coba tambahkan daftar penungguan Anda yang lain, maka Anda akan menemukan bahwa banyak sekali waktu yang dihabiskan untuk sekadar menunggu.

Waktu yang tidak terpakai ini bisa kita manfaatkan untuk hal-hal lain seperti membuat daftar rencana hidup, membaca buku, atau bisa juga mengisi pikiran kita dengan berpikir yang positif dan bermanfaat bagi hidup.

Senin, 12 Oktober 2015

Jangan sakit hati pada orang yang marah

by Unknown  |  in Personal Building at  Senin, Oktober 12, 2015

Kalau orang marah kepadamu apa yang kamu lakukan? Kemungkinan besar kamu juga akan marah padanya; ikut-ikutan marah dan memarahinya atau menyimpan amarah di dalam hatimu. Kedua pilihannya sebenarnya adalah sama cuma cara penyampaiannya saja yang berbeda.

Seperti slogan "Buanglah Sampah Pada Tempatnya", marah pun harus disalurkan pada tempatnya. Ada kalanya kita patut marah seperti disaat kita melihat orang yang melakukan penyiksaan pada orang lain, atau saat kita melihat ketimpangan sosial di masyarakat, atau disaat kita merasakan ketidakadilan yang terjadi pada orang-orang di sekitar. Ada juga saatnya kita tidak patut marah seperti saat kita dihardik karena melakukan kesalahan. Marah merupakan salah satu bagian hidup manusia yang penting.

Perlukah Marah?
Namun apakah kita sebaiknya marah? Mari kita selidiki saat-saat amarah meliputi pikiran kita. Saat kita marah, kita cenderung tidak bisa berpikir jernih dan sering melakukan hal yang tidak perlu. Amarah menguasai dan selalu ingin meluapkan seluruh kekesalan yang ada di dalam hati saat itu juga. Ketika amarah menjadi pemimpin pikiran, maka hal baik yang biasa kita lakukan pun hilang digantikan dengan hal yang jahat.

Orang yang sedang marah sering disamakan dengan orang yang sudah gila. Orang gila sembarang melakukan apapun tanpa memikirkan apa konsekuensinya, demikian juga orang yang marah ia akan cenderung melakukan apapun untuk memuaskan amarahnya tersebut.

"Sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah." Yakobus 1:20
Seperti kutipan ayat alkitab di atas, amarah tidak akan mengerjakan hal yang baik bagi hidup kita. Amarah hanya berfungsi untuk memuaskan emosi manusia, lebih dari itu tidak ada. Jangan memilih untuk marah tetapi pilihlah untuk berhenti marah.


Sakit Hati Pada Orang Yang Marah
Kecenderungan yang terjadi pada saat kita berhadapan dengan orang yang marah adalah kita terbawa emosi dan ikutan-ikutan marah. Tentu saja hal ini tidak bermanfaat sama sekali, karena bukannya menyelesaikan masalah penyebab marah orang tersebut malah kita menambah masalah lain. Sebaiknya kita tidak terpancing untuk marah, kemudian kita berusaha mencari tahu apa penyebab orang itu marah.

Bisa dikatakan saya adalah orang yang terlalu sensitif terhadap sikap orang lain, terutama amarah orang lain. Terkadang amarah saya jauh lebih besar dari amarah orang yang memarahi saya. Memang sepertinya ada rasa terpenuhi saat saya diliputi rasa marah. Namun ternyata bukan karena amarah itu memberikan hal yang berarti, malah sebenarnya kepuasan yang saya terima adalah rasa puas karena bisa marah. Amarah saya dipuaskan oleh rasa marah bukan hati saya yang dipuaskan. Setelah saya marah apa yang saya dapat? Malah semakin banyak masalah dan kemudian penyesalan karena sudah menyakiti orang lain dengan amarah, yang tentu saja sudah terlambat datangnya.

Kebanyakan orang tidak ingin marah dan tidak suka marah. Tetapi masalah pribadi, kantor, keluarga, atau keuangan, sering memicu orang untuk marah. Karena itu, ketika seseorang marah pada kita sebaiknya kita berusaha mengerti dan memakluminya sebab mungkin saja ia marah karena masalah di kantornya terlalu berat, atau bisa saja ia sedang mengalami hari yang buruk dalam hidupnya, atau saat itu ia sedang memiliki masalah dengan suami atau istri atau anak-anaknya. Jangan ikut marah dan berusahalah untuk mengerti mereka.

Amarah bisa diatasi jika kita mau untuk mencoba. Amarah bukan tuan atas diri kita tetapi kitalah yang berkuasa atasnya.



sumber gambar: https://andrewberg.wordpress.com/2015/06/03/three-ways-to-battle-anger/

Jumat, 09 Oktober 2015

Mengakui kelemahan diri sendiri

by Unknown  |  in Personal Building at  Jumat, Oktober 09, 2015
 Kenali musuhmu, kenali dirimu, maka kamu dapat berperang dalam ratusan pertempuran tanpa kemalangan. Sun Tzu

Mengenali diri itu merupakan hal mendasar yang kita perlukan untuk berkembang. Mengenali diri itu penting bagi perkembangan hidup ke arah yang lebih baik. Kita dapat mengetahui apa-apa aja hal yang baik dari pribadi kita, apa-apa saja yang tidak baik yang kita miliki. Kita bisa mengetahui sifat apa yang harus dipertahankan serta sifat apa yang seharusnya digantikan dengan yang lebih baik.

Kita harus jujur terhadap diri sendiri agar mampu melihat siapa diri kita ini. Bahkan jujur akan kelemahan dan kekurangan yang ada pada diri. Jujur bahwa sebagai manusia kita memiliki banyak kekurangan dan juga kelebihan dari orang lain.

Setiap manusia memiliki kelemahan di dalam hidupnya. Memiliki kelemahan bukan berarti kita gagal sebagai seorang manusia. Malah kelemahan sebenarnya merupakan hal penting yang membuat kita menjadi sosok yang dapat bersosialisasi dengan orang lain. Karena kelemahan membuat kita mengerti orang lain dan membuat kita memiliki keinginan untuk berhubungan dengan orang lain dan saling menguatkan. Kelemahan kita akan diseimbangai oleh kekuatan orang lain.

Dengan mengetahui kelemahan diri dan mengakuinya maka kita akan menjadi pribadi yang terbuka akan perubahan. Karena hanya dengan cara inilah kita akan mencintai hidup kita apa adanya. Pengakuan akan kelemahan diri berarti menerima hidup kita seutuhnya. Menerima bahwa kita adalah makhluk yang tidak sempurna. Kemudian dari sinilah kita akan memulai perubahan pribadi ke arah yang lebih baik.

Lemah bukan berarti kalah.

Baca juga:
1. Miliki Kepercayaan Pada Diri Anda
2. Kesadaran Bahwa Saya Memiliki Potensi Berhasil
3. mengapa saya terus-terusan gagal
4. Cintailah Dirimu Sendiri


referensi kutipan: https://en.wikiquote.org/wiki/Sun_Tzu
sumber gambar: http://www.clipartpanda.com

Kamis, 08 Oktober 2015

Perkataan Motivator Tidak Akan Mengubah Anda

by Unknown  |  in Personal Building at  Kamis, Oktober 08, 2015

Mungkin pembaca akan merasa aneh jika membaca judul artikel ini. Mengapa saya yang getol menulis artikel yang memotivasi diri saya dan orang lain malah mengatakan Motivator tidak akan mengubah diri kita?. Jadi apa sebenarnya yang dapat mengubah diri kita?

Saya bukan orang yang membenci motivasi dan motivator, malahan saya sangat gemar dengan motivasi dan punya visi ke depan menjadi seorang motivator yang jujur dan berbicara berdasarkan pengalaman pribadi saya yang nyata, bukan sekadar pengalaman orang lain yang saya dapat dari buku. Motivasi itu penting dan baik. Tetapi motivasi yang kita terima dari motivator tidak akan bertahan lama. Motivasi tersebut hanya mengubah kita sesaat. Dan ketika masalah terus-menerus datang, kita akan kembali pada pola hidup kita yang lama dan menganggap motivasi yang kita terima itu hanya merupakan impian semata dan hanya segelintir orang yang mampu menerima manfaatnya.


Mengapa Motivasi Tidak Bertahan Lama
Motivasi punya kemampuan untuk membuka wawasan tentang peluang dan potensi yang ada pada diri kita.Tetapi karena motivasi berasal dari faktor eksternal, yakni motivator, maka hal tersebut tidak akan bertahan lama. Motivator itu sama halnya dengan seorang pelatih yang baik di dalam sebuah tim sepakbola. Tiap anggota tim akan memiliki semangat dan kepercayaan yang tinggi dikarenakan motivasi dari pelatih. Semakin pelatih bersemangat maka semakin bersemangat pula. Tetapi di saat musim pertandingan berakhir dan pelatih harus kembali ke kampung halamannya, maka semangat dan kepercayaan tim pun ikut pergi bersama pelatih. Motivasi yang diberikan pelatih tidak melekat pada pemain karena para pemain mengandalkan pelatih dalam hal tersebut. Semangat dan percaya diri yang tinggi lalu hilang dan digantikan dengan semangat dan percaya diri lama yang dimiliki para pemain.

Kita tidak bisa mengandalkan faktor eksternal untuk memberikan kita semangat dan kepercayaan diri. Faktor eksternal tidak bertahan lama. Dengan bergantung pada faktor eksternal berarti kita melepaskan tanggung jawab yang harus kita miliki untuk diri kita sendiri.

Memotivasi Diri Sendiri
Untuk mengubah diri, kita harus menjadi "motivator" diri kita sendiri. Untuk itu, kita perlu untuk senantiasa memberikan kata-kata yang membangun diri. Membangun kepercayaan diri kita dari dalam. Kita perlu "berbicara" pada diri sendiri dan memberikan kata-kata yang membentuk pola pikir yang benar. Berhenti mengatakan bahwa kita tidak mampu. Berhenti mengatakan bahwa kita akan jadi lebih baik nantinya. Tetapi mulailah mengatakan pada diri sendiri bahwa kita orang yang bersemangat dan penuh percaya diri. Dan selalu berbicara kepada diri sendiri bahwa kita ini berharga dan layak untuk hidup lebih baik.

Motivator dan motivasinya itu perlu. Motivasi dari faktor eksternal itu penting untuk memberikan kita semangat di awal. Tetapi faktor yang menentukan adalah faktor internal, yakni diri kita sendiri. Kitalah yang menentukan apakah motivasi itu penting dan layak bagi kehidupan dan perkembangan pribadi yang kita jalani. Kitalah yang mengambil keputusan untuk hidup yang kita jalani. Motivator dan motivasi hanyalah penggerak awal.




sumber gambar: http://writetojoncook.org/2015/05/04/cant-create-motivation/

Selasa, 06 Oktober 2015

Saya orang gagal, saya tidak bisa melakukan apa-apa

by Unknown  |  in Personal Building at  Selasa, Oktober 06, 2015
Kecelakaan Kereta Api di Montparnasse, Prancis (1895).

"Saya orang gagal"
"Saya tidak bisa melakukan apa-apa"

Kebanyakan dari kita sudah tidak asing lagi dengan kedua kalimat di atas. Dan sepertinya kalimat tersebut sudah menjadi gambaran hidup kita dimana kegagalan terus menerus datang dan merenggut kebahagiaan yang seharusnya kita dapatkan. Hidup tidak adil karena telah menetapkan jalan hidup yang terlalu berat dan menekan bagi diri kita. Tuhan tidak adil!

Saya tahu betapa beratnya menjadi orang gagal, saya tahu perasaan orang yang sepanjang waktunya selalu dihinggapi perasaan tidak berharga. Saya pernah berada di posisi tersebut dan bahkan saat ini saya sedang berjuang untuk mengurangi pengaruh buruk dari perasaan tidak berharga ini. Saya cukup beruntung tidak memilih cara singkat seperti bunuh diri yang telah dipilih oleh orang yang tidak beruntung. Saya juga cukup beruntung karena tidak senantiasa gagal dimana ada orang yang sepertinya memiliki bakat untuk gagal. Kegagalan itu sangat menyakitkan dan sering sekali merenggut hidup dan waktu kita yang berharga. Kegagalan itu menyedihkan.

Setiap orang setidaknya pernah gagal dalam hidupnya. Namun setiap orang memiliki tanggapan yang berbeda dalam menghadapi kegagalannya. Ada yang merasa kegagalan itu mutlak merusak kehidupan, tetapi ada juga yang merasa kegagalan itu merupakan bagian dari hidup. Dan ada juga orang yang merasa bahwa kegagalan adalah hidup itu sendiri.

Gagal Adalah Cara Pandang
Gagal itu bukan berarti akhir dari hidup ini, tetapi gagal akan menjadi awal dari kematian jika kita memilih untuk mengakhiri hidup karena kegagalan tersebut. Gagal itu memang tidak indah malah cenderung membuat kita merasa berharga, membuat kita kehilangan kepercayaan dan bahkan kehilangan harapan. Kegagalan sering membuat kita berhenti untuk berusaha melakukan sesuatu yang sebenarnya bisa kita lakukan.

Apakah sebenarnya gagal itu? Gagal itu bukan sebuah pribadi, bukanlah sebuah benda atau materi yang bisa kita pegang. Gagal sebenarnya merupakan persepsi kita terhadap sesuatu hal yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Kegagalan adalah hasil pemikiran kita sendiri. Kita menilai, merasa, menimbang, dan menentukan sesuatu itu gagal dengan perasaan. Apakah kita bisa tahu gagal itu apa tanpa merasakannya? tentu tidak bukan?.

Kita memilih untuk merasa gagal.

Jadi, Mengapa Saya Merasa Gagal?
Kita tidak dilahirkan untuk gagal. Kita semua dilahirkan untuk sebuah tujuan dan gagal bukanlah tujuannya. Tetapi sayangnya, tujuan hidup kita menjadi semakin kabur dan semakin kabur seiring bertambah dewasanya umur. Acap kali keluarga menjadi faktor terbesar yang membuat kita merasa kegagalan itu nyata. Saat kita masih kecil, sering sekali yang kita dengan adalah kata-kata penolakan; tidak boleh nakal, tidak boleh berisik, tidak boleh ini dan tidak boleh itu, kamu tidak bisa keluar rumah, kamu tidak bisa melakukannya, kamu tidak bisa seperti kakak atau adikmu, kamu tidak bisa jadi orang besar, dan sebagainya. Kata-kata penolakan ini, yang hampir setiap hari diberikan pada kita sewaktu kecil, semakin tertanam seiring perkembangan tubuh dan kejiwaan kita. Dan secara tidak sadar, otak dan alam bawah sadar kita menerima hal tersebut sebagai kenyataan karena terus menerus diberikan.

Penanaman pemikiran seperti inilah yang membuat kita merasa gagal. Perasaan gagal ini semakin hari akan semakin besar, dan dengan semakina besarnya perasaan ini maka perasaan tidak berharga pun akan semakin besar. Makanya banyak orang yang merasa gagal akan merasa hidupnya tidak berguna.

Solusinya?
Kegagalan itu adalah produk pikiran. Banyak hal yang mungkin kita rasa sebagai kegagalan, tetapi kegagalan tersebut tidak permanen. Berhentilah berpikir gagal. Berhentilah percaya bahwa dirimu itu bukan apa-apa. Mulailah berpikir bahwa kegagalan itu hanya sebagai keberhasilan yang tertentu, bahwa kegagalan itu hanya merupakan solusi yang tidak tepat sasaran, bahwa kegagalan hanyalah sebuah kesalahan semata. Berpikirlah bahwa untuk setiap masalah selalu ada solusi. Kegagalan hanyalah sementara. Kegagalan bukan berarti hidupmu tidak berharga. Tetapi gagal merupakan sarana untuk kita berkembang lebih jauh.


Kamis, 01 Oktober 2015

Memiliki konsep diri yang tinggi

by Unknown  |  in Opinion at  Kamis, Oktober 01, 2015
The Self Concept

Salah satu dari kunci kesuksesan dan kebahagiaan hidup adalah memiliki Konsep Diri yang tinggi. Konsep diri merupakan kumpulan kepercayaan tentang diri sendiri, hal-hal apa saja yang melekat pada diri sendiri, dan tentang siapa dan apakah diri kita ini. Jadi sebenarnya konsep diri adalah cara pandang kita terhadap diri kita sendiri atau kalau pakai bahasa inggrisnya "Who Am I?', atau kalau dalam bahasa nasional medannya "Ise Do Au?" (red. penulis ini orang medan). Cara pandang tentang diri sangat mempengaruhi pola pikir, cara kita mengambil keputusan, serta bagaimana kita menjalani kehidupan.

Ketika kita memiliki konsep diri yang tinggi, kita akan bekerja dan hidup dengan baik. Kita akan merasa kompeten dan nyaman setiap kali melakukan sesuatu hal karena yang kita lakukan selalu konsisten dengan cara kita melihat diri sendiri.

Konsep Diri Yang Rendah
Tidak semua orang memiliki konsep diri yang tinggi. Bahkan saya harus akui, saya juga masih memiliki konsep diri yang rendah. Saya terkadang (walaupun bisa dikatakan sering) menganggap diri saya tidak layak untuk mendapatkan sesuatu hal; Saya takut untuk mengutarakan cinta kepada seorang gadis meskipun saya tahu gadis tersebut suka sama saya dan bahkan teman-temannya juga mengatakan demikian, atau dikala mengerjakan sebuah tugas saya terlalu takut bahwa yang saya kerjakan bakalan gagal meskipun setelah menyelesaikannya ternyata tugas tersebut berhasil saya kerjakan dengan baik.

Banyak orang yang kurang beruntung dilahirkan di keluarga yang memiliki citra diri rendah dan kebanyakan keluarga tersebut merupakan keluarga yang memiliki keuangan yang berkekurangan. Di keluarga seperti ini, anak-anak akan dicekoki dengan pemikiran yang menurunkan harga dirinya. Contoh kecilnya seperti perkataan "kita orang miskin", "kamu gak bisa apa-apa", "kamu anak bodoh", "kita orang kecil", dan sebagainya. Perkataan demikian akan membuat anak memiliki harga diri yang rendah dan kepercayaan diri yang rendah.

Sulit untuk memiliki citra diri yang tinggi dalam keluarga yang memiliki citra diri rendah. Sulit untuk mendapatkan kepercayaan diri yang tinggi kalau dibesarkan dalam keluarga yang memiliki citra diri yang rendah. Mengapa? Karena di dalam keluarga denga citra diri rendah tiap-tiap anggota keluarga akan saling memperkuat pemahaman bahwa mereka itu tidak dapat memiliki kepercayaan diri yang tinggi, harga diri yang tinggi. Hal ini akan berlangsung selama anggota keluarga masih berada di dalam keluarga tersebut.

Jadi masalah utama yang harus dipecahkan adalah bagaimana caranya mendapatkan konsep diri yang tinggi.

Bagaimana Mendapatkan Konsep Diri Yang Tinggi
Sebenarnya, tidak ada cara yang mudah untuk ini. Orang yang memiliki konsep diri yang rendah hanya bisa mengubah pemikirannya jika ia pernah bersinggungan dengan hal-hal yang bisa meningkatkan konsep dirinya. Ia harus pernah mencicipi sedikit pengetahuan tentang diri dari pengetahuan di luar "dunianya". Salah satunya adalah melalui pendidikan. Pendidikan akan memberinya wawasan bahwa ada hal yang baik dari dirinya, ada hal yang bisa dibanggakan dari dirinya. Sehingga dengan tidak secara langsung, pendidikan akan meningkatkan citra diri seseorang.

Selain pendidikan, buku juga merupakan salah satu hal yang bisa meningkatkan konsep diri seseorang. Buku biografi orang-orang sukses yang meniti karir dari nol juga buku-buku motivasi akan membuka cakrawala seseorang tentang betapa berharganya sebenarnya dirinya.

Tetapi yang paling menentukan adalah keterbukaan seseorang untuk menerima semua pengaruh-pengaruh luar ini; pendidikan maupun buku. Keterbukaan untuk menerima pandangan baru merupakan dasar untuk berubah. Kita hanya bisa mengubah pemikiran jika kita mau berubah. Karena yang menentukan bukan orang lain atau hal-hal lain disekitar kita. Kitalah yang menentukan jalan hidup kita sendiri.


Referensi:

  1. https://en.wikipedia.org/wiki/Self-concept
  2. McLeod, S. A. (2008). Self Concept. Diambil dari www.simplypsychology.org/self-concept.html
  3. Tracy, Brian. Advanced Selling Strategies: The Proven System of Sales Ideas, Methods, and Techniques Used by Top Salespeople Everywhere.


Selasa, 29 September 2015

Menerjemahkan buku itu gak gampang

by Unknown  |  in Opinion at  Selasa, September 29, 2015
Menerjemahkan buku itu gak gampang. Kalau ada yang bilang menerjemahkan buku itu gampang, suruh datang jumpai saya biar tak gampar pakai textbook..3:).

Banyak aspek yang harus ditinjau untuk menerjemahkan buku;mulai dari latar belakang penulisan buku, tujuan buku ditulis, niche dari buku, gaya bahasa, bahkan metode penulisan dan pendekatan penulis terhadap pembaca juga perlu dikaji. Kalau mau asal terjemah pakai alat bantu seperti google translate bisa saya pastikan pembacanya bakalan makin gak ngerti apa tujuan dari tulisannya. Berikut beberapa hal yang saya pikir penting untuk diingat oleh penerjemah:

Konsistensi, merupakan salah satu aspek terpenting dalam menerjemahkan sebuah buku. Kalau bahasa inggris "include" kita terjemahkan menjadi "mencakup", maka di sepanjang penerjemahan buku kata "include" tersebut sebaiknya selalu diterjemahkan menjadi "mencakup" bukan diterjemahkan menjadi "terdiri" atau "melingkupi" atau kata lainnya yang sepadan. Jadi sebaiknya seorang penerjemah buku memiliki daftar terjemahan kata yang senantiasa dipakai dalam proses penterjemahannya.

Pendekatan. Setiap penulis memiliki cara tersendiri dalam menyajikan tulisannya. Ada yang melakukan pendekatan kasual, di mana penyajian dan bahasanya santai, atau bahkan pendekatan baku, di mana penulis secara kaku menjelaskan dan menyajikan tulisannya. Kalau kita memakai pendekatan yang berbeda dari penulis aslinya, maka tujuan dari buku kemungkinan besar tidak akan tercapai.

Niche. Masing-masing buku memiliki bahasan tertentu sesuai dengan bidangnya. Maka adalah tugas penerjemah untuk memiliki pemahaman yang memahami tentang bidang yang dikaji oleh buku yang sedang diterjemahkannya. Kalau sebuah buku masuk dalam bidang komputer, maka penerjemah harus memiliki pemahaman di bidang komputer. Seorang yang belum menguasai pengetahuan tentang komputer sebaiknya tidak mencoba menerjemahkan buku komputer karena bakalan banyak terjadi penyimpangan arti yang malah membuat pembaca menjadi bingung. Penerjemah harus menguasai bidang dari buku tersebut. Ini merupakan harga mati.

Percaya Diri. Penerjemah wajib memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi untuk bisa menerjemahkan sebuah buku. Karena tanpa ada kepercayaan diri maka penerjemah tidak akan memiliki kapabilitas untuk mempertanggungjawabkan hasil terjemahannya ke masyarakat umum. Saat penerjemah menerjemahkan bagian dari buku, ia harus percaya bahwa terjemahan yang dilakukannya baik dan sepadan dengan buku aslinya.

Demikianlah keempat aspek yang harus diperhatikan oleh penerjemah. Semoga saudara-saudari yang lagi berkutat dalam proses penerjemahan buku tetap setia melakukan pekerjaannya.

Ganbare!!!.

Kamis, 17 September 2015

Fear, Frustration, And Worry

by Unknown  |  in Personal Building at  Kamis, September 17, 2015
I can't deny my fear for failure. I worried for not having much more money and don't know how to acquire it. Failure is imminent for me.

Fear, frustration, and worry make my body grew restless. I feel like having a cold and flu every time I have those feelings and they immobilize me.

How I can escape from these reality? Now the main things that in my mind are about how to get much money in a short time. Because my time limit is nigh. Because there are so much expenses that on hold and need to be paid. Because my room rent due date  need to be paid. Because my sister room rent due date need to be paid. Because our family debt need to be paid. Because I need food to eat next month. Because I need money to marry my girlfriend.

I complaining for every problems and focusing myself to the problems. I hate myself for not having a good life like many peoples out there. I despise myself and blame others, especially my family, for not nurturing me with plenty of goods and money. Problems are my main focus now.
"You can complain because roses have thorns, or you can rejoice because thorns have roses." Ziggy
Frustration is the thing that almost of us can't overcome. We frustrate for many things;lack of food, lack of money, our relationships, job, unfriendly Boss in work place, and many other things in every day of our life. The main question is, do we really need to frustrate?.

I know that we don't really need to be frustrated or complaining for our life. Life is go on whether we frustrate or not. We can't add a single hour to our life by worrying (Matthew 6:27). We need not to worry about anything and start believing that we can go through the problems.

The reality is harsh. It really not easy to not complaining and become frustrated, nor it easy to believe we can go through every obstacles without any effort and sweat. It sure hard. No, hardest thing to do for most of us. But should us surrender our life to frustration? No!. Life is too precious to spent on complaining and frustrated. Our life is much more important than problems. Our happiness is much more important than worrying. Don't spend your life rotting in the deepest pit of your problems. Believe that you better than that. I choose no for complaining, frustration, and worry. I choose to believe that my Creator had make a plan for something special for me and for others, because he create me magnificently (Psalm 139:14).

Let's say: 
"I can do all this through God who gives me strength" (Philippians 4:13).


* Picture from: http://www.thegospelcoalition.org/article/why-are-you-worried 

Rabu, 09 September 2015

Achieving our dreams

by Unknown  |  in Personal Building at  Rabu, September 09, 2015
Dream It - quotesgram.com

There is no other ways to become an expert on something except discipline and hard work. Don't merely hope for a miracle because you can't be anything just hoping. Instead be a miracle for yourself. Don't get me wrong. I do believe in miracles. I do believe in God. But my believe, my faith, don't teach me to be a beggar for mercy of God. Of course I live by God's mercy alone, but he also teach me to do my work on earth, to go chasing and fulfilling my dreams. That's also apply to my expertise.

My dream is to be a great programmer and technopreneur. How can I achieve it?. No, miracle is not an option for that. As I said before, I must disciplinize myself and do the hard work. I can't achieve my dream by sitting idle in the corner of my room or playing game all day long. I can't achieve it by doing something like general people will do. I must go through the stony, wavy, and stormy way where most of all people don't dare to. I can't stay as ordinary people doing ordinary thing in hoping to have an extraordinary thing. I need to do more than common sense on hoping reaching the moon.

"Insanity: doing the same thing over and over again and expecting different results". Albert Einstein

What should I do to achieve it than?. First, I must do 10,000 hours of deliberate practice on programming to reshape my ability and potential each day. Second, change my bad behavior and manage my time. Third, make an achievable limit to attain my dream. Fourth, having a positive thinking each time. Fifth, get a clear vision for what I must achieve. The main thing to achieve it is believing in God and trusting myself to him.

Well, this all I thought for now.

Senin, 07 September 2015

Love or Be Loved.

by Unknown  |  in Personal Building at  Senin, September 07, 2015

"People fall in love in mysterious ways", that's a part of Thinking Out Loud lyric from Ed Sheeran song that almost precisely depict how people get the feeling of love. I do agree with it but not quite agree.

Many of us know that it is really good to be loved, but that doesn't means people really knew how to love. How can we really perceive that love is really a good thing? How can we feel what love is ? when do we really love ? do we love? Is it just a perception from our senses? Do we really know what love is? Or maybe we just guessing that "it" was love?

We human fellow tend to mix our feeling for "be loved" with "love". We often loving other by insisting for return; Loving our life partner by demanding for care from him/her; Loving our spouse by asking for his/her sacrifices. Loving by asking for a return is not really a love, it called "Be loved". Let me put it straight, love is not about ourselves but about other, love is not a "me" side, love is not selfish.

In my christian perspective (Christ perspective), love is giving your life to others, loving your life partner by giving all of yourself to him/her, loving your family by giving your life to them, and loving your neighbor as you love yourself. Loving by sacrificing yourself. Maybe you think these are really hard to do, i agree with it, but not impossible to do.

Pardon for my bias perspective.

For me, love is not merely how we feel and act to people but love is how we living our life thoroughly by giving our full capability for others. The life of giving not asking. So now, stop asking for love. Learn to love. Don't wait for love, don't wait for be loved. Act your love now. Because I believe that we are already be loved by our Creator -- For God so loved the world that he gave his one and only Son, that whoever believes in him shall not perish but have eternal life.
His love is more than enough for us... ;).


Jumat, 04 September 2015

by Unknown  |  in Motivation at  Jumat, September 04, 2015
Don't let anything stop you on fullfilling your dream. Period.