Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 12 Oktober 2015

Jangan sakit hati pada orang yang marah

by Joielechong sipayung  |  in Personal Building at  Senin, Oktober 12, 2015


Kalau orang marah kepadamu apa yang kamu lakukan? Kemungkinan besar kamu juga akan marah padanya; ikut-ikutan marah dan memarahinya atau menyimpan amarah di dalam hatimu. Kedua pilihannya sebenarnya adalah sama cuma cara penyampaiannya saja yang berbeda.

Seperti slogan "Buanglah Sampah Pada Tempatnya", marah pun harus disalurkan pada tempatnya. Ada kalanya kita patut marah seperti disaat kita melihat orang yang melakukan penyiksaan pada orang lain, atau saat kita melihat ketimpangan sosial di masyarakat, atau disaat kita merasakan ketidakadilan yang terjadi pada orang-orang di sekitar. Ada juga saatnya kita tidak patut marah seperti saat kita dihardik karena melakukan kesalahan. Marah merupakan salah satu bagian hidup manusia yang penting.

Perlukah Marah?
Namun apakah kita sebaiknya marah? Mari kita selidiki saat-saat amarah meliputi pikiran kita. Saat kita marah, kita cenderung tidak bisa berpikir jernih dan sering melakukan hal yang tidak perlu. Amarah menguasai dan selalu ingin meluapkan seluruh kekesalan yang ada di dalam hati saat itu juga. Ketika amarah menjadi pemimpin pikiran, maka hal baik yang biasa kita lakukan pun hilang digantikan dengan hal yang jahat.

Orang yang sedang marah sering disamakan dengan orang yang sudah gila. Orang gila sembarang melakukan apapun tanpa memikirkan apa konsekuensinya, demikian juga orang yang marah ia akan cenderung melakukan apapun untuk memuaskan amarahnya tersebut.

"Sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah." Yakobus 1:20
Seperti kutipan ayat alkitab di atas, amarah tidak akan mengerjakan hal yang baik bagi hidup kita. Amarah hanya berfungsi untuk memuaskan emosi manusia, lebih dari itu tidak ada. Jangan memilih untuk marah tetapi pilihlah untuk berhenti marah.


Sakit Hati Pada Orang Yang Marah
Kecenderungan yang terjadi pada saat kita berhadapan dengan orang yang marah adalah kita terbawa emosi dan ikutan-ikutan marah. Tentu saja hal ini tidak bermanfaat sama sekali, karena bukannya menyelesaikan masalah penyebab marah orang tersebut malah kita menambah masalah lain. Sebaiknya kita tidak terpancing untuk marah, kemudian kita berusaha mencari tahu apa penyebab orang itu marah.

Bisa dikatakan saya adalah orang yang terlalu sensitif terhadap sikap orang lain, terutama amarah orang lain. Terkadang amarah saya jauh lebih besar dari amarah orang yang memarahi saya. Memang sepertinya ada rasa terpenuhi saat saya diliputi rasa marah. Namun ternyata bukan karena amarah itu memberikan hal yang berarti, malah sebenarnya kepuasan yang saya terima adalah rasa puas karena bisa marah. Amarah saya dipuaskan oleh rasa marah bukan hati saya yang dipuaskan. Setelah saya marah apa yang saya dapat? Malah semakin banyak masalah dan kemudian penyesalan karena sudah menyakiti orang lain dengan amarah, yang tentu saja sudah terlambat datangnya.

Kebanyakan orang tidak ingin marah dan tidak suka marah. Tetapi masalah pribadi, kantor, keluarga, atau keuangan, sering memicu orang untuk marah. Karena itu, ketika seseorang marah pada kita sebaiknya kita berusaha mengerti dan memakluminya sebab mungkin saja ia marah karena masalah di kantornya terlalu berat, atau bisa saja ia sedang mengalami hari yang buruk dalam hidupnya, atau saat itu ia sedang memiliki masalah dengan suami atau istri atau anak-anaknya. Jangan ikut marah dan berusahalah untuk mengerti mereka.

Amarah bisa diatasi jika kita mau untuk mencoba. Amarah bukan tuan atas diri kita tetapi kitalah yang berkuasa atasnya.



sumber gambar: https://andrewberg.wordpress.com/2015/06/03/three-ways-to-battle-anger/

0 comments:

Silahkan tinggalkan komentar anda: