Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 18 Agustus 2016

Kaleng susu dan tangan

by Joielechong sipayung  |  in hidupku at  Kamis, Agustus 18, 2016
No Pain No Gain
Tidak ada hasil tanpa rasa sakit.
Bahkan dalam hal yang kelihatan sepele pun, kata-kata bijak di atas tetap berlaku. Buktinya, malam ini saya mencoba untuk membuka kaleng susu dengan model penutup seperti minuman kaleng dengan sebuah rasa sakit.

Awalnya hanya ingin merasakan susu coklat hangat yang sudah saya nanti-nantikan sejak mulai pagi. Karena kondisi hujan mulai pagi sampai siang dan kemudian hujan lagi di malam hari, minum susu coklat hangat itu seperti menikmati indahnya dunia... (Lebay mode on).

Jadi sudah dari pagi mau buat susu coklat hangat. Tapi tak kesampaian karena ternyata toko tempat saya berlangganan tidak buka. Dan karena ternyata hasrat saya tersebut tidak juga pudar, maka saya akhirnya membeli susu kaleng di supermarket indoMarket (Censored).

Saat hendak membuka penutupnya dengan sedikit tarikan, ternyata tenaga yang saya pakai terlalu kuat. Penutup kaleng yang terbuat dari logam tersebut jadi melukai tangan saya sendiri. Foto di bawah ini adalah tangan saya sebagai korban.



Dan ini foto dari pelakunya:



Pesan moral yang bisa didapatkan dari peristiwa ini:
  1. Berhati-hatilah dalam perkara yang kecil.
  2. Jangan terlalu terbawa nafsu, santailah.
  3. Dibutuhkan pengorbanan dalam mendapatkan sesuatu.


Senin, 15 Agustus 2016

Pak Supir, Karyawan, dan Pengusaha

by Joielechong sipayung  |  in Motivasi at  Senin, Agustus 15, 2016
Ada kata-kata bijak yang mengatakan:
 "Kita dapat belajar dari siapapun, siapa pun dapat menjadi guru kita"
dan kata-kata ini tepat adanya.

Pengalaman saya kemarin malam mengajarkan betapa tepatnya kata-kata tersebut.

Saat itu saya sedang dalam perjalanan pulang ke kost di daerah sekitar padang bulan menggunakan angkot pada kisaran pukul 21:30. Dan saat itu penumpang hanya berjumlah 3 orang. Setelah hampir setengah perjalanan, tinggalah saya sendiri dan pak sopirnya. Dan terjadilah sebuah percakapan:

Pak Supir: Mau kemana bang?
Saya: Simpang pos Pak. (Pembaca yang tinggal di medan kemungkinan besar tahu dimana simpang pos)
Pak Supir: Abang yang kemarin naik yah?
Saya: Gak Pak, gak ada naik angkot kemarin Pak.
Pak Supir: Ohh, ada yang mirip sama abang kemarin.
Saya: (Dalam hati berpikir: Kayaknya awak gak ada naik angkot kemarin lah. Jadi saya berpikir, ternyata laku keras wajah awak di medan ini -- red. awak = saya, bahasa pasarnya medan.)
Pak Supir: Dari mana tadi bang?
Saya: Ngantar pacar Pak. (Inilah uniknya orang medan, yang ditanya dari mana tapi yang dijawab apa yang dilakukan)
Pak Supir: Setia juga yah. (Nah ini lebih hebat lagi. Walaupun dijawab lain dari pertanyaan, tapi tetap bisa dimengerti lawan bicaranya. Orang medan memang mantap)
Saya: Namanya juga pacaran Pak. (Dalam hati berkata: Awak memang setia, bawaan lahir)

...

Saya: Gak ada penumpang yah Pak.
Pak Supir: Iya, tadi aku tolak penumpang di lubuk pakam (Kalau saya artikan ini, saat itu penumpangnya penuh makanya gak diangkut)
Saya: Ohh..
Pak Supir: Nanti bulan 9 baru banyak penumpang.
Saya: ???. Kenapa bulan 9 Pak?
Pak Supir: Disitu mahasiswa masuk, jadi banyak penumpang.
Saya: Ohhhh...
Saya: Biasanya gak ramai hari minggu malam gini Pak?. Kan pulang dari kampung semua.
Pak Supir: Enggak bang, seperti hari biasa penumpangnya.
Saya: Ohh..
Pak Supir: Marga apa bang?
Saya: Sipayung Pak, simalungun.
Pak Supir: Ohh, Sipayung simalungun yah?
Saya: Ada yang simalungun ada yang toba Pak.
Pak Supir: Sama kayak Purba yah, ada simalungun ada juga toba.
Saya: Ada juga Purba Karo Pak.
Pak Supir: (Berbicara, tapi tidak jelas saya dengar karena berisiknya jalanan)
Saya: Bapak orang apa Pak?
Pak Supir: Aku orang jawa, tapi lahir di siantar.
Saya: Ohh..

... (pembicaraan diam beberapa detik)

Pak Supir: Dimana kampung bang?
Saya: Di Langkat, besitang Pak.
Pak Supir: Di medan tinggal di rumah atau kost?
Saya: Kost Pak.
Pak Supir: (Mengiyakan sambil fokus cari penumpang)

...

Pak Supir: Kuliah atau kerja bang?
Saya: Kerja Pak.
Pak Supir: Di mana?
Saya: Center Point Pak.
Pak Supir: Udah lama kerja di situ?
Saya: Baru beberapa bulan sih Pak.
Pak Supir: Berapa gajinya?
Saya: censored (tabu bicara gaji, hahahaha)

...

Saya: Masih jauh perjalanan Bapak yah. Ke pancur batu lagi yah.
Pak Supir: Iya, nanti sampai langsung cuci mobil lalu pulang bang.
Saya: Ohh.. (Mengangguk dan mengiyakan dalam hati)
Saya: Ini mobil Bapak sendiri?
Pak Supir: Iya.
Saya: Enak lah Pak yah, gak perlu lagi bayar setoran.
Pak Supir: Iya bang, kalau pagi sampai sore orang yang bawa. Maghrib saya yang mulai bawa.
Saya: Enaklah Bapak, sudah menerima uang setoran gak menyetor lagi.
Pak Supir: Yah gitu bang. Tapi sampai rumah gak enak juga bang.
Saya: (Bertanya dalam hati, apa yang gak enaknya)
Pak Supir: Sampai rumah gak bisa tidur cepat, paling cepat tidur jam tiga pagi. Menggambar.
Saya: Gambar apa Pak?
Pak Supir: Menggambar untuk proyek bangunan dari kantor.
Saya: Wahhh, hebat Bapak ini yah.
Pak Supir: Kalau hebat masih banyak yang lebih hebat di luar sana bang.
Saya: Setidaknya Bapak lebih hebat daripada saya yang masih menerima gaji dari orang. Bapak udah bisa menggaji orang.
...
...
Akhirnya saya sampai di tujuan, dan terpaksa menghentikan obrolan kami.

Kita lebih sering menutup mata dan berhenti untuk belajar berdekatan dengan orang lain hanya dikarenakan perbedaan pekerjaan. Dan karena itu kita menjadi buta akan kualitas yang dimiliki orang lain hanya karena pekerjaan kita kelihatan lebih berkelas daripada pekerjaan orang lain.

Setiap orang punya sisi positif yang dapat memberikan nilai tambah dalam kehidupan kita. Bahkan dari sisi negatifnya kita pun bisa belajar bahwa setiap orang punya kelemahan. Dan betapa besarnya kelemahan itu, tidak akan pernah menutupi potensi dari diri kita.

Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa kita tidak serta merta dapat menentukan apa kemampuan dari orang lain. Kita tidak dapat mengetahui mutiara yang tersembunyi dari orang lain tanpa kita berusaha untuk mengenal mereka lebih dalam. Dengan mengenal, kita mengetahui bahwa kita ternyata perlu banyak belajar dari orang lain. Ada banyak hal yang tidak bisa kita lakukan namun ternyata orang lain telah melakukannya. Setiap orang bisa menjadi yang ia inginkan. Setiap orang bisa menjadi guru yang baik bagi hidup kita. Setiap orang memiliki bumbu kehidupan yang bisa memberi makna dalam kehidupan kita.

Mari buka mata dan hati. Mari merendahkan diri untuk berusaha mengenal orang lain.


Rabu, 27 Juli 2016

Menampilkan string dengan cetak tebal menggunakan strings.xml dan pre-formatted string

by Joielechong sipayung  |  in Android Tips at  Rabu, Juli 27, 2016
Untuk menampilkan teks nominal yang ditebalkan (bold) dan dalam bentuk nilai mata uang dapat dilakukan dengan menggunakan formatter dan string di strings.xml file. Misalkan kita memiliki nilai nominal 10000 dalam tipe long:

long nominal = 10000;

Untuk memformatnya ke dalam bentuk nilai mata uang, kita menggunakan:

DecimalFormat formatter = new DecimalFormat("###,###,###.##");

Kemudian jika ingin ditampilkan menggunakan pre-formatted string seperti
Your Remaining balance: Rp 10.000,
 kita terlebih dahulu harus menyiapkan file strings.xml seperti ini:

<resources>
  <string name="remaining_balance">Your Remaining balance: &lt;b>Rp. %s&lt;/b></string>
</resources>

Setelah itu kita baca sebagai html, lalu set ke TextView atau EditText yang kita mau. Seperti ini:

String balance = getString(R.string.remaining_balance, formatter.format(nilaiNominal));
CharSequence styledText = Html.fromHtml(balance);
textView.setText(styledText);

Maka keseluruhan kodenya akan menjadi seperti ini:

long nominal = 10000; // Nilai yang mau ditampilkan
DecimalFormat formatter = new DecimalFormat("###,###,###.##"); // Format ke uang
String balance = getString(R.string.remaining_balance, formatter.format(nominal)); // sesuaikan dengan pre-formatted string.
CharSequence styledText = Html.fromHtml(balance); // baca sebagai html
textView.setText(styledText); // terapkan ke TextView atau EditText


Salam Slacker.

Jumat, 22 Juli 2016

Mempercepat Kualitas Kebasian Nasi

by Joielechong sipayung  |  in Opini at  Jumat, Juli 22, 2016
Saya mengalami pengalaman yang unik baru-baru ini, yang saya rasa tidak semua orang pernah mengalaminya dan hanya orang-orang terpilih saja yang dapat paham, merasakan, dan menghayati pengalaman ini 8:).

Suatu ketika saya sedang kelaparan. Kebetulan ada nasi yang sebelumnya sudah ditanak di Rice Cooker dengan pemanas (Istilah kerennya: MagicJar). Rupanya setelah saya hendak memakannya, nasi tersebut saya temukan sudah mulai berair dan sedikit berbau. Tetapi masih layak untuk dimakan.

Karena memiliki pengetahuan yang cukup mendalam tentang proses fermentasi pada makanan, timbul ide untuk memanaskannya kembali, tetapi dengan memilih mode masak. Otak saya yang jenius ini berpikir pasti bakteri yang memfermentasikan nasi itu mati kepanasan. Kalau bakterinya mati, berarti nasinya bisa saya makan seperti biasanya.

Setelah menunggu beberapa menit suara "Klik" yang menandakan sudah masak berbunyi. Saya berguman dalam hati "Wah, sudah masak. Waktunya makan". Namun apa daya, setelah saya periksa nasinya ternyata malah jadi basi. Teori jenius saya ternyata salah total. Dan akhirnya saya terpaksa makan nasi basi karena sangat dan terlalu kelaparan.

Satu pertanyaan yang akhirnya muncul di benak,
Apakah hasil pengalaman saya bisa dijadikan basis untuk menerima Nobel Kimia?. Mungkin saja.


Moral Of The Story:

  1. Jangan terlambat makan. 
  2. Jangan suka menunda-nunda. 
  3. Sesuatu yang instan didapatkan cenderung tidak baik. 
  4. Hati-hati kena maag.
  5. Jangan malas.

Selasa, 14 Juni 2016

Memasukkan karakter unicode ke teks di Linux

by Joielechong sipayung  |  in Pengetahuan dasar at  Selasa, Juni 14, 2016

Rupanya untuk memasukkan karakter unicode tertentu ke sebuah teks di sistem operasi Linux sangatlah gampang. Kita tinggal mencari kode karakter unicode yang kita perlukan, kemudian memasukkannya dengan menekan tombol keyboard Ctrl + Shift + U  lalu tekan tombol kodenya.

Langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Tekan Ctrl + Shift + U dan tahan semuanya.
2. Lepaskan tombol U, tetapi tetap tahan tombol Ctrl + Shift
3. Masukkan kode karakter unicode
4. Lepas tombol Ctrl + Shift

Contohnya, jika saya ingin memasukkan karakter enter (kode karakternya U+23CE) maka saya akan menekan Ctrl + Shift + U, lalu lepas tombol U dan kemudian mengetikkan 23CE, lalu lepaskan semuanya.

Ini hasilnya: ⏎



sumber: Unicode input