free counters
Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Juli 2016

Mempercepat Kualitas Kebasian Nasi

by Unknown  |  in Opini at  Jumat, Juli 22, 2016
Saya mengalami pengalaman yang unik baru-baru ini, yang saya rasa tidak semua orang pernah mengalaminya dan hanya orang-orang terpilih saja yang dapat paham, merasakan, dan menghayati pengalaman ini 8:).

Suatu ketika saya sedang kelaparan. Kebetulan ada nasi yang sebelumnya sudah ditanak di Rice Cooker dengan pemanas (Istilah kerennya: MagicJar). Rupanya setelah saya hendak memakannya, nasi tersebut saya temukan sudah mulai berair dan sedikit berbau. Tetapi masih layak untuk dimakan.

Karena memiliki pengetahuan yang cukup mendalam tentang proses fermentasi pada makanan, timbul ide untuk memanaskannya kembali, tetapi dengan memilih mode masak. Otak saya yang jenius ini berpikir pasti bakteri yang memfermentasikan nasi itu mati kepanasan. Kalau bakterinya mati, berarti nasinya bisa saya makan seperti biasanya.

Setelah menunggu beberapa menit suara "Klik" yang menandakan sudah masak berbunyi. Saya berguman dalam hati "Wah, sudah masak. Waktunya makan". Namun apa daya, setelah saya periksa nasinya ternyata malah jadi basi. Teori jenius saya ternyata salah total. Dan akhirnya saya terpaksa makan nasi basi karena sangat dan terlalu kelaparan.

Satu pertanyaan yang akhirnya muncul di benak,
Apakah hasil pengalaman saya bisa dijadikan basis untuk menerima Nobel Kimia?. Mungkin saja.


Moral Of The Story:

  1. Jangan terlambat makan. 
  2. Jangan suka menunda-nunda. 
  3. Sesuatu yang instan didapatkan cenderung tidak baik. 
  4. Hati-hati kena maag.
  5. Jangan malas.

Kamis, 24 Maret 2016

Sakit hati, kekecewaan, penderitaan, masalah, beban, dan kesulitan hidup

by Unknown  |  in Opini at  Kamis, Maret 24, 2016

Sakit hati, kekecewaan, penderitaan, masalah, beban, dan kesulitan hidup sebenarnya adalah faktor yang sangat penting bagi kehidupan kita. Memang sulit untuk dihadapi tapi perlu dilewati.

Semakin sering kita mengalami hal-hal tersebut, dan berhasil melewatinya, semakin dewasa pula kita. Memang itu semuanya benar-benar menyakitkan, tetapi ironisnya tanpa hal tersebut kita sulit untuk mengerti hal-hal yang bermanfaat bagi hidup kita sendiri.

Seperti halnya rasa sakit, kalau kita pikir sekilas rasa sakit mungkin kelihatan bermanfaat. Apa gunanya rasa sakit? Bukankah perasaan yang menyenangkan itu yang penting?. Contoh sederhana ini mungkin akan membuka pikiran kita:
Coba pikirkan kalau kamu tidak bisa merasakan sakit. Awalnya kelihatan hebat karena kamu tidak perlu lagi kuatir akan sulit dan kerasnya kehidupan. Sekarang bayangkan saat tanganmu kamu arahkan ke api dari sebuah lilin yang menyala. Dengan kondisi tanpa rasa sakit, kamu akan terus meletakkan tanganmu karena tidak ada rasa sakit karena terbakar. Dan jika kamu tidak menjauhkan tanganmu dari api tersebut, maka tanganmu akan terbakar dan bisa jadi cacat permanen. Rasa sakitlah yang menyebabkan kamu menjauhkan tanganmu dari api lilin tersebut. Rasa sakitlah yang menyelamatkan tanganmu.

Ada pepatah yang mengatakan "Pengalaman adalah guru yang terbaik", hal ini hampir sepenuhnya benar. Karena dari pengalamanlah kita belajar untuk menjadi lebih dewasa. Rasa sakit, kekecewaan, penderitaan, merupakan bagian dari pengalaman yang sangat berarti.

Kita bisa mengerti orang lain jika kita pernah mengalami hal yang sama dengan yang orang tersebut rasakan. Rasa sakit mengajarkan kita untuk lebih memahami hidup dan menjaga hidup kita. Rasa sakit menunjukkan kepada kita bahwa sebenarnya kita adalah makhluk yang tidak sempurna yang masih perlu banyak belajar untuk mengerti arti kehidupan yang sesungguhnya.




sumber gambar: https://www.coursera.org/course/chronicpain

Minggu, 06 Maret 2016

Harga diri atau kebahagiaan

by Unknown  |  in Opini at  Minggu, Maret 06, 2016

Harga diri merupakan hal yang terkadang menjadi bumerang bagi kebanyakan orang. Ini dikarenakan sifatnya yang dualisme; yang satu meningkatkan penilaian yang baik pada diri seseorang, dan yang satu lagi meningkatkan penilaian bahwa seseorang itu memiliki martabat yang lebih tinggi dari orang lain. Memang orang yang memiliki harga diri yang tinggi cenderung memiliki kepercayaan diri yang tinggi juga. Dan tentu saja hal tersebut memberi pengaruh positif yang sangat besar bagi perkembangan kepribadian seseorang. Tetapi saat harga diri bergeser menjadi semata-mata bermakna martabat diri yang lebih tinggi dari orang lain, maka sering terjadi pergesekan-pergesekan kepentingan yang malah merugikan.

Memang harga diri itu penting bagi semua orang. Harga diri yang tinggi membantu kita bertumbuh dan membantu perkembangan karakter individu ke arah yang positif. Orang-orang pemenang selalu memiliki harga diri yang tinggi.

Saya termasuk orang yang memiliki harga diri yang tinggi. Saya memiliki harapan yang tinggi dalam kehidupan pribadi. Saya memiliki kepercayaan yang tinggi bahwa saya pasti meraih kesuksesan yang saya mau. Saya memiliki intelegensi dan kemampuan belajar yang tinggi semua berkat harga diri yang tinggi. Sisi buruknya adalah, saya lebih sering keras kepala dan sering terlalu percaya diri akan kemampuan saya. Menganggap pendapat orang lain itu biasa dan tidak berpengaruh merupakan salah satu sifat buruk yang saya miliki. Untung sifat ini sudah berkurang dan sudah mampu untuk saya kuasai.

Dulu saya biasa untuk beradu argumentasi dengan orang lain. Menjadi benar dan menang dalam argumentasi merupakan sebuah keberhasilan bagi saya. Dan yang saya hasilkan kebanyakan hanya kepuasaan sesaat. Menang dalam argumentasi hanya membuat hubungan kita dengan orang lain jadi jauh lebih buruk dari sebelumnya. Saya menang dengan membawa pulang ketidakbahagiaan.

I'd far rather be happy than right any day. Douglas Adams
Kebahagiaan jauh lebih penting daripada sekadar harga diri. Seandainya saya bisa kembali dan memperbaiki hidup saya sebelumnya, maka saya akan selalu berusaha untuk merendahkan diri saya sendiri untuk mendapatkan kebahagiaan. Apakah artinya kita hidup jika kita tidak bahagia?

Sulit untuk memilih antara harga diri atau kebahagiaan ketika keduanya saling bertolak belakang. Keputusan kembali kepada kita, apakah kita sudah cukup dewasa untuk memilih apa yang bermanfaat untuk waktu yang berkepanjangan atau mengikuti keinginan sesaat saja. Saya memilih untuk bahagia.



sumber gambar: Human value & a look at self-worth

Kamis, 03 Maret 2016

Memilih yang terpenting di antara yang menyenangkan

by Unknown  |  in Opini at  Kamis, Maret 03, 2016
Kalau kita dipaksa untuk jujur memilih apa yang terpenting yang kita lakukan dalam hidup kita, mungkin kita sama sekali bingung untuk menentukannya. Banyak hal yang terasa penting di dalam hidup kita. Kebanyakan hal yang menyenangkanlah yang kita anggap merupakan hal yang penting. Ini yang membuat kita sulit untuk tahu apa yang terpenting bagi hidup kita.

Kesenangan yang kita anggap hal yang penting sering malah merupakan hal yang menghambat kita untuk berkembang. Ada beberapa kesenangan penting yang sebaiknya kita batasi seperti:

  1. Berinternet yang berlebihan untuk bersosial media
  2. Menghabiskan waktu di luar untuk sekadar bersantai/rileks
  3. Main Game yang berlebihan
  4. Menonton Televisi
  5. Terlalu banyak berbicara dengan orang lain
Mari kita bahas mengapa kesenangan ini ternyata membatasi hidup kita.



Berinternet yang berlebihan untuk bersosial media

Zaman sekarang ini bisa dikatakan zamannya social media. Hampir setiap segi kehidupan memiliki kaitan ke social media. Bahkan hampir setiap orang yang memiliki perangkat telepon memiliki minimal 2 akun social media. Hampir setiap pengguna smartphone memiliki akun facebook, di mana rata-rata pengguna facebook menghabiskan waktu minimal 1 jam saat mengaksesnya. Bayangkan saja jika setiap orang memiliki 3 akun social media yang berbeda seperti facebook, twitter, instagram. Dengan perhitungan secara kasar, maka seseorang akan menghabiskan waktu minimal 3 jam dalam sehari hanya untuk bersosial media. Dan itu masih perhitungan minimalnya!. Saya saja, yang termasuk dalam pengguna facebook biasa, rata-rata menghabiskan waktu 1,5 jam untuk facebook-an. Bagaimana halnya dengan orang yang kecanduan facebook? Mungkin lebih dari 3 jam sehari bisa dihabiskan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Nicholas Christakis dan James Fowler dalam buku Connected, orang-orang yang terbiasa dengan media sosial memiliki kelemahan dalam hal fokus. Rata-rata mereka tidak akan bisa fokus selama 15 menit. Hal ini dikarenakan mereka sudah terbiasa menerima informasi yang terus menerus dalam waktu yang relatif singkat. Anda dapat dengan mudah membuktikan hal ini. Cobalah Anda perhatikan orang yang sedang bermedia sosial. Mereka hampir tidak pernah bisa bertahan lebih dari 15 menit tanpa melihat smartphone atau gadget mereka untuk mengecek media sosial mereka. 

Tanpa fokus yang baik dalam sebuah hal, hampir mustahil untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam hal tersebut. Atau bahkan kegagalan yang malah didapatkan.

Menghabiskan waktu di luar untuk sekadar bersantai/rileks

Untuk bagian ini saya harus sedikit menjelaskan siapa diri saya, karena setiap orang memiliki biasnya tersendiri. Saya orang yang introvert yang berdasarkan pengertian wikipedia adalah "Introversion is the state of or tendency toward being wholly or predominantly concerned with and interested in one's own mental life", yang mendapatkan kesenangan dari kehidupan pribadi sendiri.

Menurut saya, menghabiskan waktu di luar untuk sekadar rileks sering menunjukkan kemampuan kita yang kurang dalam mengontrol emosi diri. Hal ini seperti kita berusaha mencari penyelesaian hidup dengan berusaha mengelak dari persoalan hidup tersebut. Untuk orang-orang yang tidak memiliki keluarga atau teman yang berada dekat dengan tempat tinggalnya, menghabiskan waktu di luar mungkin cocok bagi mereka. Tetapi bagi yang memiliki keluarga dan teman yang berada dekat, hal tersebut sama dengan mengabaikan hal yang penting dan berarti yang ada di depan kita untuk hal yang menyenangkan dan sementara. Keluarga dan teman dekat itu jauh lebih berharga daripada teman untuk rileks. Mereka lebih tulus mengasihi kita walaupun lebih sering kita tidak menyadarinya.



Main Game yang berlebihan

Saya harus jujur dalam hal ini, saya juga adalah pecandu game yang baru saja bertobat. Di saat saya lagi kecanduan berat, dalam satu hari saya bisa menghabiskan hampir keseluruhan waktu saya dalam satu hari untuk bermain game. Di mana sisa waktunya saya gunakan untuk makan. Tentu saja setelah kelelahan main game saya harus tidur jauh lebih banyak dari biasanya. Bahkan satu hari penuh pun terasa seperti tidak tidur.

Ketika bermain game, kebanyakan pemain game seperti berada di dunia lain. Mereka asyik dengan game dan kehidupan gamenya. Orang-orang di 'luar' seperti tidak ada sama sekali. Mereka terputus dari kehidupan normal sehari-hari. 

Game itu menyenangkan kalau dilakukan secara bersahaja. Tetapi ketika game menggantikan kehidupan kita yang sesungguhnya, maka ia menjadi penghambat perkembangan kepribadian kita. Ia akan menghisap semua waktu kita dan kehidupan kita yang sebenarnya pun akan menjadi berantakan.

Menonton Televisi

Ada baiknya sekali-kali menonton televisi agar kita mendapatkan informasi tentang seputar kehidupan. Namun ada batas kewajaran yang harus kita buat bagi diri kita sendiri. Kecenderungan untuk menonton televisi terlalu sering merupakan hal yang sia-sia, karena yang kita dapatkan bukan lagi informasi yang berharga malah informasi yang tidak berharga seperti iklan-iklan yang muncul di televisi tersebut. Setiap hari dari televisi kita dibombardir dengan ribuan iklan, yang sama sekali tidak bermanfaat bagi hidup.

Orang-orang yang sukses malah tidak suka nonton televisi. Bahkan ada sebuah ejekan yang cukup mengena: 
Mengapa kamu tidak pernah melihat iklan komersil Lamborghini di televisi? Karena orang-orang yang bisa membelinya tidak duduk manis di depan televisi.

Kurangi menghabiskan waktumu dengan menonton televisi.

Terlalu banyak berbicara dengan orang lain

Semakin banyak kita berbicara maka akan semakin banyak kemungkinan kata-kata yang sembrono yang keluar dari mulut kita. Berbicara dengan orang lain memang penting karena dengan berbicara kita membentuk jalinan persahabatan. Tetapi berbicara berlebihan seperti waktu ngerumpi malah akan memberikan efek negatif bagi diri kita dan orang lain. Banyak hal-hal yang seharusnya tidak dibicarakan dengan orang lain, karena merupakan masalah pribadi, malah dibeberkan secara terang-terangan. Dan sering malah kita jadi turut membicarakan masalah orang lain yang kita tidak tahu apa sebenarnya masalahnya.

Bicaralah seperlunya dan tahan lidah kita.

Kesimpulan

Kita harus pintar memilah-milah mana yang baik bagi hidup dan mana yang tidak baik bagi hidup kita. Tidak semua hal yang menyenangkan itu penting. Pilihlah hal yang memberikan dampak positif dalam jangka panjang. Batasi hal yang memberikan kesenangan jangka pendek.


sumber gambar: Why haven't you ever seen a Lamborghini commercial before?

Rabu, 02 Maret 2016

Jadilah diri sendiri, orang lain sudah ada yang memilikinya.

by Unknown  |  in Opini at  Rabu, Maret 02, 2016

Sewaktu saya mencoba mempelajari konsep-konsep yang dipakai orang lain tentang bagaimana pengembangan aplikasi Android yang baik, saya teringat sebuah kalimat yang membuka pikiran saya, yang saya pernah baca dari sebuah buku:
Kami tidak mempunyai waktu untuk memikirkan saingan kami, kami melakukan dan memberikan apa yang terbaik pada pelanggan kami. Memikirkan pesaing kami hanya akan menghabiskan waktu kami untuk memperbaiki kualitas pelayanan kami.

Sedangkan saya saat ini malah menghabiskan waktu untuk mempelajari konsep yang dipakai orang lain. Waktu saya kebanyakan dipergunakan untuk mempelajari dan menjadi pesaing yang ulet dan tekun. Saya belajar menjadi seperti orang lain dan berhenti menjadi diri sendiri. Menjadi seseorang yang sama dengan kebanyakan orang lain dan berhenti menjadi otentik.

Hal yang saya lakukan tersebut malah menjadi penghalang saya untuk berkembang. Saya jadi hanya belajar untuk lebih baik sedikit dari orang lain, mendapatkan posisi di depan orang lain yang menjadi saingan saya saat ini.

Menjadi terdepan dengan bersaing hanya akan membuat saya lebih baik sedikit dari orang lain. Orang-orang yang berhubungan dengan saya hanya akan melihat saya sebagai orang yang memiliki kemampuan yang sama dengan pesaing saya, dengan hanya sedikit memiliki kemampuan di depan. Namun hal ini tidak akan bertahan lama, dan dalam kurun waktu yang panjang keadaan ini malah akan membuat saya tertekan karena selalu harus memperhatikan pesaing saya.

Menjadi otentik dan menjadi diri sendiri merupakan jalan yang terbaik yang bisa saya pilih. Karena setiap pribadi memiliki hal-hal yang istimewa yang tidak dapat ditemukan pada orang lain. Keistimewaan ini yang membuat kita tetap bertahan dan tetap terlihat menawan di hadapan orang lain.

Jadilah diri sendiri, orang lain sudah ada yang memilikinya.

Kamis, 18 Februari 2016

Memulai belajar pemrograman

by Unknown  |  in pemrograman at  Kamis, Februari 18, 2016

Saya sering menemukan bahwa kebanyakan orang yang belajar pemrograman tidak tahu apa tujuannya belajar pemrograman. Kebanyakan malah cuma tahu belajar pemrograman yah cuma untuk buat program. Nah ini yang membuat kebanyakan pemula tidak pernah naik ke tingkat yang lebih mahir atau menjadi programmer handal.

Kalau mengingat kembali waktu saya masih memulai belajar pemrograman, saya sama sekali tidak tahu apa gunanya. Saya cuma tahu pemrograman itu bahasa komputer dan mata kuliah yang harus saya ambil jika ingin lulus kuliah. Motivasi seperti ini sama sekali tidak membantu perkembangan pengetahuan programming saya.

Sama seperti musafir yang tidak punya tujuan, seorang programmer pemula tidak akan menjadi programmer yang handal jika tidak punya tujuan yang jelas. Kita harus punya tujuan yang jelas untuk belajar. Jadi apa sebenarnya tujuan kita untuk belajar pemrograman?

Tujuan belajar pemrograman tidak perlu sesuatu yang wah. Bahkan tujuan sederhana seperti membuat aplikasi pemutar lagu buatan sendiri pun sudah cukup tepat dijadikan alasan untuk mendalami bahasa pemrograman. Karena dengan adanya tujuan tersebut, kita tahu apa yang ingin kita capai. Kita tahu apa yang harus kita kerjakan dan pelajari untuk membuat aplikasi tersebut.

Struktur Data dan Algoritma

Rata-rata orang yang memulai belajar struktur data dan algoritma (sepanjang artikel ini saya akan menggunakan singkatan SDA untuk ini) akan mengalami banyak kesulitan jika tidak tahu apa tujuan belajar SDA. Ditambah lagi kalau mereka sama sekali belum pernah belajar dasar pemrograman. Menurut saya SDA itu merupakan bahan pelajaran tingkat menengah yang sama sekali belum cocok untuk dipelajari orang-orang yang baru memulai pemrograman. Di dalam SDA, pelajar dianggap telah mengetahui dan mengenal hampir semua dasar pemrograman karena disitu tercakup semua segi dasar pemrograman.

Masalah yang juga cukup sering muncul saat seseorang belajar SDA adalah ia tidak cukup paham untuk apa struktur data dan untuk apa algoritma tersebut digunakan. Jadi seperti masalah yang saya terangkan di bagian awal artikel ini, kita tidak tahu atau kurang tahu apa tujuan pembelajaran tersebut.

Struktur data umumnya ditujukan untuk mengefesienkan kinerja dari kode pemrograman yang telah kita buat. Ini merupakan proses tingkat lanjut yang kita lakukan jika kita ingin membuat kode pemrograman yang lebih baik. Jadi untuk yang baru belajar pemrograman, struktur data bukan hal yang mendesak untuk dipelajari.

Algoritma adalah bagaimana langkah-langkah yang dilakukan yang terkandung di dalam kode pemrograman. Contoh algoritma sederhana dapat kita temukan saat kita memasak nasi goreng (kalau belum pernah masak nasi goreng sendiri, tolong dipelajari juga...:P). Kita perlu menentukan langkah-langkah yang kita perlukan dalam memasaknya, seperti berikut:
  1. Sediakan nasi
  2. Sediakan minyak
  3. Sediakan wajan untuk memasaknya
  4. Sediakan bumbu-bumbunya
  5. Nyalakan kompor dan letakkan wajan dengan minyak di atasnya
  6. masukkan nasi ke wajan
  7. Masukkan bumbu-bumbunya
  8. Goreng sampai nasi menjadi kekuning-kuningan
  9. Hidangkan.
  10. Selesai
Cukup sederhana bukan?. Nah seperti itu juga di dalam pemrograman. Kita perlu menentukan algoritma yang tepat agar program kita berjalan dengan baik.


Kesimpulannya adalah:
Tentukan tujuanmu yang spesifik dalam belajar pemrograman


Selamat memprogram ria...;)


sumber gambar: Computer programming

Selasa, 02 Februari 2016

Kepercayaan yang membatasi diri

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Selasa, Februari 02, 2016

Pernahkah anda merasa tidak mampu melakukan sesuatu padahal anda belum pernah mencobanya? Berarti saat ini anda terjebak dalam kepercayaan yang membatasi diri.

Umumnya kita diingatkan akan ketidakmampuan diri kita dalam melakukan hal-hal tertentu. Sering kita dibatasi dengan kata-kata yang membuat kita rendah diri, seperti kata-kata berikut:

  • Kamu Payah
  • Tidak Ada Yang Bisa Kamu Lakukan
  • Kamu Tidak Mampu
  • Kamu Lemah
  • Kamu Tolol
  • Kamu Lamban
  • Kamu Bodoh
  • Kamu Tidak Punya Talenta
  • Kamu tidak Bisa Melakukannya
  • Itu Sulit Dilakukan
  • itu tak mungkin diselesaikan
  • Terlalu susah
  • Terlalu payah
  • Tidak mungkin
  • Mustahil
  • Kamu Pasti gagal
  • Sia-sia pekerjaanmu



Mungkin hampir setiap hari kita mendengar kata-kata tersebut sehingga secara tidak sadar, alam bawah sadar kita merekam dan menyimpannya. Dan ketika kita merasakan kegagalan, maka rekaman dari alam bawah sadar tersebut muncul dan memberikan kita pemikiran bahwa kita sungguh-sungguh seorang yang gagal. Padahal kegagalan sama sekali bukan hal yang permanen. Tidak ada orang yang gagal, yang ada hanya pola pikir yang gagal.

Pola pikir yang gagal ini harus diubah. Kita harus memulai dengan memberikan kata-kata yang positif pada diri sendiri. Daripada mengatakan bahwa Anda lamban, ganti dengan Anda kurang cepat. Jika anda selalu berkata "Aku tidak mampu melakukan sesuatu", ganti dengan "Aku bisa melakukannya, caranya saja yang tidak tepat". Hal ini sama dengan cara pandang anda dalam melihat sebuah gelas yang berisi air. Jika anda mengatakan airnya setengah penuh, maka fokus anda pada kelimpahan yang anda miliki. Jika anda mengatakan airnya setengah penuh, maka fokus anda pada kekurangan yang anda miliki. Anda bisa melakukan banyak hal jika mengubah sudut pandang anda.

Mulai sekarang gunakan kata-kata yang meningkatkan kepercayaan diri anda, seperti kata-kata berikut:

  • Aku bisa melakukannya
  • Aku mampu
  • Ini agak tidak mudah
  • Aku belum menemukan solusinya
  • Aku belum sukses
  • Aku memang sedikit kurang cepat
  • Aku memang kurang cekatan
  • Aku hanya kurang mengerti
  • Aku belum tahu semuanya
  • Ini pasti ada manfaatnya, hanya cara saja yang salah





Ubah kepercayaan yang membatasi diri anda. Tanamkan hal yang baik pada diri anda sekarang.



Sumber gambar: http://breathingprosperity.com/blog/tag/get-rid-of-limiting-beliefs

Senin, 01 Februari 2016

Anda berbeda dari orang lain, Jadilah diri sendiri

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Senin, Februari 01, 2016

Setiap orang punya kemampuannya tersendiri. Ada yang punya kemampuan lebih dalam berkomunikasi. Ada juga yang punya kemampuan untuk beradaptasi secara cepat dengan lingkungannya. Dan ada juga orang yang memiliki kemampuan untuk berpikir cepat. Masing-masing orang memiliki kelebihan tersendiri.

Kalau kita coba mengamati lingkungan sekitar kita, maka kita akan mendapati ada beberapa hal yang sepele menurut kita tetapi bagi orang lain sangat sulit untuk dilakukan. Seperti yang terjadi sama saya, bagi saya mengatur tingkat kecerahan layar komputer sangatlah mudah; tinggal cari settingan saja lalu sesuaikan dengan keinginan. Namun bagi kebanyakan orang, hal ini sepertinya mustahil dilakukan. Sebaliknya, bagi saya sangat sulit untuk berbicara tegas terhadap orang lain, namun bagi beberapa orang hal tersebut amat gampang dilakukan.


Hal ini bukan berarti kita memiliki kemampuan yang lebih rendah dibandingkan orang lain. Tetapi dengan kemampuan dan talenta yang berbeda-beda, kita menjadi orang-orang yang saling melengkapi. Sosialisasi terjadi karena perbedaan dan kemajemukan di antara kita. Tindakan dan kemampuan kita membentuk orang lain dan sekitar serta secara tidak langsung membentuk diri kita sendiri. Apa yang kita berikan akan kembali kepada kita sendiri.

Oleh karena itu, jangan pernah menganggap rendah orang lain. Dan jangan pernah menganggap rendah dirimu sendiri. Kita semua diciptakan secara khusus, masing-masing dengan keunikannya sendiri. Jangan mencoba menjadi orang lain. Jadilah dirimu sendiri.


"To help yourself, you must be yourself. Be the best that you can be. When you make a mistake, learn from it, pick yourself up and move on." Dave Pelzer

Sumber gambar: Be yourself, everyone else is taken

Minggu, 31 Januari 2016

Prinsip ekonomi lama tidak berlaku lagi

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Minggu, Januari 31, 2016
Harus kita akui, bahwa kita lebih memilih untuk mempercayai konsep ekonomi yang sudah kuno dan tidak berlaku lagi dalam hidup, "Dengan biaya yang sekecil-kecilnya, mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya", daripada belajar mempercayai bahwa dengan kerja keras, pengorbanan yang besar, dan ketekunan baru bisa dihasilkan sesuatu yang besar.

Kecenderungannya, kita suka mengharapkan hasil yang fantastis dengan cara yang biasa, santai, dan murah. Namun harapan kita itu sia-sia. Tidak ada hal yang besar yang bisa kita hasilkan jika kita hanya melakukan hal yang kecil.


Hal ini sama seperti upaya kita ingin membentuk otot agar tubuh lebih atletis. Otot akan bekerja normal dengan beban yang normal yang dapat ditanggungnya. Jika beban yang ditanggung amat kecil maka kerja otot pun sangat kecil. Untuk mengembangkan otot supaya lebih besar, maka kita harus memberi beban yang lebih besar dari yang biasa ditanggung otot. Jika kita hanya memberi beban yang biasa-biasa saja, maka otot sama sekali tidak berkembang. Otot harus bekerja diluar batas nyamannya untuk berkembang. Setelah beberapa bulan dengan latihan yang berat, maka otot telah berkembang sesuai dengan beban yang dapat ditanggungnya. Beban yang berat sebelumnya tersebut akan menjadi batas normal bagi otot, sehingga otot perlu beban yang lebih berat lagi untuk berkembang. Otot perlu kerja keras untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.

Demikian juga yang terjadi dalam hidup. Kita tidak mungkin mengharapkan hal yang luar biasa dengan kebiasaan yang biasa, pola hidup yang biasa, kerja yang biasa, dan tanggung jawab yang biasa. Tidak mungkin mengharapkan sesuatu menjadi luar biasa tanpa ada perubahan yang besar.


"Manusia adalah satu-satunya mahkluk hidup yang mengharapkan hasil yang berbeda dengan cara yang sama". Albert Einstein

Tepat seperti kata Einstein tersebut. Kita mengharapkan sesuatu yang berbeda padahal cara yang kita lakukan tetap sama. Kita memilih menutup mata dan bersikap picik tetapi tidak berusaha untuk mengubah diri kita sendiri.


Mari kita berhenti bersikap biasa-biasa saja, mari bertindak luar biasa untuk menghasilkan hal yang luar biasa.

Kamis, 28 Januari 2016

Tujuan tanpa ada rancangan dan usaha sama dengan sia-sia

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Kamis, Januari 28, 2016

Walaupun sudah beberapa buku saya baca tentang pengembangan diri, saya masih saja sering terjebak dengan kebiasaan lama. Salah satu kebiasaan lama yang masih sering muncul adalah harapan bahwa sebuah tujuan bakalan segera tercapai tanpa perlu usaha.

Tidak ada tujuan yang bisa tercapai tanpa adanya usaha dari diri kita sendiri. Semakin besar tujuan yang ingin dicapai maka semakin besar pula usaha yang harus dikerjakan. Hal ini seperti saat kita bermain ayunan, semakin besar tolakan kita maka semakin jauh jarak ayunannya. Juga sama seperti halnya prinsip bertanam padi, untuk mendapatkan padi kita harus menyiapkan bibit, kemudian menyemai bibit, menanam bibit ke sawah, menyianginya, kemudian menunggu sampai padi besar dan menghasilkan bulir padi yang sudah masak, lalu kemudian menyabitnya untuk dipanen. Tidak ada istilah 'seketika' dalam proses menanam padi tersebut.

Rasa Malas
Rasa malaslah yang sering mengikat kita dengan mimpi-mimpi yang tidak masuk akal. Mimpi yang paling sering kemungkinan adalah mendapatkan undian berhadiah, namun hampir mustahil mimpi itu tercapai. Kalu kita lakukan perhitungan dengan hukum probabilitas, dimana rata-rata orang yang ikut undian berhadiah sekitar satu juta orang, maka peluang kita sangatlah kecil. Peluangnya 1:1.000.000, yakni 0,000001%, bahkan tidak sampai 1% !. Boleh saja kita boleh bermimpi yang tinggi, tetapi harus selalu dibarengi dengan kerja keras bukan cuma lamunan sesaat.

Tentu sebagian dari kita berpikir kalau Tuhan berkehendak, maka mukjizat pasti terjadi. Namun marilah kita kembali berpikir, marilah kita melihat pada kehidupan sehari-hari. Apakah kita yang sudah menjadi Ayah atau Ibu mau memberikan anaknya sesuatu tanpa mengajarkan pentingnya usaha? Maukah kita membiarkan anak-anak kita bermalas-malasan tanpa mengerjakan apapun? Atau kita hanya memberi apapun yang diminta mereka tanpa mau bergaul akrab dengan anak-anak kita tersebut? Celakalah kalau Anda seperti itu!. Orang tua yang baik akan memikirkan dan mengajarkan anaknya untuk hidup mandiri. Begitu juga sang Pencipta kita!


Tetapkan Rancangan
Hal ini berkali-kali sudah saya katakan kepada diri sendiri dan sudah sering saya tuliskan berulang-ulang di beberapa artikel sebelumnya. Namun karena sifat alamiah kita untuk melupakan sesuatu, maka baiknya kita terus diingatkan akan pentingnya rancangan.

Untuk mendirikan bangunan yang baik diperlukan rancangan yang baik. Demikian juga hidup kita. Untuk menentukan hidup yang baik maka kita perlu membuat rancangan kehidupan yang baik. Tanpa ada rancangan kita sama seperti orang yang berharap mempunyai padi ada tanpa perlu menanamnya. Demikian juga halnya dengan pekerjaan yang saya lakukan sekarang.

Saya saat ini sedang mengerjakan sebuah program hitung dan sebuah program game di Android dengan tim saya. Tidak mungkin kami mengerjakan program tersebut tanpa ada rancangan yang jelas. Tentu saja rekan satu tim saya akan bingung dan tidak tahu akan mengerjakan apa. Kami butuh rancangan yang jelas.


Kalau kita ingin memiliki hidup yang baik maka kita harus menetapkan rancangan yang baik untuk kehidupan kita, bukan orang lain. Orang lain tidak mengetahui siapa diri kita. Hanya ada dua yang mengetahui, yang pertama adalah Sang Pencipta kita, yang kedua adalah diri kita sendiri. Hanya kita yang mengerti apa yang kita mau. Tentu saja kita butuh orang lain, karena apalah tujuan hidup kita jika kita tidak bisa memberikan sumbangsih bagi kehidupan orang lain?

Tetapkan rancangan hidupmu. Tetapkanlah sekarang!

Selasa, 26 Januari 2016

Berdebat bukan sarana komunikasi yang baik

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Selasa, Januari 26, 2016

Berdebat hampir tidak berguna dalam komunikasi yang baik, karena tujuan debat selalu untuk menunjukkan siapa yang lebih benar dan argumentasi siapa yang paling masuk akal. Dalam komunikasi yang baik, orang hampir selalu tidak ingin direndahkan. Orang lebih menyukai pujian dan merasakan bahwa ia didengarkan. Orang lain lebih menyukai seorang pendengar yang baik.

Seperti yang saya paparkan di artikel "Bersikap Bodoh Itu Pintar dan Bersikap Pintar Itu Bodoh", orang lain tidak suka pada orang yang berlagak pintar. Hal ini jelas-jelas berlawanan dengan prinsip debat, yang menganjurkan kita agar bersikap pintar. Orang lain lebih suka pada orang yang berlagak bodoh, karena orang-orang seperti ini cenderung menjadi pendengar yang baik.

Untuk membentuk hubungan yang baik dengan orang lain lewat komunikasi, sebaiknya selalu hindari debat. Hindari yang namanya merasa diri lebih tahu dari orang lain.


Belajar dari pengalaman sendiri, saya sering kali berkomunikasi dimana saya harus selalu menang bicara. Memang ada kepuasan jika kita menang bicara dengan orang lain. Namun hal ini tidak membantu hubungan kita dengan orang lain. Orang lain tidak suka kalah. Orang lain tidak suka direndahkan. Orang lain selalu ingin dipuji. Hal ini merupakan sifat alami dari manusia.

Mari kita bersikap rendah hati, bersikap bodoh, dan lebih menghargai orang lain. Berhentilah berdebat dengan orang lain.




Sumber gambar: http://www.fairlawnschools.org/Page/4093

Membaca pikiran cewek itu susah

by Unknown  |  in Opini at  Selasa, Januari 26, 2016

Membaca pikiran cewek itu susah. Susah banget. Kadang waktu dia marah, kita diam, ehh si cewek malah makin marah. Waktu dia curhat tentang masalahnya, terus kita ngasih solusi, ehh dianya malah emosi karena merasa dicuekin saat lagi enak-enakan curhat. Waktu lagi berantem sama dia, kita coba gak marah dan bersabar, ehh malah dibilang gak perhatian. Kalau udah gitu, pingin rasanya mukul kepala sendiri biar pingsan trus amnesia biar gak tambah stress.

Meskipun saya enggak suka dengan yang namanya banci, tapi ada rasa kekaguman sedikit pada mereka (red: sangat-sangat sedikit). Banci itu bisa mengerti apa maunya cewek. Banci sepertinya punya sebuah talenta tersembunyi yang berguna untuk memahami cewek sepenuhnya. Saya gak tahu kenapa bisa gitu. Entah itu anugerah atau karena banci sudah biasa bergaul dengan cewek dan merasa dirinya bagian dari komunitas cewek, atau karena belajar dari pengalaman. Entahlah, saya gak ngerti sama sekali.



Saya salut dengan talenta yang dimiliki banci tersebut, tapi saya sama sekali tidak suka dengan banci karena kebancian itu salah, dosa. Skip tentang banci...

Satu kesimpulan yang bisa saya hasilkan dari hal tersebut. Saya harus lebih banyak belajar tentang bagaimana cewek, bagaimana cara berpikirnya, dan sebagainya. Mungkin perlu untuk membaca dari buku yang membahas tentang cewek seperti buku Men Are from Mars, Women Are from Venus, atau mencari referensi dari yang lain. Tapi yang paling saya rekomendasikan untuk diri sendiri dan juga pembaca blog ini, carilah teman cewek yang bisa dipercaya. Kalau bisa langsung wawancarai temanmu tersebut, tanya lebih dalam tentang cewek. Karena yang lebih mengetahui tentang cewek, pastilah cewek sendiri dan kaumnya.




sumber gambar: Woman

Minggu, 24 Januari 2016

Dihantui rasa bersalah

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Minggu, Januari 24, 2016

Pernahkah anda dihantui rasa bersalah terus menerus selama bertahun-tahun? Saya pernah dan saat ini masih terus merasakannya. Rasa ini sangatlah tidak nyaman. Seperti ada yang mengganjal dalam hati. Hidup menjadi tidak tenang.

Jika kita melakukan salah kepada orang lain atau telah menyakiti orang lain, maka sebaiknya kita cepat-cepat memperbaiki kesalahan tersebut dan meminta maaf atas kesalahan yang kita buat. Daripada terus-terusan diihantui kesalahan tersebut.

Meminta maaf agak sulit untuk dilakukan, sehingga kita lebih sering memilih untuk tidak melakukannya dan menyimpan kesalahan di dalam hati. Tetapi di kemudian hari, rasa bersalah itu muncul dan terus mengingatkan kita akan hal yang kita perbuat tersebut.


Sebaiknya, setelah melakukan kesalahan kita langsung saja minta maaf. Lupakan gengsi dan  harga diri. Lupakan kedudukan dan jabatan kita. Minta maaflah segera karena dihantui rasa bersalah jauh lebih menyusahkan hidup.


Lakukan segera apa yang bisa kita lakukan hari ini.




sumber gambar: Get rid of guilt

Hal-hal luar biasa yang tidak bisa dibeli uang

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Minggu, Januari 24, 2016

Uang telah bersama kita lebih dari 10.000 tahun. Uang menjadi bagian utama dalam hidup hingga taraf dimana tanpa uang seakan-akan kita bisa mati. Uang awalnya ditemukan sebagai alat hitung, yang digunakan untuk memperkirakan nilai dari barang-barang dan kepemilikan.

Sebelum uang ditemukan, orang-orang biasa menukarkan barang-barang yang dapat dinilai yang dimiliki lebih, dengan benda yang dapat yang dihitung yang mereka tidak dapat hasilkan, buat, atau tanam.

Ironisnya, ribuan tahun yang lalu orang-orang kesulitan untuk menetapkan nilai tukar standar untuk barang yang bisa dihitung. Namun orang-orang sekarang kelihatan kesulitan dalam membedakan nilai dari sesuatu dengan hal yang tidak ternilai.


Hal terbaik di dalam hidup ini sama sekali gratis. Ada banyak hal dalam hidup kita dimana mata uang tidak memiliki harga; seperti pertemanan, keluarga, dan ingatan yang baik. Uang bukan merupakan hal terpenting karena uang tidak bisa membeli segalanya yang kamu perlukan untuk mendapatkan hidup yang bahagia.

Berikut ini hal-hal yang tidak bisa dibeli uang:
  1. Rasa Hormat Dari Orang Lain
  2. Pengetahuan dan Pengalaman 
  3. Kesehatan 
  4. Cinta 
  5. Kebahagiaan 
  6. Kedamaian hati 
  7. Kesenangan Karena Telah Memenuhi Mimpi-Mimpi 
  8. Teman Baik 
  9. Menciptakan Perbedaan di Dunia
  10. Percaya Pada Diri Sendiri 
  11. Melihat Orang Lain Bahagia 
  12. Jatuh Cinta Pertama Kali 
  13. Menepati Janji 
  14. Reputasi Yang Baik 
  15. Hubungan Dengan Anak 
  16. Cinta dan Perhatian
  17. Kesenangan dan Rasa Puas Hati 
  18. Masa Muda 
  19. Keadilan 
  20. Pikiran yang Terbuka 
  21. Tidak Hidup Dalam Penyesalan 
  22. Rasa Ingin Tahu 
  23. Cinta dan Kesetiaan dari Hewan Peliharaan 
  24. Bangun Pagi Setiap Hari 
  25. Hangatnya Senyuman 
  26. Seseorang yang Tidak Pernah Menyerah Untukmu 
  27. Memaksa Dirimu Mencapai Sesuatu yang Besar 
  28. Kembali Berkumpul Lagi Dengan Seseorang yang Disayangi
  29. Integritas
  30. Umur Panjang 
  31. 25 Jam Satu Hari 
  32. Kenangan yang Indah 
  33. Keluarga yang Hangat dan Bahagia 
  34. Waktu 
  35. Kebahagiaan 
  36. Pikiran yang Baik
  37. Satu hari Tanpa Kuatir
  38. Berhasil Mengatasi Masalah 
  39. Kesempatan Kedua Dalam Hidup 
  40. Apresiasi Terhadap Hal-Hal yang Kecil 
  41. Kepercayaan Dari Orang Lain 
  42. Permintaan Maaf yang Tulus 
  43. Sikap yang Positif 
  44. Keberuntungan 
  45. Kesabaran 
  46. Cinta Sejati 
  47. Talenta 
  48. Indahnya Matahari Diwaktu Terbit dan Terbenam
  49. Waktu Berkualitas Dengan Anak-Anak 
  50. Kebijakan 
  51. Rendah Hati 
  52. Cara Pandang yang Benar 
  53. Waktu Untuk Beristirahat 
  54. Kecantikan Alami 
  55. Menghabiskan Masa Tua Dengan Orang yang Dicintai 
  56. Seseorang yang Menyemangati
  57. Moral yang Baik 
  58. Tujuan Dalam Hidup 
  59. Kerja dan Hidup yang Seimbang 
  60. Anak-Anak yang Berkepribadian Baik
  61. Pendapat yang Jujur 
  62. Teman Naik yang Selalu Ada Untukmu 
  63. Keluarga yang Dapat Diandalkan 
  64. Humor dan Tawa 
  65. Sikap yang Baik 
  66. Seseorang yang Mendukung Mimpi-Mimpimu
  67. Kenangan Indah Saat Masih Sekolah
  68. Pelajaran yang Didapat Dari Saat-Saat yang Sulit
  69. Berpengharapan

Sabtu, 23 Januari 2016

Empati

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Sabtu, Januari 23, 2016

Hampir mustahil bagi kita untuk merasakan penderitaan orang lain jika kita tidak pernah merasakannya. Seorang pria tidak bisa memahami bagaimana rasanya nyeri haid pada wanita, hanya wanitalah yang mengerti. Tidak mungkin kita bisa mengerti rasanya tidak memiliki uang jika seumur hidup kita selalu berkelimpahan. Bagaimana mungkin kita merasakan bagaimana kelaparan jika kita sama sekali tidak pernah kekurangan makanan?

Kita mulai kehilangan empati pada orang lain. Tentu saja, karena umumnya kita terlalu mementingkan diri sendiri dan mengurangi intensitas dalam berhubungan dengan orang lain. Kita hidup untuk diri kita sendiri.

Menjadi seorang yang berhasil dengan mengutamakan kepentingan diri sendiri menjadi hal yang usang sekarang ini. Golden Rule lah yang saat ini membuat kita bisa berhasil. Lakukan apa yang terbaik yang bisa kita lakukan pada orang lain dan lingkungan, maka semuanya itu akan kembali kepada kita berlipat ganda. Egoisme sudah menjadi hal yang kuno dan tidak bermanfaat, altruisme sekarang yang menjadi trend.

Sama seperti hukum fisika Newton di mana ada aksi di situ ada reaksi, seperti itu juga kehidupan kita, disaat kita memberikan kontribusi kepada orang lain dan lingkungan kita, maka secara otomatis orang lain dan lingkungan akan memberikan kembali kontribusi pada diri kita. Dan yang lebih hebatnya, kontribusi kembali yang diberikan orang lain dan lingkungan berlipat ganda daripada yang kita berikan.

Kita harus memberikan yang terbaik yang bisa kita lakukan untuk orang lain. Jangan menahan-nahan potensimu.

Kamis, 21 Januari 2016

Tidak ada kesuksesan yang instan

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Kamis, Januari 21, 2016

Sama seperti keahlian yang perlu diasah terus, demikian juga sukses perlu latihan terus. Salah satu latihannya adalah berulang kali gagal. Mencoba dan gagal adalah hal lumrah untuk sukses. Namun kita umumnya tidak suka merasakan gagal, walaupun itu penting. Kita lebih suka sukses yang instan.

Kalau kita mau jujur dengan kenyataan dan belajar dari lingkungan, sukses selalu harus diraih dengan melakukan banyak kegagalan. Perhatikan orang-orang yang ahli dalam bermain alat musik seperti gitar, piano, saxophone, dan sebagainya. Apakah mereka bisa langsung ahli dalam menguasai alat musik tersebut? tentu tidak kan?. Atau lihat orang yang ahli dalam mengukir patung, apakah dia bisa mengukir jadi sebuah patung dalam satu hari tanpa perlu belajar terus menerus? Tentu tidak kan?. Jadi gagal itu perlu, gagal itu sebuah kewajiban untuk menjadi sukses.

Tidak ada kesuksesan yang instan. Yang ada cuma mie instan, kopi instan, dan makanan serta minuman instan lainnya. Hal yang instan membuat kita malas. Makanan dan minuman yang instan memang memudahkan dan mengefisienkan waktu kita, tapi efeknya untuk tubuh sangat besar. Hal-hal tersebut merusak tubuh kita.

Kesuksesan perlu proses, dan di dalam prosesnya tersebut kita semakin dipersiapkan untuk menerima hasilnya.




sumber gambar: Instant Pasta

Selasa, 19 Januari 2016

Bersikap bodoh itu pintar dan bersikap pintar itu bodoh

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Selasa, Januari 19, 2016

Terkadang berlagak bodoh itu lebih baik daripada berlagak pintar, karena orang yang berlagak bodoh memiliki elemen kejutan karena dianggap sepele oleh orang lain. Berlagak pintar sebaliknya malah memberikan efek buruk karena orang yang berlagak pintar cenderung sok tahu semuanya, dan biasanya orang yang berlagak pintar cenderung memberikan informasi yang berlebihan yang seharusnya orang lain tidak perlu tahu.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa sekalipun kita memiliki kepintaran di atas rata-rata, kita kemungkinan melakukan kesalahan ketika mencoba menyelesaikan sebuah masalah sederhana karena penyimpangan penilaian. Hal ini dikenal sebagai "bias kognitif".

Untuk menghasilkan kesimpulan ini, sebuah tim peneliti dari Universitas Toronto memberikan 482 mahasiswa sebuah kuisoner persoalan bias klasik untuk diselesaikan. Satu contoh pertanyaannya adalah berikut ini:
Sebuah tongkat pemukul dan bola seharga satu dollar dan 10 sen. Tongkat pemukulnya seharga satu dollar lebih dari bolanya. Berapakah harga bolanya?
Jika anda tergesa-gesa, anda mungkin akan menjawab harga bolanya 10 sen. Tidak: harganya 5 sen. Jika anda menjawab salah, berarti otak anda mengambil jalan pintas karena menganggap jawabannya masuk akal, tetapi mengabaikan perhitungan matematikanya. (Jika anda beranggapan tiap orang yang menjawabnya orang bodoh, silahkan dengar faktanya: lebih dari 50 persen mahasiswa Harvard, Princeton, dan M.I.T memberikan jawaban yang salah)

Sok Tahu
Sering sekali kita malah berlagak sok tahu dan akhirnya terperangkap dalam kebodohan sendiri. Kita gagal mengenali kekurangan kemampuan/skill yang dimiliki. Gagal mengenali batasan pengetahuan sendiri. Dan gagal mengenali kemampuan/skill yang orang lain miliki.

Daripada berlagak sok tahu yang malah akhirnya mempermalukan diri sendiri, lebih baik kita diam dan melakukan yang terbaik yang bisa kita berikan tanpa perlu mengumbar-ngumbar kemampuan dan pengetahuan yang kita miliki.



Referensi:
1. Why Smart People Are Actually Dumb
2. Dunning–Kruger effect
3. Dumb is Smart and Smart is Dumb


Sumber gambar: http://tvtropes.org/pmwiki/posts.php?discussion=1316766923044417300&page=3

Uang tidak bisa membeli segalanya

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Selasa, Januari 19, 2016

Saya teringat sebuah frasa dalam bahasa inggris yang kebanyakan mungkin orang tahu:

"Money Can't Buy You Anything"
yang kalau diartikan dalam Bahasa Indonesia menjadi:
"Uang Tidak Bisa Membeli Segalanya"

 Namun kita sering lupa akan perkataan tersebut. Menganggap uang segalanya, berpikir bahwa uang dapat memberikan apa yang kita mau. Kenyataannya tidak semuanya dapat dibeli dengan uang. Uang hanyalah alat pembayaran yang kita buat. Apakah uang menentukan hidup kita? Tentu saja tidak. Mari kita coba merenung, selama ini apa yang sebenarnya kita cari? Apakah kita mencari uang? Apakah kita cuma mencari kebebasan finansial? Lalu setelah itu apa?. Sebenarnya yang kita perlukan bukan uang, tetapi pemenuhan keinginan hati yang dapat dipenuhi oleh uang. Perlu digarisbawahi, tidak semuanya dapat dipenuhi oleh uang.

Saya menemukan sebuah cerita yang mungkin akan memberikan wawasan kita tentang apa yang tidak bisa dibeli oleh uang. Seperti ini ceritanya:

Niko adalah seorang anak laki-laki berumur 10 tahun. Ia anak satu-satunya dari orang tuanya. Ayahnya adalah seorang pebisnis pekerja keras sehingga hampir tidak pernah menghabiskan waktunya dengan anak laki-lakinya. Ayah Niko pulang ke rumah saat Niko telah tertidur, dan meninggalkan rumah sebelum Niko bangun, atau masih tidur sampai Niko pergi ke sekolah. Ayah Niko jarang sekali mempunyai waktu untuk bersama dengan keluarganya. Dia tidak bisa menemani Niko maupun keluarga. Sama seperti anak laki-laki lainnya, Niko ingin bermain di luar rumah bersama Ayahnya dan bersenang-senang dengannya. 
Suatu hari, Niko sangat terkejut dan gembira melihat ayahnya di rumah pada sore hari.
"Ayah, suatu kejutan besar melihat ayah ada di rumah" kata Niko.
"Iya nak, meeting ayah dibatalkan dan penerbangan ayah selanjutnya tertunda 2 jam. Jadinya ayah di rumah", jawab ayahnya. 
Percakapan Niko dan Ayahnya:
Niko: "Yah, boleh aku nanya?"
Ayah: "Ya nak, silahkan."
Niko: "Kapan ayah kembali lagi?"
Ayah: "Besok sore."
Niko: "Yah, berapa penghasilan ayah setahun?"
Ayah: "Sayang, jumlahnya sangat besar, kamu pasti tidak akan memahaminya."
Niko: "Ok yah, Ayah senang dengan jumlah pendapatan itu?"
Ayah: "Iya sayang. Ayah sangat senang, bahkan ayah berencana meluncurkan kantor cabang baru dan bisnis baru dalam beberapa bulan. Luar biasa kan?"
Niko: "Iya yah. Niko senang mendengarnya."
Ayah: "Jadi nak, kamu masih punya pertanyaan lainnya?"
Niko: "Ada yah, aku punya satu pertanyaan lagi."
Ayah: "Ya, tanya lah!"
Niko: Yah, Ayah gak mau memberi tahu berapa banyak penghasilan ayah setahun atau sebulan. Tapi maukah ayah beri tahu berapa penghasilan ayah sehari atau setengah hari?
Ayah: "Kenapa Niko nanyanya gitu? Ayah kan sudah mencukupkan semua kebutuhan Niko."
Niko: "Bukan itu maksud Niko yah, Ayah selalu memberikan yang terbaik untuk Niko, tapi Niko senang kalau Ayah beri tahu berapa pendapatan Ayah satu jamnya."
Ayah: "Nak, itu gak adil. Niko harusnya gak boleh mempertanyakan penghasilan ayahnya sendiri." 
Niko lalu meminta dukungan Ibunya agar mendukung pertanyaan ke Ayahnya tadi. 
Niko dan Ibunya meminta jawaban tentang berapa pendapatan Ayahnya perjam, atau pendapatan hariannya. 
Ayah Niko menjawab pertanyaan tersebut, pendapatannya sekitar Rp. 500.000 per jam. 
Niko berlari ke kamarnya, dan datang dengan membawa celengan yang berisi tabungannya. 
"Yah, Niko punya uang Rp. 1.500.000 di celengan ini. Bisakah Ayah menyediakan waktu 3 jam untuk Niko? Niko mau pergi ke pantai dan makan malam bersama Ayah besok malam. Maukah Ayah memasukkannya ke jadwal Ayah?" Kata Niko. 
Ayah Niko terdiam seribu bahasa!




Inti dari cerita di atas adalah:
Mengejar uang membuat anak-anak kehilangan kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya. Uang tidak bisa membeli segalanya.




referensi:
Money Can’t Buy Everything
Father Son Conversation

Senin, 18 Januari 2016

Hidup itu sederhana

by Unknown  |  in Opini at  Senin, Januari 18, 2016
Hidup itu sederhana. Kita aja yang sering membuatnya rumit. Coba pikirkan saja, hidup yang kita jalani seharusnya tidak terlalu sulit, cuma makan, minum, cari pekerjaan untuk memenuhi keperluan sandang dan pangan, beragama, dan melakukan yang terbaik di dalam prosesnya. Cukup sederhana kan?

Trus bagaimana dengan masalah dan kesulitan, masa depan, dan uang?. Menurut saya (ini menurut saya yah, opini gitu), hal-hal tersebut cuma tambahan aja, gak lebih. Mengapa mesti takut sama itu, toh semuanya pasti bisa dilalui, toh palingan efek yang paling besar cuma mati kan?, dan efek terbesar tersebut paling jarang terjadi, kecuali di daerah yang terkena wabah kelaparan. Kalau kita punya iman yang kuat, kematian itu bukan hal yang menakutkan. Bahkan kematian menjadi sebuah kegembiraan yang meluap-luap, karena orang yang punya iman percaya bahwa ia memiliki janji keselamatan melalui hidup setelah kematian.

Pendapat saya tersebut mungkin kelihatan seperti optimisme yang berlebihan. Mungkin saja. Namun, mari kita kembali berpikir. Apakah tanpa optimisme ada pengaruh berarti bagi kehidupan kita? Apa dengan kuatir dapat mengubah kehidupan kita? Tentu saja tidak. Orang-orang yang sukses hampir tidak memiliki kekuatiran dalam hatinya,  itu sebabnya mereka sukses.

Perlu saya tekankan, optimisme yang saya maksud bukan optimisme yang tanpa arah tetapi optimisme yang jelas dan terarah. Orang-orang yang optimis mempunyai tujuan dan arah yang jelas di hidupnya. Mereka punya blueprint yang jelas akan masa depannya.

Jangan kuatir akan masa depanmu, sebab kekuatiran tidak menambah sehasta pun untuk umurmu.

Membaca bersuara atau membaca diam?

by Unknown  |  in Saran at  Senin, Januari 18, 2016

Sebagian orang membaca bersuara ada juga yang membaca diam, mungkin karena sebagian orang lebih cocok di salah satu cara tersebut atau adakah faktor yang lain?.

Berdasarkan hasil riset, ternyata cara membaca bersuara lebih tepat dilakukan oleh anak-anak atau orang yang baru belajar membaca hal ini ditujukan untuk mengenalkan kata, cara baca, susunan kata, hubungan kata dengan kata lain, dan memetakan serta merelasikan kata dengan artinya. Anak-anak akan memiliki peta mental dari kata yang dibacanya, pengenalan kata dan hubungannya ke penulisan, dan kemampuan berbicara yang baik 12.

Setelah dewasa maka kemampuan yang didapatkan dari membaca bersuara telah tertanam di dalam otak, sehingga membaca dengan bersuara tidak diperlukan lagi dalam membaca sebuah tulisan. Membaca bersuara bisa dilakukan tetapi tidak menambahkan kemampuan mengenal bacaan lebih baik.

Membaca diam malah terbukti lebih baik dalam mengembangkan kemampuan belajar pada pelajar tingkat menengah 3, 7. Otak kita hampir tidak membedakan antara membaca bersuara dan membaca diam ketika kita sudah memiliki kemampuan membaca yang baik 456. Sehingga lebih baik kita membaca diam karena kita tidak perlu menghabiskan energi untuk berbicara.

Membaca bersuara sebenarnya memiliki sebuah kelemahan; orang yang membaca bersuara akan memiliki kecepatan baca yang dibatasi oleh kecepatan berbicaranya. Coba anda berbicara secepatnya, lalu coba anda berbicara di dalam hati secepatnya, manakah yang lebih cepat? Tentu berbicara dalam hati bukan? Hal inilah yang menyebabkan kebanyakan orang yang senang membaca buku tidak pernah mengeluarkan suara saat sedang membaca. Membaca bersuara hanya akan memperlambat kecepatan membaca kita.



Referensi:
1. Phonics and Word Recognition Instruction in Early Reading Programs: Guidelines for Accessibility
2. The Difference Between Decodable Words and Sight Words
3. Rosseau, Alison S., Effects of Silent Reading on Intermediate Students' Reading Growth
4. Broca’s area doesn’t care what you do (syntactically): it cares how you do it (actively)
5. Magrassi, Lorenzo. Sound Representation In Higher Language Areas During Language Generation
6. MC, Tate.Probabilistic Map of Critical Functional Regions of the Human Cerebral Cortex: Broca's Area Revisited.
7. Elfrieda H. Hiebert and D. Ray Reutzel, Revisiting Silent Reading: New Directions for Teachers and Researchers



sumber gambar: https://en.wikipedia.org/wiki/Reading_(process)