free counters
Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label hidupku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hidupku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Oktober 2016

Kita dapat belajar sesuatu dari siapapun, kisah nyata.

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Kamis, Oktober 06, 2016
"Kamu bisa belajar dari siapa pun, bahkan musuhmu."
― Ovid

Ada peristiwa yang membuka wawasan pemikiran saya. Hal tersebut terjadi beberapa hari yang lalu tepatnya malam tanggal 4 Oktober 2016 sekitar pukul 22:15 WIB.

Menunggu Angkot

Saat itu saya sedang menunggu angkot di sekitar Lubuk Pakam untuk pulang ke medan. Saya menunggu dengan was-was karena biasanya jam 22:00an angkot cukup sulit didapatkan. Di saat menunggu, datang seorang laki-laki yang kisaran umurnya sekitar 35-40 tahun yang juga sama-sama menunggu angkot.

Beberapa waktu berlalu, dan sambil duduk menunggu di bangku yang ada di kios di pinggir jalan di dekat tempat saya menunggu, saya berpikir untuk menyapa orang tersebut. Namun dalam pandangan saya orang tersebut bukan orang yang akan merespon dengan baik jika disapa, saya menilainya dari sikapnya yang tergesa-gesa dan terfokus untuk menunggu datangnya angkot.

Sudah hampir setengah jam berlalu, tidak ada angkot yang lewat, kecuali angkot yang sedang pulang tanpa mencari sewaan. Dalam hati saya kuatir juga, masakan mau nginap di daerah itu padahal uang pun sudah pas-pasan. Saya perhatikan ternyata laki-laki tersebut juga sepertinya kuatir karena angkotnya tidak kunjung datang, namun tidak saya dengar keluh kesahnya sama sekali. Biasanya orang yang kuatir sedikit berisik, yang dilakukan entah sengaja atau karena kebiasaaan, untuk menyeimbangkan rasa kuatirnya. Tetapi hal ini tidak terjadi pada laki-laki tersebut.

Laki-laki tersebut berdiri dengan arah mata menuju ke arah arus datangnya kendaraan. Kekuatiran nampak jelas dari sikap tubuhnya. Tentu sikapnya menambah kekuatiran yang saya rasakan saat itu. Namun untunglah beberapa waktu kemudian sebuah mobil angkutan antar kota dengan model L300. Namun agak ganjil rasanya karena lelaki tersebut tidak mendatangi mobil tersebut untuk menanyakan arah tujuan. Ia malah menunggu saya untuk menanyakan tujuan mobil tersebut. Karena memang ingin bergegas pulang, saya tidak memikirkan terlalu jauh dan menanyakan tujuan mobilnya. Sang supir menjawab bahwa tujuannya Medan. Keganjilan kedua terjadi, lelaki sebelumnya mempersilahkan saya duluan masuk ke mobil padahal dia saat itu yang sudah membuka pintu. Meski ganjil, tetapi merupakan sebuah nilai tata krama ketimuran yang saya kagumi. Ditengah-tengah perubahan nilai moral dari orang-orang kota, lelaki tersebut masih menjunjung tinggi budayanya. Nilai moral yang mulai terkikis dan agak jarang kita temukan dari kebiasaan orang-orang kota di Medan.

Saya sangat tertolong oleh orang tersebut, karena seandainya saja dia tidak berdiri menunggu mungkin saja saya bisa lebih lama lagi menunggu angkutan. Bahkan kemungkinan saya tidak pulang, walaupun kecil kemungkinannya.

Di Dalam Mobil

Setelah berada dalam mobil yang kami naiki tersebut saya mengucap syukur pada Tuhan dalam hati karena akhirnya saya bisa pulang ke medan. Akhirnya saya bisa kembali menuju ke kamar kost-kostan yang tercinta.

Dalam perjalanan menuju medan tersebut saya mencoba memperhatikan keadaan di dalam mobil. Ada 5 orang penumpang termasuk saya dan laki-laki tadi, dengan 1 orang supir. Perhatian saya kemudian tertuju pada laki-laki itu yang duduk tepat di sebelah kiri saya. Saya perhatikan dia sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Ahh, mungkin saja dia merasa senang karena bisa pulang, pikirku. Namun lama-kelamaan kelihatan ada sesuatu yang aneh dari orang tersebut. Ia menunjukkan tingkah yang tidak seperti orang normal umumnya.

Sikapnya kelihatan aneh. Ia menggerakan tangannya seperti sedang menggambarkan sesuatu. Sesekali ia meninju-ninjukan kepalan tangannya ke arah depan. "Wah, bahaya nih", dalam hati saya berguman. "Jangan-jangan orang gila orang nih. Apa yang dipikirkan supir nanti, jangan-jangan supir berpikir dia teman saya. Jangan-jangan supir berpikir karena aku makanya dia naik.", pikirku dalam hati. Prasangka saya pun semakin bertambah kuat ketika melihatnya seolah-olah ingin mengigit dengan keras bungkusan plastik yang saat itu dibawanya. Penumpang yang lain tidak memperhatikan hal-hal tersebut karena saat itu lampu ruangan mobil sengaja dipadamkan seperti yang biasa dilakukan saat sedang dalam perjalanan.

Namun suara hati saya mengingatkan saya untuk tidak terburu-buru membenarkan pemikaran saya tersebut. Saya ikuti kata hati dan lebih memperhatikan dengan saksama laki-laki tersebut. Mungkin saja dia sedang tertekan atau barangkali dia sedang dilanda kesenangan yang besar, karena di saat-saat seperti itu banyak orang mengalami 'kegilaan sementara'. Saya semakin mengamatinya.

Orang Gilakah?

Logika saya mengatakan lelaki tersebut orang gila, namun hati saya tidak bisa mempercayai logika saya saat itu. "Ada sesuatu yang kurang sepertinya", pikirku. Setelah hampir 3/4 perjalanan menuju ke medan, di sekitar daerah Kayu Besar, Tanjung Morawa, akhirnya nyatalah apa yang saya pikirkan sebagai bagian yang hilang dari pengamatan sebelumnya. Laki-laki tersebut memberikan kode kepada supir, dengan suara yang tertahan dengan satu nada yang sama, untuk memberhentikan mobilnya karena dia telah sampai ke tujuannya. Ternyata dia memiliki kekurangan fisik pada suaranya!.

Apa yang logika saya katakan ternyata salah besar. Laki-laki itu bukan orang gila, dia hanya memiliki kekurangan fisik di organ bicaranya. Ohh, betapa berdosanya aku saat itu.

Hal yang terakhir terjadi merupakan sebuah momen yang sangat menyentuh hati saya saat itu. Laki-laki tersebut sebelum menutup pintu mobil memberikan sebuah isyarat tubuh dengan sedikit membungkukan dirinya. Sebuah isyarat untuk rasa terima kasih yang sepertinya ditujukan kepadaku sebab saat itu hanya aku yang berada tepat di depannya. Saya sungguh keterlaluan; dia memberikan saya sebuah penghormatan tetapi saya sebelumnya menganggap dia tidak waras!.

Jangan Menilai Buku Dari Sampulnya

Sekarang semakin saya sadari bahwa kita bisa belajar sesuatu dari orang lain. Siapapun orang itu, mau kaya, miskin, pengangguran, pengusaha sukses, anak-anak, pemuda, orang tua, dan bahkan dari orang yang tidak waras sekalipun. Ada nilai yang bisa kita dapatkan. Ada pembelajaran yang bisa kita petik manfaatnya.

Pemikiranku

Mungkin sebagian pembaca akan berpikir bahwa laki-laki itu memang gila. Saya malah berpikir bahwa apa yang dilakukan laki-laki itu - gerakan tangan yang aneh, gerakan sedang mengigit bungkus plastik - adalah sikap yang wajar. Mengapa demikian? Saya pikir cukup wajar jika seseorang berbicara kepada dirinya, bermonolog dengan dirinya sendiri. Hal ini wajar untuk orang yang memiliki organ bicara yang baik. Untuk orang dengan organ bicara yang rusak bagaimana? Dia berbicara dengan isyarat tangan dan tubuh, maka saya pikir juga wajar jika dia berbicara dengan dirinya sendiri menggunakan gerakan tubuhnya bukan?


"Setiap orang yang engkau jumpai mengetahui sesuatu yang tidak kamu ketahui."
― Bill Nye

Kamis, 18 Agustus 2016

Kaleng susu dan tangan

by Unknown  |  in hidupku at  Kamis, Agustus 18, 2016
No Pain No Gain
Tidak ada hasil tanpa rasa sakit.
Bahkan dalam hal yang kelihatan sepele pun, kata-kata bijak di atas tetap berlaku. Buktinya, malam ini saya mencoba untuk membuka kaleng susu dengan model penutup seperti minuman kaleng dengan sebuah rasa sakit.

Awalnya hanya ingin merasakan susu coklat hangat yang sudah saya nanti-nantikan sejak mulai pagi. Karena kondisi hujan mulai pagi sampai siang dan kemudian hujan lagi di malam hari, minum susu coklat hangat itu seperti menikmati indahnya dunia... (Lebay mode on).

Jadi sudah dari pagi mau buat susu coklat hangat. Tapi tak kesampaian karena ternyata toko tempat saya berlangganan tidak buka. Dan karena ternyata hasrat saya tersebut tidak juga pudar, maka saya akhirnya membeli susu kaleng di supermarket indoMarket (Censored).

Saat hendak membuka penutupnya dengan sedikit tarikan, ternyata tenaga yang saya pakai terlalu kuat. Penutup kaleng yang terbuat dari logam tersebut jadi melukai tangan saya sendiri. Foto di bawah ini adalah tangan saya sebagai korban.



Dan ini foto dari pelakunya:



Pesan moral yang bisa didapatkan dari peristiwa ini:
  1. Berhati-hatilah dalam perkara yang kecil.
  2. Jangan terlalu terbawa nafsu, santailah.
  3. Dibutuhkan pengorbanan dalam mendapatkan sesuatu.


Senin, 15 Agustus 2016

Pak Supir, Karyawan, dan Pengusaha

by Unknown  |  in Motivasi at  Senin, Agustus 15, 2016
Ada kata-kata bijak yang mengatakan:
 "Kita dapat belajar dari siapapun, siapa pun dapat menjadi guru kita"
dan kata-kata ini tepat adanya.

Pengalaman saya kemarin malam mengajarkan betapa tepatnya kata-kata tersebut.

Saat itu saya sedang dalam perjalanan pulang ke kost di daerah sekitar padang bulan menggunakan angkot pada kisaran pukul 21:30. Dan saat itu penumpang hanya berjumlah 3 orang. Setelah hampir setengah perjalanan, tinggalah saya sendiri dan pak sopirnya. Dan terjadilah sebuah percakapan:

Pak Supir: Mau kemana bang?
Saya: Simpang pos Pak. (Pembaca yang tinggal di medan kemungkinan besar tahu dimana simpang pos)
Pak Supir: Abang yang kemarin naik yah?
Saya: Gak Pak, gak ada naik angkot kemarin Pak.
Pak Supir: Ohh, ada yang mirip sama abang kemarin.
Saya: (Dalam hati berpikir: Kayaknya awak gak ada naik angkot kemarin lah. Jadi saya berpikir, ternyata laku keras wajah awak di medan ini -- red. awak = saya, bahasa pasarnya medan.)
Pak Supir: Dari mana tadi bang?
Saya: Ngantar pacar Pak. (Inilah uniknya orang medan, yang ditanya dari mana tapi yang dijawab apa yang dilakukan)
Pak Supir: Setia juga yah. (Nah ini lebih hebat lagi. Walaupun dijawab lain dari pertanyaan, tapi tetap bisa dimengerti lawan bicaranya. Orang medan memang mantap)
Saya: Namanya juga pacaran Pak. (Dalam hati berkata: Awak memang setia, bawaan lahir)

...

Saya: Gak ada penumpang yah Pak.
Pak Supir: Iya, tadi aku tolak penumpang di lubuk pakam (Kalau saya artikan ini, saat itu penumpangnya penuh makanya gak diangkut)
Saya: Ohh..
Pak Supir: Nanti bulan 9 baru banyak penumpang.
Saya: ???. Kenapa bulan 9 Pak?
Pak Supir: Disitu mahasiswa masuk, jadi banyak penumpang.
Saya: Ohhhh...
Saya: Biasanya gak ramai hari minggu malam gini Pak?. Kan pulang dari kampung semua.
Pak Supir: Enggak bang, seperti hari biasa penumpangnya.
Saya: Ohh..
Pak Supir: Marga apa bang?
Saya: Sipayung Pak, simalungun.
Pak Supir: Ohh, Sipayung simalungun yah?
Saya: Ada yang simalungun ada yang toba Pak.
Pak Supir: Sama kayak Purba yah, ada simalungun ada juga toba.
Saya: Ada juga Purba Karo Pak.
Pak Supir: (Berbicara, tapi tidak jelas saya dengar karena berisiknya jalanan)
Saya: Bapak orang apa Pak?
Pak Supir: Aku orang jawa, tapi lahir di siantar.
Saya: Ohh..

... (pembicaraan diam beberapa detik)

Pak Supir: Dimana kampung bang?
Saya: Di Langkat, besitang Pak.
Pak Supir: Di medan tinggal di rumah atau kost?
Saya: Kost Pak.
Pak Supir: (Mengiyakan sambil fokus cari penumpang)

...

Pak Supir: Kuliah atau kerja bang?
Saya: Kerja Pak.
Pak Supir: Di mana?
Saya: Center Point Pak.
Pak Supir: Udah lama kerja di situ?
Saya: Baru beberapa bulan sih Pak.
Pak Supir: Berapa gajinya?
Saya: censored (tabu bicara gaji, hahahaha)

...

Saya: Masih jauh perjalanan Bapak yah. Ke pancur batu lagi yah.
Pak Supir: Iya, nanti sampai langsung cuci mobil lalu pulang bang.
Saya: Ohh.. (Mengangguk dan mengiyakan dalam hati)
Saya: Ini mobil Bapak sendiri?
Pak Supir: Iya.
Saya: Enak lah Pak yah, gak perlu lagi bayar setoran.
Pak Supir: Iya bang, kalau pagi sampai sore orang yang bawa. Maghrib saya yang mulai bawa.
Saya: Enaklah Bapak, sudah menerima uang setoran gak menyetor lagi.
Pak Supir: Yah gitu bang. Tapi sampai rumah gak enak juga bang.
Saya: (Bertanya dalam hati, apa yang gak enaknya)
Pak Supir: Sampai rumah gak bisa tidur cepat, paling cepat tidur jam tiga pagi. Menggambar.
Saya: Gambar apa Pak?
Pak Supir: Menggambar untuk proyek bangunan dari kantor.
Saya: Wahhh, hebat Bapak ini yah.
Pak Supir: Kalau hebat masih banyak yang lebih hebat di luar sana bang.
Saya: Setidaknya Bapak lebih hebat daripada saya yang masih menerima gaji dari orang. Bapak udah bisa menggaji orang.
...
...
Akhirnya saya sampai di tujuan, dan terpaksa menghentikan obrolan kami.

Kita lebih sering menutup mata dan berhenti untuk belajar berdekatan dengan orang lain hanya dikarenakan perbedaan pekerjaan. Dan karena itu kita menjadi buta akan kualitas yang dimiliki orang lain hanya karena pekerjaan kita kelihatan lebih berkelas daripada pekerjaan orang lain.

Setiap orang punya sisi positif yang dapat memberikan nilai tambah dalam kehidupan kita. Bahkan dari sisi negatifnya kita pun bisa belajar bahwa setiap orang punya kelemahan. Dan betapa besarnya kelemahan itu, tidak akan pernah menutupi potensi dari diri kita.

Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa kita tidak serta merta dapat menentukan apa kemampuan dari orang lain. Kita tidak dapat mengetahui mutiara yang tersembunyi dari orang lain tanpa kita berusaha untuk mengenal mereka lebih dalam. Dengan mengenal, kita mengetahui bahwa kita ternyata perlu banyak belajar dari orang lain. Ada banyak hal yang tidak bisa kita lakukan namun ternyata orang lain telah melakukannya. Setiap orang bisa menjadi yang ia inginkan. Setiap orang bisa menjadi guru yang baik bagi hidup kita. Setiap orang memiliki bumbu kehidupan yang bisa memberi makna dalam kehidupan kita.

Mari buka mata dan hati. Mari merendahkan diri untuk berusaha mengenal orang lain.


Jumat, 22 Juli 2016

Mempercepat Kualitas Kebasian Nasi

by Unknown  |  in Opini at  Jumat, Juli 22, 2016
Saya mengalami pengalaman yang unik baru-baru ini, yang saya rasa tidak semua orang pernah mengalaminya dan hanya orang-orang terpilih saja yang dapat paham, merasakan, dan menghayati pengalaman ini 8:).

Suatu ketika saya sedang kelaparan. Kebetulan ada nasi yang sebelumnya sudah ditanak di Rice Cooker dengan pemanas (Istilah kerennya: MagicJar). Rupanya setelah saya hendak memakannya, nasi tersebut saya temukan sudah mulai berair dan sedikit berbau. Tetapi masih layak untuk dimakan.

Karena memiliki pengetahuan yang cukup mendalam tentang proses fermentasi pada makanan, timbul ide untuk memanaskannya kembali, tetapi dengan memilih mode masak. Otak saya yang jenius ini berpikir pasti bakteri yang memfermentasikan nasi itu mati kepanasan. Kalau bakterinya mati, berarti nasinya bisa saya makan seperti biasanya.

Setelah menunggu beberapa menit suara "Klik" yang menandakan sudah masak berbunyi. Saya berguman dalam hati "Wah, sudah masak. Waktunya makan". Namun apa daya, setelah saya periksa nasinya ternyata malah jadi basi. Teori jenius saya ternyata salah total. Dan akhirnya saya terpaksa makan nasi basi karena sangat dan terlalu kelaparan.

Satu pertanyaan yang akhirnya muncul di benak,
Apakah hasil pengalaman saya bisa dijadikan basis untuk menerima Nobel Kimia?. Mungkin saja.


Moral Of The Story:

  1. Jangan terlambat makan. 
  2. Jangan suka menunda-nunda. 
  3. Sesuatu yang instan didapatkan cenderung tidak baik. 
  4. Hati-hati kena maag.
  5. Jangan malas.

Kamis, 24 Maret 2016

Sakit hati, kekecewaan, penderitaan, masalah, beban, dan kesulitan hidup

by Unknown  |  in Opini at  Kamis, Maret 24, 2016

Sakit hati, kekecewaan, penderitaan, masalah, beban, dan kesulitan hidup sebenarnya adalah faktor yang sangat penting bagi kehidupan kita. Memang sulit untuk dihadapi tapi perlu dilewati.

Semakin sering kita mengalami hal-hal tersebut, dan berhasil melewatinya, semakin dewasa pula kita. Memang itu semuanya benar-benar menyakitkan, tetapi ironisnya tanpa hal tersebut kita sulit untuk mengerti hal-hal yang bermanfaat bagi hidup kita sendiri.

Seperti halnya rasa sakit, kalau kita pikir sekilas rasa sakit mungkin kelihatan bermanfaat. Apa gunanya rasa sakit? Bukankah perasaan yang menyenangkan itu yang penting?. Contoh sederhana ini mungkin akan membuka pikiran kita:
Coba pikirkan kalau kamu tidak bisa merasakan sakit. Awalnya kelihatan hebat karena kamu tidak perlu lagi kuatir akan sulit dan kerasnya kehidupan. Sekarang bayangkan saat tanganmu kamu arahkan ke api dari sebuah lilin yang menyala. Dengan kondisi tanpa rasa sakit, kamu akan terus meletakkan tanganmu karena tidak ada rasa sakit karena terbakar. Dan jika kamu tidak menjauhkan tanganmu dari api tersebut, maka tanganmu akan terbakar dan bisa jadi cacat permanen. Rasa sakitlah yang menyebabkan kamu menjauhkan tanganmu dari api lilin tersebut. Rasa sakitlah yang menyelamatkan tanganmu.

Ada pepatah yang mengatakan "Pengalaman adalah guru yang terbaik", hal ini hampir sepenuhnya benar. Karena dari pengalamanlah kita belajar untuk menjadi lebih dewasa. Rasa sakit, kekecewaan, penderitaan, merupakan bagian dari pengalaman yang sangat berarti.

Kita bisa mengerti orang lain jika kita pernah mengalami hal yang sama dengan yang orang tersebut rasakan. Rasa sakit mengajarkan kita untuk lebih memahami hidup dan menjaga hidup kita. Rasa sakit menunjukkan kepada kita bahwa sebenarnya kita adalah makhluk yang tidak sempurna yang masih perlu banyak belajar untuk mengerti arti kehidupan yang sesungguhnya.




sumber gambar: https://www.coursera.org/course/chronicpain

Minggu, 06 Maret 2016

Harga diri atau kebahagiaan

by Unknown  |  in Opini at  Minggu, Maret 06, 2016

Harga diri merupakan hal yang terkadang menjadi bumerang bagi kebanyakan orang. Ini dikarenakan sifatnya yang dualisme; yang satu meningkatkan penilaian yang baik pada diri seseorang, dan yang satu lagi meningkatkan penilaian bahwa seseorang itu memiliki martabat yang lebih tinggi dari orang lain. Memang orang yang memiliki harga diri yang tinggi cenderung memiliki kepercayaan diri yang tinggi juga. Dan tentu saja hal tersebut memberi pengaruh positif yang sangat besar bagi perkembangan kepribadian seseorang. Tetapi saat harga diri bergeser menjadi semata-mata bermakna martabat diri yang lebih tinggi dari orang lain, maka sering terjadi pergesekan-pergesekan kepentingan yang malah merugikan.

Memang harga diri itu penting bagi semua orang. Harga diri yang tinggi membantu kita bertumbuh dan membantu perkembangan karakter individu ke arah yang positif. Orang-orang pemenang selalu memiliki harga diri yang tinggi.

Saya termasuk orang yang memiliki harga diri yang tinggi. Saya memiliki harapan yang tinggi dalam kehidupan pribadi. Saya memiliki kepercayaan yang tinggi bahwa saya pasti meraih kesuksesan yang saya mau. Saya memiliki intelegensi dan kemampuan belajar yang tinggi semua berkat harga diri yang tinggi. Sisi buruknya adalah, saya lebih sering keras kepala dan sering terlalu percaya diri akan kemampuan saya. Menganggap pendapat orang lain itu biasa dan tidak berpengaruh merupakan salah satu sifat buruk yang saya miliki. Untung sifat ini sudah berkurang dan sudah mampu untuk saya kuasai.

Dulu saya biasa untuk beradu argumentasi dengan orang lain. Menjadi benar dan menang dalam argumentasi merupakan sebuah keberhasilan bagi saya. Dan yang saya hasilkan kebanyakan hanya kepuasaan sesaat. Menang dalam argumentasi hanya membuat hubungan kita dengan orang lain jadi jauh lebih buruk dari sebelumnya. Saya menang dengan membawa pulang ketidakbahagiaan.

I'd far rather be happy than right any day. Douglas Adams
Kebahagiaan jauh lebih penting daripada sekadar harga diri. Seandainya saya bisa kembali dan memperbaiki hidup saya sebelumnya, maka saya akan selalu berusaha untuk merendahkan diri saya sendiri untuk mendapatkan kebahagiaan. Apakah artinya kita hidup jika kita tidak bahagia?

Sulit untuk memilih antara harga diri atau kebahagiaan ketika keduanya saling bertolak belakang. Keputusan kembali kepada kita, apakah kita sudah cukup dewasa untuk memilih apa yang bermanfaat untuk waktu yang berkepanjangan atau mengikuti keinginan sesaat saja. Saya memilih untuk bahagia.



sumber gambar: Human value & a look at self-worth

Kamis, 03 Maret 2016

Memilih yang terpenting di antara yang menyenangkan

by Unknown  |  in Opini at  Kamis, Maret 03, 2016
Kalau kita dipaksa untuk jujur memilih apa yang terpenting yang kita lakukan dalam hidup kita, mungkin kita sama sekali bingung untuk menentukannya. Banyak hal yang terasa penting di dalam hidup kita. Kebanyakan hal yang menyenangkanlah yang kita anggap merupakan hal yang penting. Ini yang membuat kita sulit untuk tahu apa yang terpenting bagi hidup kita.

Kesenangan yang kita anggap hal yang penting sering malah merupakan hal yang menghambat kita untuk berkembang. Ada beberapa kesenangan penting yang sebaiknya kita batasi seperti:

  1. Berinternet yang berlebihan untuk bersosial media
  2. Menghabiskan waktu di luar untuk sekadar bersantai/rileks
  3. Main Game yang berlebihan
  4. Menonton Televisi
  5. Terlalu banyak berbicara dengan orang lain
Mari kita bahas mengapa kesenangan ini ternyata membatasi hidup kita.



Berinternet yang berlebihan untuk bersosial media

Zaman sekarang ini bisa dikatakan zamannya social media. Hampir setiap segi kehidupan memiliki kaitan ke social media. Bahkan hampir setiap orang yang memiliki perangkat telepon memiliki minimal 2 akun social media. Hampir setiap pengguna smartphone memiliki akun facebook, di mana rata-rata pengguna facebook menghabiskan waktu minimal 1 jam saat mengaksesnya. Bayangkan saja jika setiap orang memiliki 3 akun social media yang berbeda seperti facebook, twitter, instagram. Dengan perhitungan secara kasar, maka seseorang akan menghabiskan waktu minimal 3 jam dalam sehari hanya untuk bersosial media. Dan itu masih perhitungan minimalnya!. Saya saja, yang termasuk dalam pengguna facebook biasa, rata-rata menghabiskan waktu 1,5 jam untuk facebook-an. Bagaimana halnya dengan orang yang kecanduan facebook? Mungkin lebih dari 3 jam sehari bisa dihabiskan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Nicholas Christakis dan James Fowler dalam buku Connected, orang-orang yang terbiasa dengan media sosial memiliki kelemahan dalam hal fokus. Rata-rata mereka tidak akan bisa fokus selama 15 menit. Hal ini dikarenakan mereka sudah terbiasa menerima informasi yang terus menerus dalam waktu yang relatif singkat. Anda dapat dengan mudah membuktikan hal ini. Cobalah Anda perhatikan orang yang sedang bermedia sosial. Mereka hampir tidak pernah bisa bertahan lebih dari 15 menit tanpa melihat smartphone atau gadget mereka untuk mengecek media sosial mereka. 

Tanpa fokus yang baik dalam sebuah hal, hampir mustahil untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam hal tersebut. Atau bahkan kegagalan yang malah didapatkan.

Menghabiskan waktu di luar untuk sekadar bersantai/rileks

Untuk bagian ini saya harus sedikit menjelaskan siapa diri saya, karena setiap orang memiliki biasnya tersendiri. Saya orang yang introvert yang berdasarkan pengertian wikipedia adalah "Introversion is the state of or tendency toward being wholly or predominantly concerned with and interested in one's own mental life", yang mendapatkan kesenangan dari kehidupan pribadi sendiri.

Menurut saya, menghabiskan waktu di luar untuk sekadar rileks sering menunjukkan kemampuan kita yang kurang dalam mengontrol emosi diri. Hal ini seperti kita berusaha mencari penyelesaian hidup dengan berusaha mengelak dari persoalan hidup tersebut. Untuk orang-orang yang tidak memiliki keluarga atau teman yang berada dekat dengan tempat tinggalnya, menghabiskan waktu di luar mungkin cocok bagi mereka. Tetapi bagi yang memiliki keluarga dan teman yang berada dekat, hal tersebut sama dengan mengabaikan hal yang penting dan berarti yang ada di depan kita untuk hal yang menyenangkan dan sementara. Keluarga dan teman dekat itu jauh lebih berharga daripada teman untuk rileks. Mereka lebih tulus mengasihi kita walaupun lebih sering kita tidak menyadarinya.



Main Game yang berlebihan

Saya harus jujur dalam hal ini, saya juga adalah pecandu game yang baru saja bertobat. Di saat saya lagi kecanduan berat, dalam satu hari saya bisa menghabiskan hampir keseluruhan waktu saya dalam satu hari untuk bermain game. Di mana sisa waktunya saya gunakan untuk makan. Tentu saja setelah kelelahan main game saya harus tidur jauh lebih banyak dari biasanya. Bahkan satu hari penuh pun terasa seperti tidak tidur.

Ketika bermain game, kebanyakan pemain game seperti berada di dunia lain. Mereka asyik dengan game dan kehidupan gamenya. Orang-orang di 'luar' seperti tidak ada sama sekali. Mereka terputus dari kehidupan normal sehari-hari. 

Game itu menyenangkan kalau dilakukan secara bersahaja. Tetapi ketika game menggantikan kehidupan kita yang sesungguhnya, maka ia menjadi penghambat perkembangan kepribadian kita. Ia akan menghisap semua waktu kita dan kehidupan kita yang sebenarnya pun akan menjadi berantakan.

Menonton Televisi

Ada baiknya sekali-kali menonton televisi agar kita mendapatkan informasi tentang seputar kehidupan. Namun ada batas kewajaran yang harus kita buat bagi diri kita sendiri. Kecenderungan untuk menonton televisi terlalu sering merupakan hal yang sia-sia, karena yang kita dapatkan bukan lagi informasi yang berharga malah informasi yang tidak berharga seperti iklan-iklan yang muncul di televisi tersebut. Setiap hari dari televisi kita dibombardir dengan ribuan iklan, yang sama sekali tidak bermanfaat bagi hidup.

Orang-orang yang sukses malah tidak suka nonton televisi. Bahkan ada sebuah ejekan yang cukup mengena: 
Mengapa kamu tidak pernah melihat iklan komersil Lamborghini di televisi? Karena orang-orang yang bisa membelinya tidak duduk manis di depan televisi.

Kurangi menghabiskan waktumu dengan menonton televisi.

Terlalu banyak berbicara dengan orang lain

Semakin banyak kita berbicara maka akan semakin banyak kemungkinan kata-kata yang sembrono yang keluar dari mulut kita. Berbicara dengan orang lain memang penting karena dengan berbicara kita membentuk jalinan persahabatan. Tetapi berbicara berlebihan seperti waktu ngerumpi malah akan memberikan efek negatif bagi diri kita dan orang lain. Banyak hal-hal yang seharusnya tidak dibicarakan dengan orang lain, karena merupakan masalah pribadi, malah dibeberkan secara terang-terangan. Dan sering malah kita jadi turut membicarakan masalah orang lain yang kita tidak tahu apa sebenarnya masalahnya.

Bicaralah seperlunya dan tahan lidah kita.

Kesimpulan

Kita harus pintar memilah-milah mana yang baik bagi hidup dan mana yang tidak baik bagi hidup kita. Tidak semua hal yang menyenangkan itu penting. Pilihlah hal yang memberikan dampak positif dalam jangka panjang. Batasi hal yang memberikan kesenangan jangka pendek.


sumber gambar: Why haven't you ever seen a Lamborghini commercial before?

Kamis, 28 Januari 2016

Tujuan tanpa ada rancangan dan usaha sama dengan sia-sia

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Kamis, Januari 28, 2016

Walaupun sudah beberapa buku saya baca tentang pengembangan diri, saya masih saja sering terjebak dengan kebiasaan lama. Salah satu kebiasaan lama yang masih sering muncul adalah harapan bahwa sebuah tujuan bakalan segera tercapai tanpa perlu usaha.

Tidak ada tujuan yang bisa tercapai tanpa adanya usaha dari diri kita sendiri. Semakin besar tujuan yang ingin dicapai maka semakin besar pula usaha yang harus dikerjakan. Hal ini seperti saat kita bermain ayunan, semakin besar tolakan kita maka semakin jauh jarak ayunannya. Juga sama seperti halnya prinsip bertanam padi, untuk mendapatkan padi kita harus menyiapkan bibit, kemudian menyemai bibit, menanam bibit ke sawah, menyianginya, kemudian menunggu sampai padi besar dan menghasilkan bulir padi yang sudah masak, lalu kemudian menyabitnya untuk dipanen. Tidak ada istilah 'seketika' dalam proses menanam padi tersebut.

Rasa Malas
Rasa malaslah yang sering mengikat kita dengan mimpi-mimpi yang tidak masuk akal. Mimpi yang paling sering kemungkinan adalah mendapatkan undian berhadiah, namun hampir mustahil mimpi itu tercapai. Kalu kita lakukan perhitungan dengan hukum probabilitas, dimana rata-rata orang yang ikut undian berhadiah sekitar satu juta orang, maka peluang kita sangatlah kecil. Peluangnya 1:1.000.000, yakni 0,000001%, bahkan tidak sampai 1% !. Boleh saja kita boleh bermimpi yang tinggi, tetapi harus selalu dibarengi dengan kerja keras bukan cuma lamunan sesaat.

Tentu sebagian dari kita berpikir kalau Tuhan berkehendak, maka mukjizat pasti terjadi. Namun marilah kita kembali berpikir, marilah kita melihat pada kehidupan sehari-hari. Apakah kita yang sudah menjadi Ayah atau Ibu mau memberikan anaknya sesuatu tanpa mengajarkan pentingnya usaha? Maukah kita membiarkan anak-anak kita bermalas-malasan tanpa mengerjakan apapun? Atau kita hanya memberi apapun yang diminta mereka tanpa mau bergaul akrab dengan anak-anak kita tersebut? Celakalah kalau Anda seperti itu!. Orang tua yang baik akan memikirkan dan mengajarkan anaknya untuk hidup mandiri. Begitu juga sang Pencipta kita!


Tetapkan Rancangan
Hal ini berkali-kali sudah saya katakan kepada diri sendiri dan sudah sering saya tuliskan berulang-ulang di beberapa artikel sebelumnya. Namun karena sifat alamiah kita untuk melupakan sesuatu, maka baiknya kita terus diingatkan akan pentingnya rancangan.

Untuk mendirikan bangunan yang baik diperlukan rancangan yang baik. Demikian juga hidup kita. Untuk menentukan hidup yang baik maka kita perlu membuat rancangan kehidupan yang baik. Tanpa ada rancangan kita sama seperti orang yang berharap mempunyai padi ada tanpa perlu menanamnya. Demikian juga halnya dengan pekerjaan yang saya lakukan sekarang.

Saya saat ini sedang mengerjakan sebuah program hitung dan sebuah program game di Android dengan tim saya. Tidak mungkin kami mengerjakan program tersebut tanpa ada rancangan yang jelas. Tentu saja rekan satu tim saya akan bingung dan tidak tahu akan mengerjakan apa. Kami butuh rancangan yang jelas.


Kalau kita ingin memiliki hidup yang baik maka kita harus menetapkan rancangan yang baik untuk kehidupan kita, bukan orang lain. Orang lain tidak mengetahui siapa diri kita. Hanya ada dua yang mengetahui, yang pertama adalah Sang Pencipta kita, yang kedua adalah diri kita sendiri. Hanya kita yang mengerti apa yang kita mau. Tentu saja kita butuh orang lain, karena apalah tujuan hidup kita jika kita tidak bisa memberikan sumbangsih bagi kehidupan orang lain?

Tetapkan rancangan hidupmu. Tetapkanlah sekarang!

Selasa, 26 Januari 2016

Lakukan segera hal yang ingin kamu lakukan, jangan menunggu waktu yang tepat

by Unknown  |  in hidupku at  Selasa, Januari 26, 2016

Satu pelajaran berharga yang saya dapatkan hari ini:
"Lakukan segera hal yang ingin kamu lakukan, jangan menunggu waktu yang tepat"
Tentu saja berharga, karena ini terkait dengan efisiensi saya dalam bergerak.

Kalau kita selalu menunggu waktu yang tepat, hampir mustahil kita dapat menyelesaikan hal yang ingin kita lakukan. Contohnya yang terjadi pada saya hari ini. tadi pagi saya udah merendam pakaian pakai deterjen supaya dicuci siangnya. Sambilan menunggu air di kost-kostan dinyalakan. Waktu siangnya mau niat mencuci, malah airnya gak dinyalakan. Trus menunggu biar sekalian aja waktu mandi malamnya sekaligus mencuci pakaian. Ternyata airnya udah dimatikan, hadeh. Gak benar juga kalau nunggu air nyala. Bakalan besok pagi mencucinya kalau nunggu air. Daripada menunggu, langsung aja saya cuci tuh pakaian. Besok bakalan gak sempat pikir saya.


Kalau saya ikuti malas, pasti bakalan besok juga dicuci tuh pakaian. Belum tentu juga sih dicuci, karena biasanya kan saya bangun kesiangan. Hahahaha.

Makanya dari itu, mohon ikuti saran saya, cucilah pakaian pada waktunya, jangan tunggu waktu yang tepat.

Membaca pikiran cewek itu susah

by Unknown  |  in Opini at  Selasa, Januari 26, 2016

Membaca pikiran cewek itu susah. Susah banget. Kadang waktu dia marah, kita diam, ehh si cewek malah makin marah. Waktu dia curhat tentang masalahnya, terus kita ngasih solusi, ehh dianya malah emosi karena merasa dicuekin saat lagi enak-enakan curhat. Waktu lagi berantem sama dia, kita coba gak marah dan bersabar, ehh malah dibilang gak perhatian. Kalau udah gitu, pingin rasanya mukul kepala sendiri biar pingsan trus amnesia biar gak tambah stress.

Meskipun saya enggak suka dengan yang namanya banci, tapi ada rasa kekaguman sedikit pada mereka (red: sangat-sangat sedikit). Banci itu bisa mengerti apa maunya cewek. Banci sepertinya punya sebuah talenta tersembunyi yang berguna untuk memahami cewek sepenuhnya. Saya gak tahu kenapa bisa gitu. Entah itu anugerah atau karena banci sudah biasa bergaul dengan cewek dan merasa dirinya bagian dari komunitas cewek, atau karena belajar dari pengalaman. Entahlah, saya gak ngerti sama sekali.



Saya salut dengan talenta yang dimiliki banci tersebut, tapi saya sama sekali tidak suka dengan banci karena kebancian itu salah, dosa. Skip tentang banci...

Satu kesimpulan yang bisa saya hasilkan dari hal tersebut. Saya harus lebih banyak belajar tentang bagaimana cewek, bagaimana cara berpikirnya, dan sebagainya. Mungkin perlu untuk membaca dari buku yang membahas tentang cewek seperti buku Men Are from Mars, Women Are from Venus, atau mencari referensi dari yang lain. Tapi yang paling saya rekomendasikan untuk diri sendiri dan juga pembaca blog ini, carilah teman cewek yang bisa dipercaya. Kalau bisa langsung wawancarai temanmu tersebut, tanya lebih dalam tentang cewek. Karena yang lebih mengetahui tentang cewek, pastilah cewek sendiri dan kaumnya.




sumber gambar: Woman

Minggu, 24 Januari 2016

Dihantui rasa bersalah

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Minggu, Januari 24, 2016

Pernahkah anda dihantui rasa bersalah terus menerus selama bertahun-tahun? Saya pernah dan saat ini masih terus merasakannya. Rasa ini sangatlah tidak nyaman. Seperti ada yang mengganjal dalam hati. Hidup menjadi tidak tenang.

Jika kita melakukan salah kepada orang lain atau telah menyakiti orang lain, maka sebaiknya kita cepat-cepat memperbaiki kesalahan tersebut dan meminta maaf atas kesalahan yang kita buat. Daripada terus-terusan diihantui kesalahan tersebut.

Meminta maaf agak sulit untuk dilakukan, sehingga kita lebih sering memilih untuk tidak melakukannya dan menyimpan kesalahan di dalam hati. Tetapi di kemudian hari, rasa bersalah itu muncul dan terus mengingatkan kita akan hal yang kita perbuat tersebut.


Sebaiknya, setelah melakukan kesalahan kita langsung saja minta maaf. Lupakan gengsi dan  harga diri. Lupakan kedudukan dan jabatan kita. Minta maaflah segera karena dihantui rasa bersalah jauh lebih menyusahkan hidup.


Lakukan segera apa yang bisa kita lakukan hari ini.




sumber gambar: Get rid of guilt

Selasa, 19 Januari 2016

Niat yang gagal

by Unknown  |  in hidupku at  Selasa, Januari 19, 2016
Padahal niat untuk buat artikel tentang cara recovery teks di Linux, ehh ternyata bahannya saya lupa dimana kemarin letakkannya. Teramat sangat penting sebenarnya tuh artikel kalau udah jadi, karena pasti sangat membantu. Saya aja sangat terbantu untuk mengembalikan teks kode program yang lagi saya kembangkan. Tanpa recovery tersebut, programnya bakalan gak jalan dan harus banyak yang saya ketik ulang lagi.

Tapi beribu sayang sih, akibat menunda-nunda jadinya artikelnya hanya berwujud uap, uap pikiran. Sayang kali bah.

Makanya, sebaiknya kalau udah niat langsung dikerjakan aja. Ntar kalau ditunda-tunda malah gak jadi. Keburu niatnya hilang. Yang ada malah malas yang makin berkepanjangan.

Senin, 18 Januari 2016

Hidup itu sederhana

by Unknown  |  in Opini at  Senin, Januari 18, 2016
Hidup itu sederhana. Kita aja yang sering membuatnya rumit. Coba pikirkan saja, hidup yang kita jalani seharusnya tidak terlalu sulit, cuma makan, minum, cari pekerjaan untuk memenuhi keperluan sandang dan pangan, beragama, dan melakukan yang terbaik di dalam prosesnya. Cukup sederhana kan?

Trus bagaimana dengan masalah dan kesulitan, masa depan, dan uang?. Menurut saya (ini menurut saya yah, opini gitu), hal-hal tersebut cuma tambahan aja, gak lebih. Mengapa mesti takut sama itu, toh semuanya pasti bisa dilalui, toh palingan efek yang paling besar cuma mati kan?, dan efek terbesar tersebut paling jarang terjadi, kecuali di daerah yang terkena wabah kelaparan. Kalau kita punya iman yang kuat, kematian itu bukan hal yang menakutkan. Bahkan kematian menjadi sebuah kegembiraan yang meluap-luap, karena orang yang punya iman percaya bahwa ia memiliki janji keselamatan melalui hidup setelah kematian.

Pendapat saya tersebut mungkin kelihatan seperti optimisme yang berlebihan. Mungkin saja. Namun, mari kita kembali berpikir. Apakah tanpa optimisme ada pengaruh berarti bagi kehidupan kita? Apa dengan kuatir dapat mengubah kehidupan kita? Tentu saja tidak. Orang-orang yang sukses hampir tidak memiliki kekuatiran dalam hatinya,  itu sebabnya mereka sukses.

Perlu saya tekankan, optimisme yang saya maksud bukan optimisme yang tanpa arah tetapi optimisme yang jelas dan terarah. Orang-orang yang optimis mempunyai tujuan dan arah yang jelas di hidupnya. Mereka punya blueprint yang jelas akan masa depannya.

Jangan kuatir akan masa depanmu, sebab kekuatiran tidak menambah sehasta pun untuk umurmu.

Jumat, 15 Januari 2016

40 Hal yang menyebabkan kita gagal

by Unknown  |  in Pengembangan Diri at  Jumat, Januari 15, 2016

Berdasarkan pengalaman gagal saya yang cukup banyak dan lama dan keinginan untuk menolong orang lain, saya merasa cukup layak untuk membagikan hal yang menyebabkan kegagalan bagi Anda agar tidak turut merasakan sakitnya kegagalan.

Kegagalan memang sesuatu yang harus dirasakan setiap orang yang ingin berhasil, karena kegagalanlah yang membuat kita terus berusaha. Namun bukan berarti kita harus mengulang-ulang kegagalan berkali-kali. Ada kegagalan yang diperlukan, ada juga kegagagalan yang sia-sia. Saya di sini membagikan pengalaman saya agar Anda tidak perlu melewati kegagalan yang sia-sia.

Berikut adalah daftar dari 40 hal yang dapat menyebabkan kita gagal mencapai tujuan, visi, dan cita-cita:

  1. Tidak disiplin
  2. Lambat
  3. Suka menunda-nunda
  4. Tidak punya cetak-biru (blueprint) yang jelas akan hal yang ingin dicapai
  5. Tidak spesifik dalam menentukan tujuan yang ingin dicapai
  6. Tidak bekerja keras
  7. Tidak semangat
  8. Kehilangan fokus
  9. Melakukan hal yang tidak penting (seperti main game berlebihan) sehingga menghabiskan waktu yang berharga
  10. Tidak memiliki kalender kerja yang baik dan ketat
  11. Tidak terorganisir
  12. Gampang dipengaruhi emosi
  13. Tidak konsisten
  14. Tidak punya waktu kapan tujuan harus tercapai
  15. Cepat putus asa
  16. Tidak memiliki teman berbagi
  17. Tidak memiliki Master Mind (orang-orang yang memiliki tujuan yang sama) dalam mencapai tujuan
  18. Gampang dipengaruhi keadaan
  19. Tidak menentukan 'milestone' untuk hal yang perlu dicapai/diselesaikan dalam waktu yang singkat (Seperti dalam tempo harian, mingguan, atau bulanan)
  20. Tidak percaya diri/rendah diri
  21. Tidak memiliki pola pikir yang benar
  22. Tidak belajar dari kesalahan yang sebelumnya
  23. Tidak memiliki catata sejarah yang lengkap mengenai kegagalan dan keberhasilan yang dicapai di masa lalu
  24. Tidak belajar dari orang-orang yang sudah berhasil di bidang yang sama yang saat ini dikejar untuk dicapai
  25. Memiliki pasangan yang tidak mendukung tujuan
  26. Tidak menjaga kesehatan dengan berolahraga yang baik
  27. Kaku atau tidak fleksibel dalam menggunakan cara yang dipakai untuk m encapi tujuan
  28. Tidak memiliki iman yang kuat
  29. Ragu-ragu
  30. Terlalu muluk-muluk menentukan tujuan tanpa terlebih dahulu menilai apakah tujuan tersebut mungkin dicapai atau tidak
  31. Tidak melakukan perhitungan kemampuan diri (Self Assessment)
  32. Tidak mengejar tujuan yang sesuai dengan diri atau hobby
  33. Salah menilai tujuan yang sesungguhnya dengan menganggap uang adalah tujuan utama
  34. Tidak menerima nasihat orang yang lebih berpengalaman
  35. Terlalu memasukkan dalam hati kata-kata orang yang tidak membangun
  36. Tidak mencari tahu ilmu yang berkaitan dengan tujuan yang ingin dicapai
  37. Tidak bertanggung jawab
  38. Tidak ada motivasi
  39. Berpikiran sempit atau tidak berpikir global
  40. Tidak memanfaatkan dan membangun jaringan sosial


Semoga pengalaman saya membantu. 

Kamis, 14 Januari 2016

Banyak masalah? Berhentilah memikirkannya

by Unknown  |  in Opini at  Kamis, Januari 14, 2016

Terlalu banyak berpikir itu melelahkan, apalagi kalau lagi banyak masalah. Tubuh menjadi sangat lelah dan emosi pun menjadi tidak terkontrol. Lalu muncullah penyakit psikosomatik, yakni penyakit yang disebabkan oleh pikiran.

Contoh paling dari penyakit psikosomatik ini sering terjadi pada orang yang lagi berpacaran. Tepatnya, pada orang yang diputuskan pacarnya. Kemungkinan anda juga pernah merasakannya kan? setelah diputuskan biasanya (menurut pengalaman dan pengetahuan saya) "korban" mendapat sakit yang mendadak seperti demam, tidak nafsu makan, kurang bersemangat, berat badan turun, dan gagal fokus. Saya sering merasakannya karena saya sering menjadi "korban" dari pemutusan hubungan ke-pacaran, alias di-PHK.

Cara mengatasinya? sangat mudah. Cukup berhenti memikirkannya. Walaupun kemudahannya hanya berdasarkan teori saja, hahaha. Saya sudah terlalu berpengalaman dengan hal PHK ini, dan sepertinya karena telah terbiasa di-PHK maka saya pun sudah merasa hal ini lumrah dan bisa menerima dengan legowo. Sesuailah dengan pepatah "Ala bisa karena biasa"... :D

Banyaknya masalah pun sering membuat pikiran semakin mumet. Seperti tidak ada jalan keluar yang bisa menyelamatkan. Masalah kelihatan lebih besar dari hidup kita, padahal masalahnya sering cuma sekitaran uang. Silahkan pilih apa yang lebih penting, hidupmu atau masalahmu? Tentu saja hidup bukan? Trus kenapa masih terlalu memikirkan masalahmu?. Jangan pernah biarkan masalah menjadi lebih besar dari diri kita.

Adakah orang yang karena besarnya pikiran akan masalahnya bisa menambah sehari saja umurnya? Malah menurut ilmu kedokteran, terlalu banyak memikirkan masalah justru mengganggu kesehatan dan memperpendek kehidupan.

Siapakah di antara kita yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?. Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan oleh kekuatiran kita.

Life still goes on whether you realize it or not.



1. Miliki Kepercayaan Pada Diri Anda
2. Kesadaran Bahwa Saya Memiliki Potensi Berhasil
3. mengapa saya terus-terusan gagal
4. Cintailah Dirimu Sendiri
5. Mengakui kelemahan diri
6. Saya orang gagal, saya tidak bisa melakukan apa-apa
7. Bayi tidak pernah merasa gagal




sumber gambar: Anxiety in Teens

Senin, 11 Januari 2016

Mengubah Banyak Hal Sekaligus = Gagal

by Unknown  |  in Opini at  Senin, Januari 11, 2016
Saya baru sadari ternyata yang membuat perubahan pada karakter yang kita lakukan tidak terjadi adalah karena kita terlalu banyak merencanakan perubahan dalam satu waktu. Saya ambil contoh dari diri saya sendiri biar lebih fair; saya merencanakan untuk mendisiplinkan diri, berubah menjadi orang yang sabar, mengubah kebiasaan terlalu banyak bicara, mengubah kebiasaan tidak fokus, mengubah pola tidur yang sesuai dengan kerja yang saat ini saya lakukan, dan sebagainya. Apakah anda melihat apakah kelemahan dari rencana perubahan saya? Ya!, tepat sekali, saya TERLALU BANYAK ingin menyelesaikan satu masalah sekaligus. Mengapa begitu? karena kita umumnya tidak bisa melakukan banyak hal sekaligus dalam satu waktu. Terlalu banyak masalah yang ingin diselesaikan sekaligus malah akan menambah masalah lain. Semakin banyak dan semakin banyak masalah akan terkumpul.

Saya mendapatkan bahwa kita tidak akan bisa mengubah banyak hal sekaligus. Tetapi satu demi satu. Sama dengan laser yang terfokus, demikianlah kita akan mengubah satu hal jika kita fokus pada hal tersebut.

Selesaikan satu hal dulu baru lanjut ke hal yang lainnya.

Kamis, 07 Januari 2016

Koma atau titik, Hal yang sepelekah?

by Unknown  |  in pemrograman at  Kamis, Januari 07, 2016

Sebagai programmer saya beberapa kali berhadapan dengan error yang disebabkan karena salah memasukkan tanda baca, seharusnya titik (.) malah terketik koma (,). Sepele kelihatannya tapi terlalu besar efeknya. Kesalahan tersebut pernah menyebabkan saya kehilangan waktu selama 2 hari untuk mencari penyebab mengapa kode yang saya buat tidak bekerja.

Sama halnya dengan kehidupan sehari-hari, kita sering mengabaikan hal-hal yang sepele dalam hidup. Padahal hal-hal yang sepelelah yang sering menjadi biang kerok akan sulitnya hidup. Kita merasa sepele dengan tindakan-tindakan kecil yang kita lakukan sehari-hari. Tindakan kecil ini kita abaikan. Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan berlalu tindakan kecil tersebut kemudian menjadi bagian hidup kita dan menjadi kebiasaan kita. Seperti sebuah perkataan bijak yang pernah saya baca, "Tindakan membentuk kebiasaan, kebiasaan membentuk sifat, sifat membentuk karakter, karakter membentuk hidup kita". Kita harus lebih perhatian terhadap hal-hal yang kecil dan yang kelihatan seperti sepele.

Selesaikan hal sepele dengan baik. Jangan pernah merasa bahwa hal-hal kecil tidak berguna. Tetapi berprinsiplah bahwa segala hal itu penting bagi perkembangan hidup kita.





Sumber gambar: How to stop being scared of full stops

Kamis, 31 Desember 2015

Stand Up Comedy Tidak Lucu

by Unknown  |  in Opini at  Kamis, Desember 31, 2015
Saya sering heran mengapa banyak penonton bisa tertawa dalam acara Stand Up Comedy yang ditayangkan di sebuah stasiun swasta Indonesia. Karena bagi saya lawakannya sama sekali tidak lucu. Sejujurnya ada beberapa orang yang bisa melucu di situ, tapi tidak sampai setengahnya. Rata-rata garing lawakannya dan tidak menarik.

Atau mungkin lawakan mereka memang lucu bagi orang lain, atau mungkinkah saya memiliki level kelucuan yang terlalu tinggi, sehingga otak saya 'tidak mampu' menerima lawakan yang terlalu biasa?.

Jangan-jangan memang saya saja yang tidak merasa lawakan itu lucu, tetapi bagi orang lain lawakannya sangat lucu.

Entahlah.

Sabtu, 31 Oktober 2015

Perpisahan yang memilukan

by Unknown  |  in My Life at  Sabtu, Oktober 31, 2015
Setelah 3 tahun bersama, akhirnya tiba juga saatnya untuk berpisah.
Suka dan duka telah kita jalani bersama
Pagi, siang, dan malam telah kita lalui bersama

Berat hati menerima kenyataan yang sangat pahit ini
Tidak rela untuk melepas kepergiaanmu

Kesetiaanmu sungguh teruji
Kesabaranmu sungguh kukagumi
Namun waktu sepertinya tidak mau menunggu

Ada awal ada akhir
Ada pertemuan ada perpisahan
Selamat berpisah

Selamat tinggal keyboard wirelessku,
Selamat jalan GW101.

Jumat, 30 Oktober 2015

by Unknown  |  in My Life at  Jumat, Oktober 30, 2015
Blog ini kemungkinan besar bakalan sunyi dengan artikel-artikel terbaru dari ane. Soalnya saat ini lagi mencoba fokus membuat aplikasi game di android. Target waktu tersisa untuk ane tinggal 4 bulan lagi, jadi harus kerja keras, fokus, dan mengesampingkan hal-hal lain yang kurang penting.

Terpaksa untuk blog ini juga harus dikurangi waktu ane...:(