Category

free counters
Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Pengembangan Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengembangan Diri. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Oktober 2016

Kita dapat belajar sesuatu dari siapapun, kisah nyata.

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Kamis, Oktober 06, 2016
"Kamu bisa belajar dari siapa pun, bahkan musuhmu."
― Ovid

Ada peristiwa yang membuka wawasan pemikiran saya. Hal tersebut terjadi beberapa hari yang lalu tepatnya malam tanggal 4 Oktober 2016 sekitar pukul 22:15 WIB.

Menunggu Angkot

Saat itu saya sedang menunggu angkot di sekitar Lubuk Pakam untuk pulang ke medan. Saya menunggu dengan was-was karena biasanya jam 22:00an angkot cukup sulit didapatkan. Di saat menunggu, datang seorang laki-laki yang kisaran umurnya sekitar 35-40 tahun yang juga sama-sama menunggu angkot.

Beberapa waktu berlalu, dan sambil duduk menunggu di bangku yang ada di kios di pinggir jalan di dekat tempat saya menunggu, saya berpikir untuk menyapa orang tersebut. Namun dalam pandangan saya orang tersebut bukan orang yang akan merespon dengan baik jika disapa, saya menilainya dari sikapnya yang tergesa-gesa dan terfokus untuk menunggu datangnya angkot.

Sudah hampir setengah jam berlalu, tidak ada angkot yang lewat, kecuali angkot yang sedang pulang tanpa mencari sewaan. Dalam hati saya kuatir juga, masakan mau nginap di daerah itu padahal uang pun sudah pas-pasan. Saya perhatikan ternyata laki-laki tersebut juga sepertinya kuatir karena angkotnya tidak kunjung datang, namun tidak saya dengar keluh kesahnya sama sekali. Biasanya orang yang kuatir sedikit berisik, yang dilakukan entah sengaja atau karena kebiasaaan, untuk menyeimbangkan rasa kuatirnya. Tetapi hal ini tidak terjadi pada laki-laki tersebut.

Laki-laki tersebut berdiri dengan arah mata menuju ke arah arus datangnya kendaraan. Kekuatiran nampak jelas dari sikap tubuhnya. Tentu sikapnya menambah kekuatiran yang saya rasakan saat itu. Namun untunglah beberapa waktu kemudian sebuah mobil angkutan antar kota dengan model L300. Namun agak ganjil rasanya karena lelaki tersebut tidak mendatangi mobil tersebut untuk menanyakan arah tujuan. Ia malah menunggu saya untuk menanyakan tujuan mobil tersebut. Karena memang ingin bergegas pulang, saya tidak memikirkan terlalu jauh dan menanyakan tujuan mobilnya. Sang supir menjawab bahwa tujuannya Medan. Keganjilan kedua terjadi, lelaki sebelumnya mempersilahkan saya duluan masuk ke mobil padahal dia saat itu yang sudah membuka pintu. Meski ganjil, tetapi merupakan sebuah nilai tata krama ketimuran yang saya kagumi. Ditengah-tengah perubahan nilai moral dari orang-orang kota, lelaki tersebut masih menjunjung tinggi budayanya. Nilai moral yang mulai terkikis dan agak jarang kita temukan dari kebiasaan orang-orang kota di Medan.

Saya sangat tertolong oleh orang tersebut, karena seandainya saja dia tidak berdiri menunggu mungkin saja saya bisa lebih lama lagi menunggu angkutan. Bahkan kemungkinan saya tidak pulang, walaupun kecil kemungkinannya.

Di Dalam Mobil

Setelah berada dalam mobil yang kami naiki tersebut saya mengucap syukur pada Tuhan dalam hati karena akhirnya saya bisa pulang ke medan. Akhirnya saya bisa kembali menuju ke kamar kost-kostan yang tercinta.

Dalam perjalanan menuju medan tersebut saya mencoba memperhatikan keadaan di dalam mobil. Ada 5 orang penumpang termasuk saya dan laki-laki tadi, dengan 1 orang supir. Perhatian saya kemudian tertuju pada laki-laki itu yang duduk tepat di sebelah kiri saya. Saya perhatikan dia sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Ahh, mungkin saja dia merasa senang karena bisa pulang, pikirku. Namun lama-kelamaan kelihatan ada sesuatu yang aneh dari orang tersebut. Ia menunjukkan tingkah yang tidak seperti orang normal umumnya.

Sikapnya kelihatan aneh. Ia menggerakan tangannya seperti sedang menggambarkan sesuatu. Sesekali ia meninju-ninjukan kepalan tangannya ke arah depan. "Wah, bahaya nih", dalam hati saya berguman. "Jangan-jangan orang gila orang nih. Apa yang dipikirkan supir nanti, jangan-jangan supir berpikir dia teman saya. Jangan-jangan supir berpikir karena aku makanya dia naik.", pikirku dalam hati. Prasangka saya pun semakin bertambah kuat ketika melihatnya seolah-olah ingin mengigit dengan keras bungkusan plastik yang saat itu dibawanya. Penumpang yang lain tidak memperhatikan hal-hal tersebut karena saat itu lampu ruangan mobil sengaja dipadamkan seperti yang biasa dilakukan saat sedang dalam perjalanan.

Namun suara hati saya mengingatkan saya untuk tidak terburu-buru membenarkan pemikaran saya tersebut. Saya ikuti kata hati dan lebih memperhatikan dengan saksama laki-laki tersebut. Mungkin saja dia sedang tertekan atau barangkali dia sedang dilanda kesenangan yang besar, karena di saat-saat seperti itu banyak orang mengalami 'kegilaan sementara'. Saya semakin mengamatinya.

Orang Gilakah?

Logika saya mengatakan lelaki tersebut orang gila, namun hati saya tidak bisa mempercayai logika saya saat itu. "Ada sesuatu yang kurang sepertinya", pikirku. Setelah hampir 3/4 perjalanan menuju ke medan, di sekitar daerah Kayu Besar, Tanjung Morawa, akhirnya nyatalah apa yang saya pikirkan sebagai bagian yang hilang dari pengamatan sebelumnya. Laki-laki tersebut memberikan kode kepada supir, dengan suara yang tertahan dengan satu nada yang sama, untuk memberhentikan mobilnya karena dia telah sampai ke tujuannya. Ternyata dia memiliki kekurangan fisik pada suaranya!.

Apa yang logika saya katakan ternyata salah besar. Laki-laki itu bukan orang gila, dia hanya memiliki kekurangan fisik di organ bicaranya. Ohh, betapa berdosanya aku saat itu.

Hal yang terakhir terjadi merupakan sebuah momen yang sangat menyentuh hati saya saat itu. Laki-laki tersebut sebelum menutup pintu mobil memberikan sebuah isyarat tubuh dengan sedikit membungkukan dirinya. Sebuah isyarat untuk rasa terima kasih yang sepertinya ditujukan kepadaku sebab saat itu hanya aku yang berada tepat di depannya. Saya sungguh keterlaluan; dia memberikan saya sebuah penghormatan tetapi saya sebelumnya menganggap dia tidak waras!.

Jangan Menilai Buku Dari Sampulnya

Sekarang semakin saya sadari bahwa kita bisa belajar sesuatu dari orang lain. Siapapun orang itu, mau kaya, miskin, pengangguran, pengusaha sukses, anak-anak, pemuda, orang tua, dan bahkan dari orang yang tidak waras sekalipun. Ada nilai yang bisa kita dapatkan. Ada pembelajaran yang bisa kita petik manfaatnya.

Pemikiranku

Mungkin sebagian pembaca akan berpikir bahwa laki-laki itu memang gila. Saya malah berpikir bahwa apa yang dilakukan laki-laki itu - gerakan tangan yang aneh, gerakan sedang mengigit bungkus plastik - adalah sikap yang wajar. Mengapa demikian? Saya pikir cukup wajar jika seseorang berbicara kepada dirinya, bermonolog dengan dirinya sendiri. Hal ini wajar untuk orang yang memiliki organ bicara yang baik. Untuk orang dengan organ bicara yang rusak bagaimana? Dia berbicara dengan isyarat tangan dan tubuh, maka saya pikir juga wajar jika dia berbicara dengan dirinya sendiri menggunakan gerakan tubuhnya bukan?


"Setiap orang yang engkau jumpai mengetahui sesuatu yang tidak kamu ketahui."
― Bill Nye

Selasa, 02 Februari 2016

Kepercayaan yang membatasi diri

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Selasa, Februari 02, 2016

Pernahkah anda merasa tidak mampu melakukan sesuatu padahal anda belum pernah mencobanya? Berarti saat ini anda terjebak dalam kepercayaan yang membatasi diri.

Umumnya kita diingatkan akan ketidakmampuan diri kita dalam melakukan hal-hal tertentu. Sering kita dibatasi dengan kata-kata yang membuat kita rendah diri, seperti kata-kata berikut:

  • Kamu Payah
  • Tidak Ada Yang Bisa Kamu Lakukan
  • Kamu Tidak Mampu
  • Kamu Lemah
  • Kamu Tolol
  • Kamu Lamban
  • Kamu Bodoh
  • Kamu Tidak Punya Talenta
  • Kamu tidak Bisa Melakukannya
  • Itu Sulit Dilakukan
  • itu tak mungkin diselesaikan
  • Terlalu susah
  • Terlalu payah
  • Tidak mungkin
  • Mustahil
  • Kamu Pasti gagal
  • Sia-sia pekerjaanmu



Mungkin hampir setiap hari kita mendengar kata-kata tersebut sehingga secara tidak sadar, alam bawah sadar kita merekam dan menyimpannya. Dan ketika kita merasakan kegagalan, maka rekaman dari alam bawah sadar tersebut muncul dan memberikan kita pemikiran bahwa kita sungguh-sungguh seorang yang gagal. Padahal kegagalan sama sekali bukan hal yang permanen. Tidak ada orang yang gagal, yang ada hanya pola pikir yang gagal.

Pola pikir yang gagal ini harus diubah. Kita harus memulai dengan memberikan kata-kata yang positif pada diri sendiri. Daripada mengatakan bahwa Anda lamban, ganti dengan Anda kurang cepat. Jika anda selalu berkata "Aku tidak mampu melakukan sesuatu", ganti dengan "Aku bisa melakukannya, caranya saja yang tidak tepat". Hal ini sama dengan cara pandang anda dalam melihat sebuah gelas yang berisi air. Jika anda mengatakan airnya setengah penuh, maka fokus anda pada kelimpahan yang anda miliki. Jika anda mengatakan airnya setengah penuh, maka fokus anda pada kekurangan yang anda miliki. Anda bisa melakukan banyak hal jika mengubah sudut pandang anda.

Mulai sekarang gunakan kata-kata yang meningkatkan kepercayaan diri anda, seperti kata-kata berikut:

  • Aku bisa melakukannya
  • Aku mampu
  • Ini agak tidak mudah
  • Aku belum menemukan solusinya
  • Aku belum sukses
  • Aku memang sedikit kurang cepat
  • Aku memang kurang cekatan
  • Aku hanya kurang mengerti
  • Aku belum tahu semuanya
  • Ini pasti ada manfaatnya, hanya cara saja yang salah





Ubah kepercayaan yang membatasi diri anda. Tanamkan hal yang baik pada diri anda sekarang.



Sumber gambar: http://breathingprosperity.com/blog/tag/get-rid-of-limiting-beliefs

Senin, 01 Februari 2016

Anda berbeda dari orang lain, Jadilah diri sendiri

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Senin, Februari 01, 2016

Setiap orang punya kemampuannya tersendiri. Ada yang punya kemampuan lebih dalam berkomunikasi. Ada juga yang punya kemampuan untuk beradaptasi secara cepat dengan lingkungannya. Dan ada juga orang yang memiliki kemampuan untuk berpikir cepat. Masing-masing orang memiliki kelebihan tersendiri.

Kalau kita coba mengamati lingkungan sekitar kita, maka kita akan mendapati ada beberapa hal yang sepele menurut kita tetapi bagi orang lain sangat sulit untuk dilakukan. Seperti yang terjadi sama saya, bagi saya mengatur tingkat kecerahan layar komputer sangatlah mudah; tinggal cari settingan saja lalu sesuaikan dengan keinginan. Namun bagi kebanyakan orang, hal ini sepertinya mustahil dilakukan. Sebaliknya, bagi saya sangat sulit untuk berbicara tegas terhadap orang lain, namun bagi beberapa orang hal tersebut amat gampang dilakukan.


Hal ini bukan berarti kita memiliki kemampuan yang lebih rendah dibandingkan orang lain. Tetapi dengan kemampuan dan talenta yang berbeda-beda, kita menjadi orang-orang yang saling melengkapi. Sosialisasi terjadi karena perbedaan dan kemajemukan di antara kita. Tindakan dan kemampuan kita membentuk orang lain dan sekitar serta secara tidak langsung membentuk diri kita sendiri. Apa yang kita berikan akan kembali kepada kita sendiri.

Oleh karena itu, jangan pernah menganggap rendah orang lain. Dan jangan pernah menganggap rendah dirimu sendiri. Kita semua diciptakan secara khusus, masing-masing dengan keunikannya sendiri. Jangan mencoba menjadi orang lain. Jadilah dirimu sendiri.


"To help yourself, you must be yourself. Be the best that you can be. When you make a mistake, learn from it, pick yourself up and move on." Dave Pelzer

Sumber gambar: Be yourself, everyone else is taken

Minggu, 31 Januari 2016

Prinsip ekonomi lama tidak berlaku lagi

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Minggu, Januari 31, 2016
Harus kita akui, bahwa kita lebih memilih untuk mempercayai konsep ekonomi yang sudah kuno dan tidak berlaku lagi dalam hidup, "Dengan biaya yang sekecil-kecilnya, mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya", daripada belajar mempercayai bahwa dengan kerja keras, pengorbanan yang besar, dan ketekunan baru bisa dihasilkan sesuatu yang besar.

Kecenderungannya, kita suka mengharapkan hasil yang fantastis dengan cara yang biasa, santai, dan murah. Namun harapan kita itu sia-sia. Tidak ada hal yang besar yang bisa kita hasilkan jika kita hanya melakukan hal yang kecil.


Hal ini sama seperti upaya kita ingin membentuk otot agar tubuh lebih atletis. Otot akan bekerja normal dengan beban yang normal yang dapat ditanggungnya. Jika beban yang ditanggung amat kecil maka kerja otot pun sangat kecil. Untuk mengembangkan otot supaya lebih besar, maka kita harus memberi beban yang lebih besar dari yang biasa ditanggung otot. Jika kita hanya memberi beban yang biasa-biasa saja, maka otot sama sekali tidak berkembang. Otot harus bekerja diluar batas nyamannya untuk berkembang. Setelah beberapa bulan dengan latihan yang berat, maka otot telah berkembang sesuai dengan beban yang dapat ditanggungnya. Beban yang berat sebelumnya tersebut akan menjadi batas normal bagi otot, sehingga otot perlu beban yang lebih berat lagi untuk berkembang. Otot perlu kerja keras untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.

Demikian juga yang terjadi dalam hidup. Kita tidak mungkin mengharapkan hal yang luar biasa dengan kebiasaan yang biasa, pola hidup yang biasa, kerja yang biasa, dan tanggung jawab yang biasa. Tidak mungkin mengharapkan sesuatu menjadi luar biasa tanpa ada perubahan yang besar.


"Manusia adalah satu-satunya mahkluk hidup yang mengharapkan hasil yang berbeda dengan cara yang sama". Albert Einstein

Tepat seperti kata Einstein tersebut. Kita mengharapkan sesuatu yang berbeda padahal cara yang kita lakukan tetap sama. Kita memilih menutup mata dan bersikap picik tetapi tidak berusaha untuk mengubah diri kita sendiri.


Mari kita berhenti bersikap biasa-biasa saja, mari bertindak luar biasa untuk menghasilkan hal yang luar biasa.

Sabtu, 30 Januari 2016

Pria Tua, Anak Laki-laki, dan Keledai

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Sabtu, Januari 30, 2016

Kita pada dasarnya selalu ingin dicintai orang lain. Kita tidak ingin orang lain di luar sana berpikiran buruk tentang diri kita. Namun kita sama sekali tidak perlu menyenangkan semua orang agar selalu dicintai. Kita malah akan mengecewakan orang lain jika berusaha menyenangkan setiap orang. Kehidupan ini akan menjadi pengalaman yang menyusahkan dan rumit jika kita menjadi seperti yang orang lain inginkan.


Ada sepenggal cerita dari buku "Book Yourself Solid" oleh Michael Port, yang dapat memberikan kita wawasan bahwa kita tidak pernah dapat menyenangkan setiap orang. Bahkan sekadar mencobanya adalah suatu usaha yang sia-sia.
    Seorang pria tua, seorang anak laki-laki, dan seekor keledai pergi ke kota. Anak laki-laki tersebut naik keledai dan pria tua itu berjalan di sampingnya. Ketika mereka berjalan bersama-sama, mereka berpapasan dengan beberapa orang yang mengatakan bahwa rasanya memalukan karena pria tua itu berjalan kaki sedangkan anak laki-laki itu naik keledai. Pria tua dan anak laki-laki itu berpendapat mungkin kritik itu benar, jadi mereka bertukar posisi. 
    Kemudian, mereka berpapasan dengan beberapa orang yang mengatakan, "Betapa memalukan! Ia membiarkan anak kecil itu berjalan kaki." Mereka kemudian memutuskan bahwa mereka berdua akan berjalan kaki. 
    Tidak lama kemudian, mereka berpapasan dengan beberapa orang lain yang beranggapan bahwa mereka bodoh dengan berjalan kaki, padahal mereka mempunyai keledai yang layak untuk ditunggangi. Oleh karena itu, mereka berdua naik keledai tersebut. 
    Sekarang mereka berpapasan dengan beberapa orang yang mengolok-olok mereka dengan mengatakan betapa mengerikan menaruh beban seberat itu di atas keledai yang malang tersebut. Anak muda dan pria itu mengatakan bahwa barangkali orang itu benar, sehingga mereka memutuskan untuk menggotong keledai tadi. Ketika mereka menyeberangi jembatan, mereka kehilangan pegangan pada binatang tersebut, dan keledai itu pun jatu ke dalam sungai dan tenggelam.


Moral dari cerita tersebut? Jika Anda mencoba untuk menyenangkan setiap orang, mungkin Anda juga akan mengucapkan selamat jalan kepada keledai Anda.

Kamis, 28 Januari 2016

Tujuan tanpa ada rancangan dan usaha sama dengan sia-sia

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Kamis, Januari 28, 2016

Walaupun sudah beberapa buku saya baca tentang pengembangan diri, saya masih saja sering terjebak dengan kebiasaan lama. Salah satu kebiasaan lama yang masih sering muncul adalah harapan bahwa sebuah tujuan bakalan segera tercapai tanpa perlu usaha.

Tidak ada tujuan yang bisa tercapai tanpa adanya usaha dari diri kita sendiri. Semakin besar tujuan yang ingin dicapai maka semakin besar pula usaha yang harus dikerjakan. Hal ini seperti saat kita bermain ayunan, semakin besar tolakan kita maka semakin jauh jarak ayunannya. Juga sama seperti halnya prinsip bertanam padi, untuk mendapatkan padi kita harus menyiapkan bibit, kemudian menyemai bibit, menanam bibit ke sawah, menyianginya, kemudian menunggu sampai padi besar dan menghasilkan bulir padi yang sudah masak, lalu kemudian menyabitnya untuk dipanen. Tidak ada istilah 'seketika' dalam proses menanam padi tersebut.

Rasa Malas
Rasa malaslah yang sering mengikat kita dengan mimpi-mimpi yang tidak masuk akal. Mimpi yang paling sering kemungkinan adalah mendapatkan undian berhadiah, namun hampir mustahil mimpi itu tercapai. Kalu kita lakukan perhitungan dengan hukum probabilitas, dimana rata-rata orang yang ikut undian berhadiah sekitar satu juta orang, maka peluang kita sangatlah kecil. Peluangnya 1:1.000.000, yakni 0,000001%, bahkan tidak sampai 1% !. Boleh saja kita boleh bermimpi yang tinggi, tetapi harus selalu dibarengi dengan kerja keras bukan cuma lamunan sesaat.

Tentu sebagian dari kita berpikir kalau Tuhan berkehendak, maka mukjizat pasti terjadi. Namun marilah kita kembali berpikir, marilah kita melihat pada kehidupan sehari-hari. Apakah kita yang sudah menjadi Ayah atau Ibu mau memberikan anaknya sesuatu tanpa mengajarkan pentingnya usaha? Maukah kita membiarkan anak-anak kita bermalas-malasan tanpa mengerjakan apapun? Atau kita hanya memberi apapun yang diminta mereka tanpa mau bergaul akrab dengan anak-anak kita tersebut? Celakalah kalau Anda seperti itu!. Orang tua yang baik akan memikirkan dan mengajarkan anaknya untuk hidup mandiri. Begitu juga sang Pencipta kita!


Tetapkan Rancangan
Hal ini berkali-kali sudah saya katakan kepada diri sendiri dan sudah sering saya tuliskan berulang-ulang di beberapa artikel sebelumnya. Namun karena sifat alamiah kita untuk melupakan sesuatu, maka baiknya kita terus diingatkan akan pentingnya rancangan.

Untuk mendirikan bangunan yang baik diperlukan rancangan yang baik. Demikian juga hidup kita. Untuk menentukan hidup yang baik maka kita perlu membuat rancangan kehidupan yang baik. Tanpa ada rancangan kita sama seperti orang yang berharap mempunyai padi ada tanpa perlu menanamnya. Demikian juga halnya dengan pekerjaan yang saya lakukan sekarang.

Saya saat ini sedang mengerjakan sebuah program hitung dan sebuah program game di Android dengan tim saya. Tidak mungkin kami mengerjakan program tersebut tanpa ada rancangan yang jelas. Tentu saja rekan satu tim saya akan bingung dan tidak tahu akan mengerjakan apa. Kami butuh rancangan yang jelas.


Kalau kita ingin memiliki hidup yang baik maka kita harus menetapkan rancangan yang baik untuk kehidupan kita, bukan orang lain. Orang lain tidak mengetahui siapa diri kita. Hanya ada dua yang mengetahui, yang pertama adalah Sang Pencipta kita, yang kedua adalah diri kita sendiri. Hanya kita yang mengerti apa yang kita mau. Tentu saja kita butuh orang lain, karena apalah tujuan hidup kita jika kita tidak bisa memberikan sumbangsih bagi kehidupan orang lain?

Tetapkan rancangan hidupmu. Tetapkanlah sekarang!

Selasa, 26 Januari 2016

Berdebat bukan sarana komunikasi yang baik

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Selasa, Januari 26, 2016

Berdebat hampir tidak berguna dalam komunikasi yang baik, karena tujuan debat selalu untuk menunjukkan siapa yang lebih benar dan argumentasi siapa yang paling masuk akal. Dalam komunikasi yang baik, orang hampir selalu tidak ingin direndahkan. Orang lebih menyukai pujian dan merasakan bahwa ia didengarkan. Orang lain lebih menyukai seorang pendengar yang baik.

Seperti yang saya paparkan di artikel "Bersikap Bodoh Itu Pintar dan Bersikap Pintar Itu Bodoh", orang lain tidak suka pada orang yang berlagak pintar. Hal ini jelas-jelas berlawanan dengan prinsip debat, yang menganjurkan kita agar bersikap pintar. Orang lain lebih suka pada orang yang berlagak bodoh, karena orang-orang seperti ini cenderung menjadi pendengar yang baik.

Untuk membentuk hubungan yang baik dengan orang lain lewat komunikasi, sebaiknya selalu hindari debat. Hindari yang namanya merasa diri lebih tahu dari orang lain.


Belajar dari pengalaman sendiri, saya sering kali berkomunikasi dimana saya harus selalu menang bicara. Memang ada kepuasan jika kita menang bicara dengan orang lain. Namun hal ini tidak membantu hubungan kita dengan orang lain. Orang lain tidak suka kalah. Orang lain tidak suka direndahkan. Orang lain selalu ingin dipuji. Hal ini merupakan sifat alami dari manusia.

Mari kita bersikap rendah hati, bersikap bodoh, dan lebih menghargai orang lain. Berhentilah berdebat dengan orang lain.




Sumber gambar: http://www.fairlawnschools.org/Page/4093

Minggu, 24 Januari 2016

Dihantui rasa bersalah

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Minggu, Januari 24, 2016

Pernahkah anda dihantui rasa bersalah terus menerus selama bertahun-tahun? Saya pernah dan saat ini masih terus merasakannya. Rasa ini sangatlah tidak nyaman. Seperti ada yang mengganjal dalam hati. Hidup menjadi tidak tenang.

Jika kita melakukan salah kepada orang lain atau telah menyakiti orang lain, maka sebaiknya kita cepat-cepat memperbaiki kesalahan tersebut dan meminta maaf atas kesalahan yang kita buat. Daripada terus-terusan diihantui kesalahan tersebut.

Meminta maaf agak sulit untuk dilakukan, sehingga kita lebih sering memilih untuk tidak melakukannya dan menyimpan kesalahan di dalam hati. Tetapi di kemudian hari, rasa bersalah itu muncul dan terus mengingatkan kita akan hal yang kita perbuat tersebut.


Sebaiknya, setelah melakukan kesalahan kita langsung saja minta maaf. Lupakan gengsi dan  harga diri. Lupakan kedudukan dan jabatan kita. Minta maaflah segera karena dihantui rasa bersalah jauh lebih menyusahkan hidup.


Lakukan segera apa yang bisa kita lakukan hari ini.




sumber gambar: Get rid of guilt

Hal-hal luar biasa yang tidak bisa dibeli uang

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Minggu, Januari 24, 2016

Uang telah bersama kita lebih dari 10.000 tahun. Uang menjadi bagian utama dalam hidup hingga taraf dimana tanpa uang seakan-akan kita bisa mati. Uang awalnya ditemukan sebagai alat hitung, yang digunakan untuk memperkirakan nilai dari barang-barang dan kepemilikan.

Sebelum uang ditemukan, orang-orang biasa menukarkan barang-barang yang dapat dinilai yang dimiliki lebih, dengan benda yang dapat yang dihitung yang mereka tidak dapat hasilkan, buat, atau tanam.

Ironisnya, ribuan tahun yang lalu orang-orang kesulitan untuk menetapkan nilai tukar standar untuk barang yang bisa dihitung. Namun orang-orang sekarang kelihatan kesulitan dalam membedakan nilai dari sesuatu dengan hal yang tidak ternilai.


Hal terbaik di dalam hidup ini sama sekali gratis. Ada banyak hal dalam hidup kita dimana mata uang tidak memiliki harga; seperti pertemanan, keluarga, dan ingatan yang baik. Uang bukan merupakan hal terpenting karena uang tidak bisa membeli segalanya yang kamu perlukan untuk mendapatkan hidup yang bahagia.

Berikut ini hal-hal yang tidak bisa dibeli uang:
  1. Rasa Hormat Dari Orang Lain
  2. Pengetahuan dan Pengalaman 
  3. Kesehatan 
  4. Cinta 
  5. Kebahagiaan 
  6. Kedamaian hati 
  7. Kesenangan Karena Telah Memenuhi Mimpi-Mimpi 
  8. Teman Baik 
  9. Menciptakan Perbedaan di Dunia
  10. Percaya Pada Diri Sendiri 
  11. Melihat Orang Lain Bahagia 
  12. Jatuh Cinta Pertama Kali 
  13. Menepati Janji 
  14. Reputasi Yang Baik 
  15. Hubungan Dengan Anak 
  16. Cinta dan Perhatian
  17. Kesenangan dan Rasa Puas Hati 
  18. Masa Muda 
  19. Keadilan 
  20. Pikiran yang Terbuka 
  21. Tidak Hidup Dalam Penyesalan 
  22. Rasa Ingin Tahu 
  23. Cinta dan Kesetiaan dari Hewan Peliharaan 
  24. Bangun Pagi Setiap Hari 
  25. Hangatnya Senyuman 
  26. Seseorang yang Tidak Pernah Menyerah Untukmu 
  27. Memaksa Dirimu Mencapai Sesuatu yang Besar 
  28. Kembali Berkumpul Lagi Dengan Seseorang yang Disayangi
  29. Integritas
  30. Umur Panjang 
  31. 25 Jam Satu Hari 
  32. Kenangan yang Indah 
  33. Keluarga yang Hangat dan Bahagia 
  34. Waktu 
  35. Kebahagiaan 
  36. Pikiran yang Baik
  37. Satu hari Tanpa Kuatir
  38. Berhasil Mengatasi Masalah 
  39. Kesempatan Kedua Dalam Hidup 
  40. Apresiasi Terhadap Hal-Hal yang Kecil 
  41. Kepercayaan Dari Orang Lain 
  42. Permintaan Maaf yang Tulus 
  43. Sikap yang Positif 
  44. Keberuntungan 
  45. Kesabaran 
  46. Cinta Sejati 
  47. Talenta 
  48. Indahnya Matahari Diwaktu Terbit dan Terbenam
  49. Waktu Berkualitas Dengan Anak-Anak 
  50. Kebijakan 
  51. Rendah Hati 
  52. Cara Pandang yang Benar 
  53. Waktu Untuk Beristirahat 
  54. Kecantikan Alami 
  55. Menghabiskan Masa Tua Dengan Orang yang Dicintai 
  56. Seseorang yang Menyemangati
  57. Moral yang Baik 
  58. Tujuan Dalam Hidup 
  59. Kerja dan Hidup yang Seimbang 
  60. Anak-Anak yang Berkepribadian Baik
  61. Pendapat yang Jujur 
  62. Teman Naik yang Selalu Ada Untukmu 
  63. Keluarga yang Dapat Diandalkan 
  64. Humor dan Tawa 
  65. Sikap yang Baik 
  66. Seseorang yang Mendukung Mimpi-Mimpimu
  67. Kenangan Indah Saat Masih Sekolah
  68. Pelajaran yang Didapat Dari Saat-Saat yang Sulit
  69. Berpengharapan

Sabtu, 23 Januari 2016

Empati

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Sabtu, Januari 23, 2016

Hampir mustahil bagi kita untuk merasakan penderitaan orang lain jika kita tidak pernah merasakannya. Seorang pria tidak bisa memahami bagaimana rasanya nyeri haid pada wanita, hanya wanitalah yang mengerti. Tidak mungkin kita bisa mengerti rasanya tidak memiliki uang jika seumur hidup kita selalu berkelimpahan. Bagaimana mungkin kita merasakan bagaimana kelaparan jika kita sama sekali tidak pernah kekurangan makanan?

Kita mulai kehilangan empati pada orang lain. Tentu saja, karena umumnya kita terlalu mementingkan diri sendiri dan mengurangi intensitas dalam berhubungan dengan orang lain. Kita hidup untuk diri kita sendiri.

Menjadi seorang yang berhasil dengan mengutamakan kepentingan diri sendiri menjadi hal yang usang sekarang ini. Golden Rule lah yang saat ini membuat kita bisa berhasil. Lakukan apa yang terbaik yang bisa kita lakukan pada orang lain dan lingkungan, maka semuanya itu akan kembali kepada kita berlipat ganda. Egoisme sudah menjadi hal yang kuno dan tidak bermanfaat, altruisme sekarang yang menjadi trend.

Sama seperti hukum fisika Newton di mana ada aksi di situ ada reaksi, seperti itu juga kehidupan kita, disaat kita memberikan kontribusi kepada orang lain dan lingkungan kita, maka secara otomatis orang lain dan lingkungan akan memberikan kembali kontribusi pada diri kita. Dan yang lebih hebatnya, kontribusi kembali yang diberikan orang lain dan lingkungan berlipat ganda daripada yang kita berikan.

Kita harus memberikan yang terbaik yang bisa kita lakukan untuk orang lain. Jangan menahan-nahan potensimu.

Kamis, 21 Januari 2016

Tidak ada kesuksesan yang instan

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Kamis, Januari 21, 2016

Sama seperti keahlian yang perlu diasah terus, demikian juga sukses perlu latihan terus. Salah satu latihannya adalah berulang kali gagal. Mencoba dan gagal adalah hal lumrah untuk sukses. Namun kita umumnya tidak suka merasakan gagal, walaupun itu penting. Kita lebih suka sukses yang instan.

Kalau kita mau jujur dengan kenyataan dan belajar dari lingkungan, sukses selalu harus diraih dengan melakukan banyak kegagalan. Perhatikan orang-orang yang ahli dalam bermain alat musik seperti gitar, piano, saxophone, dan sebagainya. Apakah mereka bisa langsung ahli dalam menguasai alat musik tersebut? tentu tidak kan?. Atau lihat orang yang ahli dalam mengukir patung, apakah dia bisa mengukir jadi sebuah patung dalam satu hari tanpa perlu belajar terus menerus? Tentu tidak kan?. Jadi gagal itu perlu, gagal itu sebuah kewajiban untuk menjadi sukses.

Tidak ada kesuksesan yang instan. Yang ada cuma mie instan, kopi instan, dan makanan serta minuman instan lainnya. Hal yang instan membuat kita malas. Makanan dan minuman yang instan memang memudahkan dan mengefisienkan waktu kita, tapi efeknya untuk tubuh sangat besar. Hal-hal tersebut merusak tubuh kita.

Kesuksesan perlu proses, dan di dalam prosesnya tersebut kita semakin dipersiapkan untuk menerima hasilnya.




sumber gambar: Instant Pasta

Selasa, 19 Januari 2016

Bersikap bodoh itu pintar dan bersikap pintar itu bodoh

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Selasa, Januari 19, 2016

Terkadang berlagak bodoh itu lebih baik daripada berlagak pintar, karena orang yang berlagak bodoh memiliki elemen kejutan karena dianggap sepele oleh orang lain. Berlagak pintar sebaliknya malah memberikan efek buruk karena orang yang berlagak pintar cenderung sok tahu semuanya, dan biasanya orang yang berlagak pintar cenderung memberikan informasi yang berlebihan yang seharusnya orang lain tidak perlu tahu.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa sekalipun kita memiliki kepintaran di atas rata-rata, kita kemungkinan melakukan kesalahan ketika mencoba menyelesaikan sebuah masalah sederhana karena penyimpangan penilaian. Hal ini dikenal sebagai "bias kognitif".

Untuk menghasilkan kesimpulan ini, sebuah tim peneliti dari Universitas Toronto memberikan 482 mahasiswa sebuah kuisoner persoalan bias klasik untuk diselesaikan. Satu contoh pertanyaannya adalah berikut ini:
Sebuah tongkat pemukul dan bola seharga satu dollar dan 10 sen. Tongkat pemukulnya seharga satu dollar lebih dari bolanya. Berapakah harga bolanya?
Jika anda tergesa-gesa, anda mungkin akan menjawab harga bolanya 10 sen. Tidak: harganya 5 sen. Jika anda menjawab salah, berarti otak anda mengambil jalan pintas karena menganggap jawabannya masuk akal, tetapi mengabaikan perhitungan matematikanya. (Jika anda beranggapan tiap orang yang menjawabnya orang bodoh, silahkan dengar faktanya: lebih dari 50 persen mahasiswa Harvard, Princeton, dan M.I.T memberikan jawaban yang salah)

Sok Tahu
Sering sekali kita malah berlagak sok tahu dan akhirnya terperangkap dalam kebodohan sendiri. Kita gagal mengenali kekurangan kemampuan/skill yang dimiliki. Gagal mengenali batasan pengetahuan sendiri. Dan gagal mengenali kemampuan/skill yang orang lain miliki.

Daripada berlagak sok tahu yang malah akhirnya mempermalukan diri sendiri, lebih baik kita diam dan melakukan yang terbaik yang bisa kita berikan tanpa perlu mengumbar-ngumbar kemampuan dan pengetahuan yang kita miliki.



Referensi:
1. Why Smart People Are Actually Dumb
2. Dunning–Kruger effect
3. Dumb is Smart and Smart is Dumb


Sumber gambar: http://tvtropes.org/pmwiki/posts.php?discussion=1316766923044417300&page=3

Uang tidak bisa membeli segalanya

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Selasa, Januari 19, 2016

Saya teringat sebuah frasa dalam bahasa inggris yang kebanyakan mungkin orang tahu:

"Money Can't Buy You Anything"
yang kalau diartikan dalam Bahasa Indonesia menjadi:
"Uang Tidak Bisa Membeli Segalanya"

 Namun kita sering lupa akan perkataan tersebut. Menganggap uang segalanya, berpikir bahwa uang dapat memberikan apa yang kita mau. Kenyataannya tidak semuanya dapat dibeli dengan uang. Uang hanyalah alat pembayaran yang kita buat. Apakah uang menentukan hidup kita? Tentu saja tidak. Mari kita coba merenung, selama ini apa yang sebenarnya kita cari? Apakah kita mencari uang? Apakah kita cuma mencari kebebasan finansial? Lalu setelah itu apa?. Sebenarnya yang kita perlukan bukan uang, tetapi pemenuhan keinginan hati yang dapat dipenuhi oleh uang. Perlu digarisbawahi, tidak semuanya dapat dipenuhi oleh uang.

Saya menemukan sebuah cerita yang mungkin akan memberikan wawasan kita tentang apa yang tidak bisa dibeli oleh uang. Seperti ini ceritanya:

Niko adalah seorang anak laki-laki berumur 10 tahun. Ia anak satu-satunya dari orang tuanya. Ayahnya adalah seorang pebisnis pekerja keras sehingga hampir tidak pernah menghabiskan waktunya dengan anak laki-lakinya. Ayah Niko pulang ke rumah saat Niko telah tertidur, dan meninggalkan rumah sebelum Niko bangun, atau masih tidur sampai Niko pergi ke sekolah. Ayah Niko jarang sekali mempunyai waktu untuk bersama dengan keluarganya. Dia tidak bisa menemani Niko maupun keluarga. Sama seperti anak laki-laki lainnya, Niko ingin bermain di luar rumah bersama Ayahnya dan bersenang-senang dengannya. 
Suatu hari, Niko sangat terkejut dan gembira melihat ayahnya di rumah pada sore hari.
"Ayah, suatu kejutan besar melihat ayah ada di rumah" kata Niko.
"Iya nak, meeting ayah dibatalkan dan penerbangan ayah selanjutnya tertunda 2 jam. Jadinya ayah di rumah", jawab ayahnya. 
Percakapan Niko dan Ayahnya:
Niko: "Yah, boleh aku nanya?"
Ayah: "Ya nak, silahkan."
Niko: "Kapan ayah kembali lagi?"
Ayah: "Besok sore."
Niko: "Yah, berapa penghasilan ayah setahun?"
Ayah: "Sayang, jumlahnya sangat besar, kamu pasti tidak akan memahaminya."
Niko: "Ok yah, Ayah senang dengan jumlah pendapatan itu?"
Ayah: "Iya sayang. Ayah sangat senang, bahkan ayah berencana meluncurkan kantor cabang baru dan bisnis baru dalam beberapa bulan. Luar biasa kan?"
Niko: "Iya yah. Niko senang mendengarnya."
Ayah: "Jadi nak, kamu masih punya pertanyaan lainnya?"
Niko: "Ada yah, aku punya satu pertanyaan lagi."
Ayah: "Ya, tanya lah!"
Niko: Yah, Ayah gak mau memberi tahu berapa banyak penghasilan ayah setahun atau sebulan. Tapi maukah ayah beri tahu berapa penghasilan ayah sehari atau setengah hari?
Ayah: "Kenapa Niko nanyanya gitu? Ayah kan sudah mencukupkan semua kebutuhan Niko."
Niko: "Bukan itu maksud Niko yah, Ayah selalu memberikan yang terbaik untuk Niko, tapi Niko senang kalau Ayah beri tahu berapa pendapatan Ayah satu jamnya."
Ayah: "Nak, itu gak adil. Niko harusnya gak boleh mempertanyakan penghasilan ayahnya sendiri." 
Niko lalu meminta dukungan Ibunya agar mendukung pertanyaan ke Ayahnya tadi. 
Niko dan Ibunya meminta jawaban tentang berapa pendapatan Ayahnya perjam, atau pendapatan hariannya. 
Ayah Niko menjawab pertanyaan tersebut, pendapatannya sekitar Rp. 500.000 per jam. 
Niko berlari ke kamarnya, dan datang dengan membawa celengan yang berisi tabungannya. 
"Yah, Niko punya uang Rp. 1.500.000 di celengan ini. Bisakah Ayah menyediakan waktu 3 jam untuk Niko? Niko mau pergi ke pantai dan makan malam bersama Ayah besok malam. Maukah Ayah memasukkannya ke jadwal Ayah?" Kata Niko. 
Ayah Niko terdiam seribu bahasa!




Inti dari cerita di atas adalah:
Mengejar uang membuat anak-anak kehilangan kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya. Uang tidak bisa membeli segalanya.




referensi:
Money Can’t Buy Everything
Father Son Conversation

Jumat, 15 Januari 2016

40 Hal yang menyebabkan kita gagal

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Jumat, Januari 15, 2016

Berdasarkan pengalaman gagal saya yang cukup banyak dan lama dan keinginan untuk menolong orang lain, saya merasa cukup layak untuk membagikan hal yang menyebabkan kegagalan bagi Anda agar tidak turut merasakan sakitnya kegagalan.

Kegagalan memang sesuatu yang harus dirasakan setiap orang yang ingin berhasil, karena kegagalanlah yang membuat kita terus berusaha. Namun bukan berarti kita harus mengulang-ulang kegagalan berkali-kali. Ada kegagalan yang diperlukan, ada juga kegagagalan yang sia-sia. Saya di sini membagikan pengalaman saya agar Anda tidak perlu melewati kegagalan yang sia-sia.

Berikut adalah daftar dari 40 hal yang dapat menyebabkan kita gagal mencapai tujuan, visi, dan cita-cita:

  1. Tidak disiplin
  2. Lambat
  3. Suka menunda-nunda
  4. Tidak punya cetak-biru (blueprint) yang jelas akan hal yang ingin dicapai
  5. Tidak spesifik dalam menentukan tujuan yang ingin dicapai
  6. Tidak bekerja keras
  7. Tidak semangat
  8. Kehilangan fokus
  9. Melakukan hal yang tidak penting (seperti main game berlebihan) sehingga menghabiskan waktu yang berharga
  10. Tidak memiliki kalender kerja yang baik dan ketat
  11. Tidak terorganisir
  12. Gampang dipengaruhi emosi
  13. Tidak konsisten
  14. Tidak punya waktu kapan tujuan harus tercapai
  15. Cepat putus asa
  16. Tidak memiliki teman berbagi
  17. Tidak memiliki Master Mind (orang-orang yang memiliki tujuan yang sama) dalam mencapai tujuan
  18. Gampang dipengaruhi keadaan
  19. Tidak menentukan 'milestone' untuk hal yang perlu dicapai/diselesaikan dalam waktu yang singkat (Seperti dalam tempo harian, mingguan, atau bulanan)
  20. Tidak percaya diri/rendah diri
  21. Tidak memiliki pola pikir yang benar
  22. Tidak belajar dari kesalahan yang sebelumnya
  23. Tidak memiliki catata sejarah yang lengkap mengenai kegagalan dan keberhasilan yang dicapai di masa lalu
  24. Tidak belajar dari orang-orang yang sudah berhasil di bidang yang sama yang saat ini dikejar untuk dicapai
  25. Memiliki pasangan yang tidak mendukung tujuan
  26. Tidak menjaga kesehatan dengan berolahraga yang baik
  27. Kaku atau tidak fleksibel dalam menggunakan cara yang dipakai untuk m encapi tujuan
  28. Tidak memiliki iman yang kuat
  29. Ragu-ragu
  30. Terlalu muluk-muluk menentukan tujuan tanpa terlebih dahulu menilai apakah tujuan tersebut mungkin dicapai atau tidak
  31. Tidak melakukan perhitungan kemampuan diri (Self Assessment)
  32. Tidak mengejar tujuan yang sesuai dengan diri atau hobby
  33. Salah menilai tujuan yang sesungguhnya dengan menganggap uang adalah tujuan utama
  34. Tidak menerima nasihat orang yang lebih berpengalaman
  35. Terlalu memasukkan dalam hati kata-kata orang yang tidak membangun
  36. Tidak mencari tahu ilmu yang berkaitan dengan tujuan yang ingin dicapai
  37. Tidak bertanggung jawab
  38. Tidak ada motivasi
  39. Berpikiran sempit atau tidak berpikir global
  40. Tidak memanfaatkan dan membangun jaringan sosial


Semoga pengalaman saya membantu. 

Selasa, 12 Januari 2016

Bayi tidak pernah merasa gagal

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Selasa, Januari 12, 2016

Kita sebaiknya kembali memiliki sifat seorang bayi yang baru belajar berjalan. Bayi memiliki kegigihan yang tinggi. Meskipun berkali-kali gagal saat mencoba berjalan, dia tidak pernah sekalipun merasa lelah untuk mencoba. Sakit dan luka sepertinya tidak dirasakan, hanya fokus pada usahanya untuk dapat berjalan. Tidak ada istilah kegagalan dalam pikiran seorang anak bayi.

Sebagai orang dewasa, kita sudah kehilangan kegigihan tersebut. Kegagalan sepertinya menjadi sesuatu yang sangat mengerikan. Gagal menjadi hal yang permanen dalam hidup kita ini. Mungkin karena kita terlalu fokus pada kegagalan bukan pada tujuan yang ingin dicapai. Atau barangkali kita dalam proses kedewasaan malah menjadi semakin berpikiran sempit?

Kegagalan menjadi permanen saat kita berhenti berusaha. Seorang anak bayi tidak akan berhasil berjalan jika ia berhenti berusaha. Tidak ada dalam pikirannya kegagalan yang permanen, yang ada hanya kepercayaannya bahwa ia pasti bisa berjalan.


Juga hal yang membuat kita gagal adalah karena kita berhenti percaya dan menerima saja kenyataan bahwa kita tidak bisa berbuat apa-apa.

Pilihan ada di tangan kita; Percaya bahwa kita mampu melakukan dan mampu melewati rintangan kegagalan ataukah memilih untuk menerima kenyataan bahwa kita tidak memiliki potensi apapun untuk berhasil.

Ingatlah! bahwa kamulah yang menentukan masa depanmu, bukan orang lain.


1. Miliki Kepercayaan Pada Diri Anda
2. Kesadaran Bahwa Saya Memiliki Potensi Berhasil
3. mengapa saya terus-terusan gagal
4. Cintailah Dirimu Sendiri
5. Mengakui kelemahan diri
6. Saya orang gagal, saya tidak bisa melakukan apa-apa
7. Banyak masalah? Berhentilah memikirkannya



sumber gambar: You Don’t Need Therapy, You Are A Baby

Senin, 11 Januari 2016

Catat kegagalanmu

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Senin, Januari 11, 2016

Saya hari ini menemukan sebuah nasihat bijak yang mungkin sangat membantu dalam pengembangan diri dan pengembangan usaha. Nasihat bijaknya adalah:
Catat semua kegagalan yang kamu dapat. Catat apa yang hal-hal yang kamu lakukan dalam proses kegagalan tersebut. Catat langkah-langkah apa yang kamu lakukan sehingga kamu menjadi gagal. Catat apa saja yang sudah kamu persiapkan, apa rencana yang telah kamu susun, kajian apa yang telah kamu lakukan sehingga kamu menjadi gagal.
Nasihat ini sepertinya aneh saat pertama kali saya menemukannya. Karena jarang sekali kita mencatat dan mengingat kegagalan secara terperinci. Kita lebih suka mengingat-ingat keberhasilan dan kesuksesan yang kita raih.
Jika dipahami dengan saksama, maka nasihat ini sangat-sangat berguna. Semakin kita memahami dan memiliki catatan lengkap akan kegagalan yang pernah kita lalui maka kita semakin mudah melewatkan proses-proses gagal dan tidak perlu lagi mengulang kegagalan yang pernah dialami. Kesuksesan diraih dengan melewati banyak kegagalan, tapi bukan kegagalan yang sama.


Baca juga:
1. Miliki Kepercayaan Pada Diri Anda
2. Kesadaran Bahwa Saya Memiliki Potensi Berhasil
3. mengapa saya terus-terusan gagal
4. Cintailah Dirimu Sendiri
5. Mengakui kelemahan diri
6. Saya orang gagal, saya tidak bisa melakukan apa-apa




sumber gambarhttps://u.osu.edu/yasmeen.1/2014/07/19/note-taking-approaches/

Sabtu, 09 Januari 2016

Riset atau kepekaan dan empatikah yang menentukan?

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Sabtu, Januari 09, 2016

Saat membaca buku "It's not the BIG that eat the SMALL...it's the FAST that eat the SLOW" karangan Jason Jennings dan Laurence Haughton, saya mendapati sebuah paragraf yang cukup menarik dan amat penting untuk orang-orang yang sedang mengembangkan atau membangun usaha (Seperti saya ini, cie... cie..)

paragrafnya seperti ini:
Riset tidak pernah memprediksi suksesnya telepon, radio, televisi, televisi kabel, komputer pribadi, mesin faksimie, ataupun telepon genggam. Malahan riste "membuktikan" bahwa tidak ada satu pun dari alat-alat tersebut - begitu juga dengan taman hiburan berteman [Disney World, Sea World], hotel di tepi jalan hiburan bebas hambatan, dan restoran-restoran cepat saji -- akan menghasilkan sukses secara finansial. 
   Untuk setiap usaha baru tersebut di atas, seseorang memiliki cukup selera untuk mengenal nilai potensialnya dan atau mengantisipasi kemungkinan-kemungkinannya atau melihat suatu tren yang dapat dimanfaatkan.
Selera: penilaian kritis, ketajaman pandangan, atau menghargai; untuk memahami sifat, nilai, mutu atau makna dari; untuk menilai dengan persepsi yang lebih peka atau pandangan realitas yang lebih tinggi.
Secara fundamental, selera adalah kepekaan tentang yang menyenangkan dan membantu membuat orang-orang bahagia. Bagaimana mengembangkan selera seseorang? Memperhatikan apa yang membuat orang lain bahagia. Mempelajari apa yang membuat seseorang tidak bahagia. Mengamati apa yang membuat orang bahagia. Memahami apa yang tidak tidak disenangi orang. Mengetahui apa yang bisa menimbulkan keceriaan bagi manusia. Memahami apa yang membuat anda bahagia. Menjadi selaras dengan pelanggan...
Saya jadi teringat waktu kuliah dulu saat mencoba mengkopi data dari CD teman yang rusak. CD itu berisi hasil riset yang berharga jutaan rupiah. Riset tersebut merupakan riset yang mengkaji tentang perkembangan keuangan. Bagi saya sih tidak ada gunanya riset tersebut, makanya saya sangat setuju dengan kutipan di atas. Jelas tidak berguna, karena saya gak ngerti keuangan saat itu, hahahaha.

Hal yang sangat perlu kita pegang dalam mengembangkan usaha terletak pada paragraf akhir dari kutipan di atas. Kita harus mengerti calon pelanggan, mengerti kebutuhan pelanggan, dan mengerti apa yang diinginkan pelanggan.

Kutipan di bawah ini mungkin akan melengkapkan pemahaman kita dalam mengembangkan usaha:
Anda akan berpikir lebih cepat dari orang di samping anda bila anda memahami pendorong perubahan yang utama, berusaha tetap mengikuti perkembangan, selalu mencari kombinasi-kombinasi baru, dan berusaha untuk mengembangkan daya persepsi yang lebih peka.

Hasil riset memang penting. Tetapi yang paling menentukan adalah kepekaan dan empati kita pada orang lain yang akan menjadi calon pelanggan.



sumber gambarResearch - Wikipedia

Jumat, 01 Januari 2016

Komunikasi, Berikan pujian yang tulus

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Jumat, Januari 01, 2016
Ada satu hal yang sering kita lupakan sebagai cara berkomunikasi, pujian yang tulus untuk orang lain. Kita sering lupa untuk memberikan pujian yang tulus pada orang lain, sebaliknya selalu ingin dipuji orang lain. Ini merupakan sifat alami yang dimiliki manusia, keinginan untuk dipuji. Sayangnya tidak semua orang suka memuji, bahkan kalau bisa dibilang sangatlah sulit untuk menemukan orang yang memuji orang lain dengan tulus.

Kalau kita berusaha untuk jujur, kebanyakan dari kita sesungguhnya cukup egois. Kita sering mengharapkan pujian dari orang lain tanpa pernah berusaha untuk memuji orang lain. Karenanya, banyak komunikasi yang baik tidak terjalin hanya karena tidak adanya pujian yang tulus.

Setiap orang senang untuk dipuji. Hampir setiap orang senang dengan orang yang suka memuji. Oleh karena itu, jika kita ingin berkomunikasi dan dekat dengan orang lain maka pujian merupakan sesuatu yang wajib kita lakukan. Karena orang yang dipuji merasa dia berharga, Ia mendapatkan energi positif dari pujian orang lain.

Pujian yang tulus itu sangat berharga. Tetapi pujian yang mengada-gada merusak. Orang senang dengan pujian yang jujur dan tulus bukan dengan kebohongan.

Sabtu, 26 Desember 2015

sedikit tentang Kaizen

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Sabtu, Desember 26, 2015
Saat sedang browsing, saya membaca tentang Kaizen, sebuah filosofi tentang perbaikan terus menerus yang diterapkan pada perusahaan di Jepang seperti Toyota.

Konsep Kaizen ini saya pikir sangat berhubungan dengan pengembangan diri, jadi sangat penting untuk diketahui.

Ini dua penjelasan yang saya dapatkan.

A. Dari buku To-Do: Team! oleh Karol Sójko
Dasar Kaizen berkisar tentang sebuah proses yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Standarisasi aktivitas Anda
2. Ukur standar tersebut
3. Inovasi standar tersebut
4. Ulangi!

B. Dari What are the most fundamental philosophies and tools of Kaizen?
Cara yang paling mudah untuk menerapkannya adalah:
1. Tetapkan sebuah praktek atau rutin standar untuk melakukan sesuatu.
2. Jadilah hebat dalam hal tersebut dengan melakukannya dengan cara yang sama.
3. Tambahkan secara perlahan cara yang dapat membuatnya lebih baik dan efisien.
4. Buat menjadi rutin dan tetap terus mengikuti.
5. Jika masalah terjadi saat menerapkannya, perbaiki walau masalahnya kelihatan terlalu kecil. Dan kemudian lanjutkan prosesnya. (Jangan lewati metode ini, karena merupakan bagian terpenting - Seperti yang ada pada Toyota Production System aka TPS).
6. Dengan melakukan semuannya ini akan membuat proses tersebut menjadi lebih efisien dan hemat waktu dibanding waktu pertama kali Anda melakukannya.
7. Bagian terpenting dari semuanya ini adalah, mulailah melakukan semuanya di rumah Anda, lakukan pada hal-hal yang sepele seperti:
- Saat Anda membuat teh atau kopi di pagi hari
- Rutinitas harian
- Cara Anda membuat sarapan pagi
- Cara Anda meletakkan benda-benda.

Senin, 12 Oktober 2015

Jangan sakit hati pada orang yang marah

by Unknown  |  in Personal Building at  Senin, Oktober 12, 2015

Kalau orang marah kepadamu apa yang kamu lakukan? Kemungkinan besar kamu juga akan marah padanya; ikut-ikutan marah dan memarahinya atau menyimpan amarah di dalam hatimu. Kedua pilihannya sebenarnya adalah sama cuma cara penyampaiannya saja yang berbeda.

Seperti slogan "Buanglah Sampah Pada Tempatnya", marah pun harus disalurkan pada tempatnya. Ada kalanya kita patut marah seperti disaat kita melihat orang yang melakukan penyiksaan pada orang lain, atau saat kita melihat ketimpangan sosial di masyarakat, atau disaat kita merasakan ketidakadilan yang terjadi pada orang-orang di sekitar. Ada juga saatnya kita tidak patut marah seperti saat kita dihardik karena melakukan kesalahan. Marah merupakan salah satu bagian hidup manusia yang penting.

Perlukah Marah?
Namun apakah kita sebaiknya marah? Mari kita selidiki saat-saat amarah meliputi pikiran kita. Saat kita marah, kita cenderung tidak bisa berpikir jernih dan sering melakukan hal yang tidak perlu. Amarah menguasai dan selalu ingin meluapkan seluruh kekesalan yang ada di dalam hati saat itu juga. Ketika amarah menjadi pemimpin pikiran, maka hal baik yang biasa kita lakukan pun hilang digantikan dengan hal yang jahat.

Orang yang sedang marah sering disamakan dengan orang yang sudah gila. Orang gila sembarang melakukan apapun tanpa memikirkan apa konsekuensinya, demikian juga orang yang marah ia akan cenderung melakukan apapun untuk memuaskan amarahnya tersebut.

"Sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah." Yakobus 1:20
Seperti kutipan ayat alkitab di atas, amarah tidak akan mengerjakan hal yang baik bagi hidup kita. Amarah hanya berfungsi untuk memuaskan emosi manusia, lebih dari itu tidak ada. Jangan memilih untuk marah tetapi pilihlah untuk berhenti marah.


Sakit Hati Pada Orang Yang Marah
Kecenderungan yang terjadi pada saat kita berhadapan dengan orang yang marah adalah kita terbawa emosi dan ikutan-ikutan marah. Tentu saja hal ini tidak bermanfaat sama sekali, karena bukannya menyelesaikan masalah penyebab marah orang tersebut malah kita menambah masalah lain. Sebaiknya kita tidak terpancing untuk marah, kemudian kita berusaha mencari tahu apa penyebab orang itu marah.

Bisa dikatakan saya adalah orang yang terlalu sensitif terhadap sikap orang lain, terutama amarah orang lain. Terkadang amarah saya jauh lebih besar dari amarah orang yang memarahi saya. Memang sepertinya ada rasa terpenuhi saat saya diliputi rasa marah. Namun ternyata bukan karena amarah itu memberikan hal yang berarti, malah sebenarnya kepuasan yang saya terima adalah rasa puas karena bisa marah. Amarah saya dipuaskan oleh rasa marah bukan hati saya yang dipuaskan. Setelah saya marah apa yang saya dapat? Malah semakin banyak masalah dan kemudian penyesalan karena sudah menyakiti orang lain dengan amarah, yang tentu saja sudah terlambat datangnya.

Kebanyakan orang tidak ingin marah dan tidak suka marah. Tetapi masalah pribadi, kantor, keluarga, atau keuangan, sering memicu orang untuk marah. Karena itu, ketika seseorang marah pada kita sebaiknya kita berusaha mengerti dan memakluminya sebab mungkin saja ia marah karena masalah di kantornya terlalu berat, atau bisa saja ia sedang mengalami hari yang buruk dalam hidupnya, atau saat itu ia sedang memiliki masalah dengan suami atau istri atau anak-anaknya. Jangan ikut marah dan berusahalah untuk mengerti mereka.

Amarah bisa diatasi jika kita mau untuk mencoba. Amarah bukan tuan atas diri kita tetapi kitalah yang berkuasa atasnya.



sumber gambar: https://andrewberg.wordpress.com/2015/06/03/three-ways-to-battle-anger/