Diberdayakan oleh Blogger.

Sabtu, 25 April 2015

Mengapa Bunuh Diri ?

by Joielechong sipayung  |  in Personal Building at  Sabtu, April 25, 2015

Saya mulai mengerti sekarang mengapa kebanyakan orang yang nekat ingin mengakhiri hidupnya karena tekanan hidup. Setelah mengalami beratnya tekanan hidup, aku mengalami sendiri bagaimana keinginan untuk bunuh diri itu muncul.

Bunuh diri memang bukan merupakan jalan yang benar, kalau tidak bisa dikatakan jalan yang benar-benar salah, untuk keluar dan lepas dari masalah hidup. Tetapi bunuh diri merupakan cara instan yang paling populer untuk lepas dari keadaan yang mendesak. Berdasarkan statistik angka bunuh diri di www.suicide.org, lebih dari 1 juta orang meninggal akibat bunuh diri dan tiap 40 detik ada 1 orang yang meninggal akibat bunuh diri di suatu tempat di dunia ini. Jadi bunuh diri memang sangat-sangat populer.

Dari penilaian orang normal, bunuh diri merupakan solusi yang aneh untuk mengatasi masalah. Tidak masuk akal untuk melakukan bunuh diri. Tetapi jika orang normal tersebut pernah menjadi orang yang tidak normal (mungkin sedikit kasar jika mengatakan abnormal); pernah merasakan bagaimana sulitnya saat putus asa, depresi, cemas, kehilangan arah hidup, atau kehilangan pegangan hidup, atau bahkan kesulitan ekonomi, mungkin orang normal tersebut akan mengerti mengapa bunuh diri menjadi satu-satunya jalan yang paling mudah.

Keinginan dasar manusia adalah keinginan bertahan hidup. Namun saat penunjang keinginan ini hilang, maka hilanglah alasan manusia untuk bertahap hidup. Manusia ingin bertahan hidup bukan hanya untuk memenuhi keinginan untuk bertahan hidup itu sendiri. Ia ingin bertahan hidup untuk menunjukkan betapa berharganya dirinya baik untuk dirinya sendiri dan untuk orang lain di sekitarnya, terutama keluarga dan pasangan hidupnya. Saat ia kehilangan harga diri, saat ia merasa tidak memiliki lagi harga diri, tak memiliki lagi makna dirinya bagi dirinya dan orang lain, maka ia akan menganggap dirinya tidak berguna. Dan kita tahu sama-sama sesuatu yang tidak berguna pasti dibuang. Maka dia akan membuang hidupnya yang dia pikir tidak berguna.

Orang-orang cenderung untuk bunuh diri saat ia kehilangan pegangan hidupnya; kehilangan kepedulian dari keluarga, disisihkan masyarakat, dan kehilangan kasih sayang dari orang lain. Tanpa ada pegangan hidup, tubuh menjadi tidak berarti lagi. Apakah gunanya hidup jika tidak ada manfaatnya?. Bukankah lebih baik diakhiri saja?. Inilah yang biasanya dipikirkan tiap orang yang ingin mencabut nyawanya sendiri.

Tiap masalah yang dipikirkan oleh pribadi yang ingin bunuh diri merupakan sebuah fakta. Keadaan ekonomi, harga diri, status sosial di masyarakat kesemuanya merupakan fakta hidup. Masalah hidup itu nyata adanya. Setiap orang memiliki masalah-masalah pribadi. Tiap orang pasti mengalami masalah.

Masalah yang dihadapi orang yang ingin bunuh diri biasanya telah lama menggerogoti pikirannya. Masalah itu menjadi semakin besar setiap saat bukan saja karena masalahnya besar tetapi juga dikarenakan fokus pada kegagalan terus-menerus yang dialami orang tersebut. Untuk itu, perlu mengubah perspektif terhadap masalah yang dihadapi. Ubah fokus dari masalah ke manfaat dari masalah tersebut. Fokus pada masalah hanya akan memperbesar masalah bukan memperbaiki atau pun menyelesaikannya.

Bagaimana mengatasi keinginan untuk bunuh diri? Ingat bahwa sebenarnya hidup kita ini berharga. Meskipun orang lain menganggap kita sampah masyarakat tetapi kita adalah berharga. Kita benar-benar berharga. Walaupun keluarga kita menganggap kita sudah mati, walaupun orang terdekat, teman, dan pasangan hidup menganggap kita tidak berharga, kita tetaplah berharga. Kamu jauh lebih berharga dari yang kamu kira, jauh lebih berharga dari yang orang lain nilai. Dan satu yang pasti, kamu berharga di mata Penciptamu. Jika orang lain menganggap engkau sampah, Tuhan menilai kamu berharga di matanya.

Berhenti berpikir untuk mengakhiri hidupmu. Hiduplah untuk Penciptamu.





0 comments:

Silahkan tinggalkan komentar anda: