Software Manajemen dan Calibre

Software Manajemen dan Converter E-book

Aplikasi Toko

Program Aplikasi Toko Sederhana Dengan VB 2008 dan Mysql

Biji Terkecil dan Terbesar di Dunia

Biji Terkecil Di Dunia : Biji Anggrek Epifit

When I See You Smile

When I See You Smile, John Waite atau Yoda, Sebuah Opini

Kompres Foto dengan Caesium

Kompres Ukuran Foto yang Besar dengan Caesium

10 Kebiasaan Pembatas Karir

Apakah Anda Memilikinya? Ingin Mengatasinya?

Rabu, 01 Juli 2015

Sadar akan kesalahan



"Sebuah kesalahan dapat diperbaiki jika kita sudah mengakui kesalahan tersebut.", kalimat ini telah memberikan saya sebuah wawasan baru atau dalam istilah filsafatnya telah memberikan pencerahan pada hidup saya. Banyak hal yang selama ini tidak mengalami perubahan hanya dikarenakan saya tidak mengakui bahwa hal-hal itu merupakan kesalahan yang senantiasa saya perbuat. Saya tidak mencapai apa yang saya inginkan karena saya telah salah melakukannya.

Perlu saya akui memang faktor keras kepala dan menganggap diri benar merupakan alasan mengapa saya tetap bersikukuh melakukan kesalahan terus-menerus. Dan terkadang harga diri juga turut berperan di dalamnya. Sesuai dengan sifat alamiah manusia untuk mempertahankan hidup saat dalam bahaya, saya mencoba bertahan untuk tetap dalam kesalahan untuk mempertahankan posisi saya dari serangan yang menelanjangi semua kesalahan yang ada pada diri ini.

Namun sayangnya, ternyata arti harga diri ini tidak sebanding dengan harga yang harus saya terima dalam hidup. Semua memang telah terjadi dan saya harus tetap hidup meskipun harus hidup oleh akibat kekerasan kepala sendiri. Untungnya saat ini saya telah tahu sebagian besar apa yang salah dan keputusan apa yang salah yang harus saya akui dan benahi. Saya memiliki pasangan yang mampu memberikan sinar hidup yang menghidupkan saya, dan saya memiliki Tuhan saya yang senantiasa setia walau hambaNya ini senantiasa jatuh dalam dosa dan kesalahan. Saya tahu saya bisa berhasil dalam hidup ini.

Karena tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya.

Selasa, 30 Juni 2015

Sekilas Neuroplastisitas atau Plastisitas Otak




Neuroplastisitas atau Plastisitas Otak yang di dalam bahasa inggris disebut Neuroplasticity atau Brain Plasticity sering disalahartikan sebagai kemampuan otak untuk meregenarasi dirinya secara total. Kemampuan otak ini lebih bisa diartikan seperti seorang normal yang kehilangan kakinya. Dimana setelah beberapa waktu setelah kehilangan tubuhnya akan melakukan penyesuaian sendiri dan menyeimbangkan tubuh sehingga orang tersebut akan menjadi terbiasa untuk menggunakan satu kaki saja. Seperti itulah sifat plastisitas otak. Oleh karena itu jika terjadi kerusakan otak permanen seperti akibat kecelakaan atau penyakit yang terjadi pada otak maka otak tidak bisa memperbaiki dan menggantikan kerusakan itu tetapi otak akan melakukan penyesuaian untuk menggantikan fungsi yang sebelumnya dilakukan di bagian yang rusak tersebut.

Plastisitas otak lebih tepat diartikan sebagai perubahan jalur saraf dan sinapse berkenaan dengan perubahan sifat, lingkungan, proses saraf, proses berpikir, dan emosi, serta perubahan yang terjadi akibat cedera fisik. Pengertian ini tepat seperti pengertian yang bisa didapatkan di wikipedia berbahasa inggris dengan kata Neuroplasticity(1). Sayangnya di wikipedia berbahasa Indonesia arti dari Neuroplastisitas(2) masih mengarah kepada pengertian yang salah yang telah dijelaskan pada paragraf sebelumnya.

Tipe plastisitas otak dapat dibagi menjadi tiga:
  1. Experience-independent / Independen terhadap pengalaman
  2. Experience-expectant / Mengharapkan pengalaman
  3. Experience-dependent / Bergantung pada pengalaman 
Plastisitas Experience-independent umumnya merupakan proses yang terjadi pada masa pra-kelahiran.

Plastisitas experience-expectant umumnya terjadi pada masa perkembangan. Salah satu contohnya dapat dilihat pada percobaan yang dilakukan pada seekor anak kucing. Jika anak kucing setelah dilahirkan salah satu matanya tetap ditutup, mata yang terbuka akan memperluas area penglihatannya yang menyebabkan kolom saraf yang berhubungan dengan mata tertutup mengalami penyusutan. Ketika mata yang tertutup dibuka, penglihatan anak kucing tersebut menjadi terganggu.

Plastisitas experience-dependent merupakan proses perubahan susunan saraf yang sudah ada. Hal ini dapat ditemukan pada situasi dimana hewan mempelajari sebuah masalah, saat hewan menerima perubahan lingkungan yang sangat besar, cedera, atau respon terhadap pengalaman abnormal seperti obat psikoaktif. Pengalaman ini menyebabkan peningkatan dan penurunan jumlah sinapse, bahkan pada hewan yang sama, tetapi pada bagian otak yang berbeda.

Kemampuan otak untuk melakukan perubahan ini telah memberikan manusia wawasan baru tentang bagaimana cara mengembangkan diri. Dari penemuan ini disimpulkan bahwa setiap manusia memiliki kemampuan untuk memperbaiki tingkat pengetahuannya, sifatnya, sikapnya, dan kebiasaannya. Sehingga pemahaman bahwa setiap manusia sudah ditakdirkan seperti apa adanya--kaya, miskin, bodoh, pintar, pemalas, rajin, cekatan, lamban--sudah tidak relevan lagi.

Setiap manusia memiliki kemampuan untuk mengubah keadaannya. Tentunya jika manusia itu sendiri mau.



Referensi:
(1) Neuroplasticity, https://en.wikipedia.org/wiki/Neuroplasticity, diakses pada 30 Juni 2015 02:24 WIB.
(2) Neruplastisitas, https://id.wikipedia.org/wiki/Neuroplastisitas, diakses pada 30 Juni 2015 02:24 WIB.
(3) Brain Plasticity In The Developing Brain, Bryan Kolb dkk, http://sites.oxy.edu/clint/physio/article/BrainPlasticityintheDevelopingBrainKolb2013.pdf .
(4) The Power of Habit: Why We Do What We Do in Life and Business, Oleh Charles Duhigg, Penerbit Random House Trade Paperbacks.

Jumat, 26 Juni 2015

Calibre Error Opening PDF File



Recently I'm trying to manage by ebooks collection by using Calibre. From my previous usage with Calibre and previous Slackware, I haven't a single problem when opening an ebook with pdf type. But now when I'm opening pdf ebook with Calibre it always open it with Karbon. Well, this really a big mess, how can I read an ebook with svg editor ?

That's turn out to be a problem with mime type association. With some googling I've found the solution for it:

First, find the default application when opening pdf file by using the following command:
 xdg-mime query default application/pdf  
with result:
 kde4-karbon.desktop  
From here I know that my system defaulting to karbon when opening a pdf file.

Second,  I must change it to my pdf application which is Okular with the following command:
 xdg-mime default okular.desktop application/pdf  
Now my Calibre happily open a pdf file with Okular.


sources of inspiration:
1.xdg-open
2.How to properly and easy configure `xdg-open` without any enviroment?

Rabu, 24 Juni 2015

Masa paling gagal di dunia



Ada masa dimana kita merasa menjadi orang yang paling gagal di dunia. Hidup kita seperti tidak berharga dan tidak mempunyai fungsi yang bisa dipakai lagi. Saat-saat ini menjadi momen yang sepertinya membuat kita jatuh dan tidak bangkit lagi. Kita merasa tidak punya harapan. Kekuatan yang kita miliki serasa hilang dan setiap bagian dari tubuh menjadi lunglai tidak bertenaga. Kita menjadi putus asa dan kehilangan arah. Dan disaat ini juga apa yang kita miliki tidak ada harganya, orang-orang yang kita cintai juga sepertinya ikut menghancurkan hidup kita yang sudah tidak berguna lagi.

Saya juga pernah mengalaminya dan bahkan saat ini juga mengalaminya.

Momen seperti ini tidak mudah untuk dilewati. Kalau ada seseorang yang mengatakan dan menganjurkan supaya semangat dan berkata "Semangatlah!", maka saya pikir dia tidak tahu dan tidak pernah mengalami momen menyedihkan ini. Tidak mungkin orang yang putus asa dapat memunculkan semangat dari hatinya yang sudah patah arang. Tidak mungkin orang yang merasa dirinya tidak berharga dengan seketika bisa memunculkan keriangan di dalam hidupnya. Orang yang mengatakan "bersemangatlah!" kepada orang yang tidak punya harapan sama seperti mengatakan kepada orang buta "Melihatlah!".

Momen ini hanya bisa dilewati dengan kepasrahan diri. Dengan berserah diri sepenuhnya pada Tuhan. Menyerahkan segenap hati dan masalah pada Sang mahakuasa. Tetapi apakah harapan bagi orang Ateis? kemanakah mereka menyerahkan harapannya?

Di momen seperti ini kita butuh orang yang peduli pada masalah yang kita hadapi. Kita butuh orang yang pernah merasakan hal yang sama dan mampu berempati atas kegagalan dan kelemahan kita. Kepedulian orang lain memberikan angin sejuk bagi hati kita yang perih.

Minggu, 21 Juni 2015

Selesai membaca satu buku



Akhirnya selesai juga membaca satu buku untuk proyek aplikasi selanjutnya...:D.

Buku yang saya baca tersebut cukup banyak memberikan pemikiran baru. Membuka wawasan baru untuk saya akan hidup ini.
Pemikiran baru itu adalah :
1. Untuk menyelesaikan sesuatu tidak selalu benar untuk berpikir bahwa ada yang dikorbankan untuk penyelesaian tersebut.
2. Tidak cukup hanya semangat untuk sampai kepada sebuah tujuan yang kita tetapkan. Tetapi selalu butuh determinasi dan konsistensi. Karena jika hanya semangat maka setelah semangat habis tidak ada yang kita kerjakan selanjutnya.
3. Pikirkan apa yang ingin kamu capai maka kamu akan mencapainya. Bukan pikirkan apa yang tidak ingin kamu capai.

Saya setidaknya harus meninjau ulang buku yang saya baca tersebut. Agar lebih mendalam lagi apa yang saya dapatkan..hehehe :D