Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 02 Februari 2016

Kepercayaan yang membatasi diri

by Joielechong sipayung  |  in Pengembangan Diri at  Selasa, Februari 02, 2016

Pernahkah anda merasa tidak mampu melakukan sesuatu padahal anda belum pernah mencobanya? Berarti saat ini anda terjebak dalam kepercayaan yang membatasi diri.

Umumnya kita diingatkan akan ketidakmampuan diri kita dalam melakukan hal-hal tertentu. Sering kita dibatasi dengan kata-kata yang membuat kita rendah diri, seperti kata-kata berikut:

  • Kamu Payah
  • Tidak Ada Yang Bisa Kamu Lakukan
  • Kamu Tidak Mampu
  • Kamu Lemah
  • Kamu Tolol
  • Kamu Lamban
  • Kamu Bodoh
  • Kamu Tidak Punya Talenta
  • Kamu tidak Bisa Melakukannya
  • Itu Sulit Dilakukan
  • itu tak mungkin diselesaikan
  • Terlalu susah
  • Terlalu payah
  • Tidak mungkin
  • Mustahil
  • Kamu Pasti gagal
  • Sia-sia pekerjaanmu



Mungkin hampir setiap hari kita mendengar kata-kata tersebut sehingga secara tidak sadar, alam bawah sadar kita merekam dan menyimpannya. Dan ketika kita merasakan kegagalan, maka rekaman dari alam bawah sadar tersebut muncul dan memberikan kita pemikiran bahwa kita sungguh-sungguh seorang yang gagal. Padahal kegagalan sama sekali bukan hal yang permanen. Tidak ada orang yang gagal, yang ada hanya pola pikir yang gagal.

Pola pikir yang gagal ini harus diubah. Kita harus memulai dengan memberikan kata-kata yang positif pada diri sendiri. Daripada mengatakan bahwa Anda lamban, ganti dengan Anda kurang cepat. Jika anda selalu berkata "Aku tidak mampu melakukan sesuatu", ganti dengan "Aku bisa melakukannya, caranya saja yang tidak tepat". Hal ini sama dengan cara pandang anda dalam melihat sebuah gelas yang berisi air. Jika anda mengatakan airnya setengah penuh, maka fokus anda pada kelimpahan yang anda miliki. Jika anda mengatakan airnya setengah penuh, maka fokus anda pada kekurangan yang anda miliki. Anda bisa melakukan banyak hal jika mengubah sudut pandang anda.

Mulai sekarang gunakan kata-kata yang meningkatkan kepercayaan diri anda, seperti kata-kata berikut:

  • Aku bisa melakukannya
  • Aku mampu
  • Ini agak tidak mudah
  • Aku belum menemukan solusinya
  • Aku belum sukses
  • Aku memang sedikit kurang cepat
  • Aku memang kurang cekatan
  • Aku hanya kurang mengerti
  • Aku belum tahu semuanya
  • Ini pasti ada manfaatnya, hanya cara saja yang salah





Ubah kepercayaan yang membatasi diri anda. Tanamkan hal yang baik pada diri anda sekarang.



Sumber gambar: http://breathingprosperity.com/blog/tag/get-rid-of-limiting-beliefs

Senin, 01 Februari 2016

Anda berbeda dari orang lain, Jadilah diri sendiri

by Joielechong sipayung  |  in Pengembangan Diri at  Senin, Februari 01, 2016

Setiap orang punya kemampuannya tersendiri. Ada yang punya kemampuan lebih dalam berkomunikasi. Ada juga yang punya kemampuan untuk beradaptasi secara cepat dengan lingkungannya. Dan ada juga orang yang memiliki kemampuan untuk berpikir cepat. Masing-masing orang memiliki kelebihan tersendiri.

Kalau kita coba mengamati lingkungan sekitar kita, maka kita akan mendapati ada beberapa hal yang sepele menurut kita tetapi bagi orang lain sangat sulit untuk dilakukan. Seperti yang terjadi sama saya, bagi saya mengatur tingkat kecerahan layar komputer sangatlah mudah; tinggal cari settingan saja lalu sesuaikan dengan keinginan. Namun bagi kebanyakan orang, hal ini sepertinya mustahil dilakukan. Sebaliknya, bagi saya sangat sulit untuk berbicara tegas terhadap orang lain, namun bagi beberapa orang hal tersebut amat gampang dilakukan.


Hal ini bukan berarti kita memiliki kemampuan yang lebih rendah dibandingkan orang lain. Tetapi dengan kemampuan dan talenta yang berbeda-beda, kita menjadi orang-orang yang saling melengkapi. Sosialisasi terjadi karena perbedaan dan kemajemukan di antara kita. Tindakan dan kemampuan kita membentuk orang lain dan sekitar serta secara tidak langsung membentuk diri kita sendiri. Apa yang kita berikan akan kembali kepada kita sendiri.

Oleh karena itu, jangan pernah menganggap rendah orang lain. Dan jangan pernah menganggap rendah dirimu sendiri. Kita semua diciptakan secara khusus, masing-masing dengan keunikannya sendiri. Jangan mencoba menjadi orang lain. Jadilah dirimu sendiri.


"To help yourself, you must be yourself. Be the best that you can be. When you make a mistake, learn from it, pick yourself up and move on." Dave Pelzer

Sumber gambar: Be yourself, everyone else is taken

Minggu, 31 Januari 2016

Prinsip ekonomi lama tidak berlaku lagi

by Joielechong sipayung  |  in Pengembangan Diri at  Minggu, Januari 31, 2016
Harus kita akui, bahwa kita lebih memilih untuk mempercayai konsep ekonomi yang sudah kuno dan tidak berlaku lagi dalam hidup, "Dengan biaya yang sekecil-kecilnya, mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya", daripada belajar mempercayai bahwa dengan kerja keras, pengorbanan yang besar, dan ketekunan baru bisa dihasilkan sesuatu yang besar.

Kecenderungannya, kita suka mengharapkan hasil yang fantastis dengan cara yang biasa, santai, dan murah. Namun harapan kita itu sia-sia. Tidak ada hal yang besar yang bisa kita hasilkan jika kita hanya melakukan hal yang kecil.


Hal ini sama seperti upaya kita ingin membentuk otot agar tubuh lebih atletis. Otot akan bekerja normal dengan beban yang normal yang dapat ditanggungnya. Jika beban yang ditanggung amat kecil maka kerja otot pun sangat kecil. Untuk mengembangkan otot supaya lebih besar, maka kita harus memberi beban yang lebih besar dari yang biasa ditanggung otot. Jika kita hanya memberi beban yang biasa-biasa saja, maka otot sama sekali tidak berkembang. Otot harus bekerja diluar batas nyamannya untuk berkembang. Setelah beberapa bulan dengan latihan yang berat, maka otot telah berkembang sesuai dengan beban yang dapat ditanggungnya. Beban yang berat sebelumnya tersebut akan menjadi batas normal bagi otot, sehingga otot perlu beban yang lebih berat lagi untuk berkembang. Otot perlu kerja keras untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.

Demikian juga yang terjadi dalam hidup. Kita tidak mungkin mengharapkan hal yang luar biasa dengan kebiasaan yang biasa, pola hidup yang biasa, kerja yang biasa, dan tanggung jawab yang biasa. Tidak mungkin mengharapkan sesuatu menjadi luar biasa tanpa ada perubahan yang besar.


"Manusia adalah satu-satunya mahkluk hidup yang mengharapkan hasil yang berbeda dengan cara yang sama". Albert Einstein

Tepat seperti kata Einstein tersebut. Kita mengharapkan sesuatu yang berbeda padahal cara yang kita lakukan tetap sama. Kita memilih menutup mata dan bersikap picik tetapi tidak berusaha untuk mengubah diri kita sendiri.


Mari kita berhenti bersikap biasa-biasa saja, mari bertindak luar biasa untuk menghasilkan hal yang luar biasa.

Sabtu, 30 Januari 2016

Pria Tua, Anak Laki-laki, dan Keledai

by Joielechong sipayung  |  in Pengembangan Diri at  Sabtu, Januari 30, 2016

Kita pada dasarnya selalu ingin dicintai orang lain. Kita tidak ingin orang lain di luar sana berpikiran buruk tentang diri kita. Namun kita sama sekali tidak perlu menyenangkan semua orang agar selalu dicintai. Kita malah akan mengecewakan orang lain jika berusaha menyenangkan setiap orang. Kehidupan ini akan menjadi pengalaman yang menyusahkan dan rumit jika kita menjadi seperti yang orang lain inginkan.


Ada sepenggal cerita dari buku "Book Yourself Solid" oleh Michael Port, yang dapat memberikan kita wawasan bahwa kita tidak pernah dapat menyenangkan setiap orang. Bahkan sekadar mencobanya adalah suatu usaha yang sia-sia.
    Seorang pria tua, seorang anak laki-laki, dan seekor keledai pergi ke kota. Anak laki-laki tersebut naik keledai dan pria tua itu berjalan di sampingnya. Ketika mereka berjalan bersama-sama, mereka berpapasan dengan beberapa orang yang mengatakan bahwa rasanya memalukan karena pria tua itu berjalan kaki sedangkan anak laki-laki itu naik keledai. Pria tua dan anak laki-laki itu berpendapat mungkin kritik itu benar, jadi mereka bertukar posisi. 
    Kemudian, mereka berpapasan dengan beberapa orang yang mengatakan, "Betapa memalukan! Ia membiarkan anak kecil itu berjalan kaki." Mereka kemudian memutuskan bahwa mereka berdua akan berjalan kaki. 
    Tidak lama kemudian, mereka berpapasan dengan beberapa orang lain yang beranggapan bahwa mereka bodoh dengan berjalan kaki, padahal mereka mempunyai keledai yang layak untuk ditunggangi. Oleh karena itu, mereka berdua naik keledai tersebut. 
    Sekarang mereka berpapasan dengan beberapa orang yang mengolok-olok mereka dengan mengatakan betapa mengerikan menaruh beban seberat itu di atas keledai yang malang tersebut. Anak muda dan pria itu mengatakan bahwa barangkali orang itu benar, sehingga mereka memutuskan untuk menggotong keledai tadi. Ketika mereka menyeberangi jembatan, mereka kehilangan pegangan pada binatang tersebut, dan keledai itu pun jatu ke dalam sungai dan tenggelam.


Moral dari cerita tersebut? Jika Anda mencoba untuk menyenangkan setiap orang, mungkin Anda juga akan mengucapkan selamat jalan kepada keledai Anda.

Kamis, 28 Januari 2016

Tujuan tanpa ada rancangan dan usaha sama dengan sia-sia

by Joielechong sipayung  |  in Pengembangan Diri at  Kamis, Januari 28, 2016

Walaupun sudah beberapa buku saya baca tentang pengembangan diri, saya masih saja sering terjebak dengan kebiasaan lama. Salah satu kebiasaan lama yang masih sering muncul adalah harapan bahwa sebuah tujuan bakalan segera tercapai tanpa perlu usaha.

Tidak ada tujuan yang bisa tercapai tanpa adanya usaha dari diri kita sendiri. Semakin besar tujuan yang ingin dicapai maka semakin besar pula usaha yang harus dikerjakan. Hal ini seperti saat kita bermain ayunan, semakin besar tolakan kita maka semakin jauh jarak ayunannya. Juga sama seperti halnya prinsip bertanam padi, untuk mendapatkan padi kita harus menyiapkan bibit, kemudian menyemai bibit, menanam bibit ke sawah, menyianginya, kemudian menunggu sampai padi besar dan menghasilkan bulir padi yang sudah masak, lalu kemudian menyabitnya untuk dipanen. Tidak ada istilah 'seketika' dalam proses menanam padi tersebut.

Rasa Malas
Rasa malaslah yang sering mengikat kita dengan mimpi-mimpi yang tidak masuk akal. Mimpi yang paling sering kemungkinan adalah mendapatkan undian berhadiah, namun hampir mustahil mimpi itu tercapai. Kalu kita lakukan perhitungan dengan hukum probabilitas, dimana rata-rata orang yang ikut undian berhadiah sekitar satu juta orang, maka peluang kita sangatlah kecil. Peluangnya 1:1.000.000, yakni 0,000001%, bahkan tidak sampai 1% !. Boleh saja kita boleh bermimpi yang tinggi, tetapi harus selalu dibarengi dengan kerja keras bukan cuma lamunan sesaat.

Tentu sebagian dari kita berpikir kalau Tuhan berkehendak, maka mukjizat pasti terjadi. Namun marilah kita kembali berpikir, marilah kita melihat pada kehidupan sehari-hari. Apakah kita yang sudah menjadi Ayah atau Ibu mau memberikan anaknya sesuatu tanpa mengajarkan pentingnya usaha? Maukah kita membiarkan anak-anak kita bermalas-malasan tanpa mengerjakan apapun? Atau kita hanya memberi apapun yang diminta mereka tanpa mau bergaul akrab dengan anak-anak kita tersebut? Celakalah kalau Anda seperti itu!. Orang tua yang baik akan memikirkan dan mengajarkan anaknya untuk hidup mandiri. Begitu juga sang Pencipta kita!


Tetapkan Rancangan
Hal ini berkali-kali sudah saya katakan kepada diri sendiri dan sudah sering saya tuliskan berulang-ulang di beberapa artikel sebelumnya. Namun karena sifat alamiah kita untuk melupakan sesuatu, maka baiknya kita terus diingatkan akan pentingnya rancangan.

Untuk mendirikan bangunan yang baik diperlukan rancangan yang baik. Demikian juga hidup kita. Untuk menentukan hidup yang baik maka kita perlu membuat rancangan kehidupan yang baik. Tanpa ada rancangan kita sama seperti orang yang berharap mempunyai padi ada tanpa perlu menanamnya. Demikian juga halnya dengan pekerjaan yang saya lakukan sekarang.

Saya saat ini sedang mengerjakan sebuah program hitung dan sebuah program game di Android dengan tim saya. Tidak mungkin kami mengerjakan program tersebut tanpa ada rancangan yang jelas. Tentu saja rekan satu tim saya akan bingung dan tidak tahu akan mengerjakan apa. Kami butuh rancangan yang jelas.


Kalau kita ingin memiliki hidup yang baik maka kita harus menetapkan rancangan yang baik untuk kehidupan kita, bukan orang lain. Orang lain tidak mengetahui siapa diri kita. Hanya ada dua yang mengetahui, yang pertama adalah Sang Pencipta kita, yang kedua adalah diri kita sendiri. Hanya kita yang mengerti apa yang kita mau. Tentu saja kita butuh orang lain, karena apalah tujuan hidup kita jika kita tidak bisa memberikan sumbangsih bagi kehidupan orang lain?

Tetapkan rancangan hidupmu. Tetapkanlah sekarang!