Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 13 Maret 2014

Bukan semata-mata motivasi karena uang

by Joielechong sipayung  |  in Wise Agenda at  Kamis, Maret 13, 2014

Tidak seperti kebanyakan orang dewasa pikirkan, hal yang memotivasi manusia bertindak bukanlah semata-mata uang. Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa uang menjadi kebutuhan yang penting untuk bertahan hidup.

Orang dewasa bekerja mendapatkan uang demi kebutuhan hidup. Atau tepatnya, bekerja demi bertahan hidup. Tetapi uang bukanlah tujuan utama dari pekerjaannya. Ada hal lain yang menggerakan orang untuk bekerja yakni untuk mencapai apa yang diinginkan hatinya atau yang dicita-citakannya. Dan itu bukan uang.

Uang menjadi alat penolong  untuk bergerak, bertindak, dan melakukan apa yang diinginkan. Sama seperti halnya pulpen, sebagai alat bantu, berguna untuk memampukan manusia mencurahkan isi pikirannya ke atas kertas. Demikian juga halnya uang hanyalah sekadar alat bantu.

Pemikiran umum bahwa uang adalah segalanya sering membutakan dan menyimpangkan hal yang sebenarnya diinginkan manusia. Tema umum yang sering dikumandangkan orang banyak; "waktu adalah uang" dan "uang yang mengatur negara", menyamarkan tujuan utama yang seharusnya dikejar oleh manusia. Hal ini mengkondisikan pemikiran kita bahwa yang terpenting di dalam hidup adalah uang.

Tujuan yang samar ini tidak bisa memenuhi hasrat hidup manusia. Bahkan ketika kesuksesan diraih, ketika memiliki banyak uang, banyak harta, serta banyak simpanan (bukan suami simpanan atau istri simpanan) perasaan senang tidak kunjung muncul. Perasaan bahagia dan terpenuhi tidak bisa dirasakan sama sekali meskipun telah sampai kepada kebebasan finansial.

Ada anekdot yang saya ingat berkenaan dengan perasaan tidak bahagia dan tidak terpenuhi saat mencapai kebebasan finansial, di saat memiliki kelimpahan uang:

Uang bisa membeli mobil, tapi tidak bisa membeli kenyamanan menggunakan mobil,
Uang bisa memikat pasangan yang sempurna, tetapi tidak bisa membeli cintanya,
Uang bisa membeli rumah yang besar dan megah, tetapi tidak bisa membeli keharmonisan, kenyamanan, dan kebahagiaan berumah tangga.

Motivasi akan uang tidak akan membawa kita kepada kebahagiaan. Motivasi akan uang malah akan menjauhkan kita dari kebahagiaan yang sebenarnya kita butuhkan.

Sayangnya, banyak perusahaan yang mempekerjakan manusia dewasa memiliki pola pikir bahwa karyawan bekerja karena uang. Sehingga sering sekali perusahaan mengiming-imingi kenaikan gaji bagi karyawan yang memiliki performa yang bagus di dalam perusahaan. Jika manusia pekerja yang bekerja di perusahan tersebut ternyata memiliki pola pikir motivasi uang yang sama dengan perusahaan, maka pekerja semakin terperosok ke dalam pemikiran yang kabur ini. Pekerja yang lain juga secara tidak langsung akan menanamkan pola pikir yang sama karena terpengaruh oleh teman sekerja dan budaya kerja perusahaan tempatnya bekerja. Berdasarkan penelitian saksama para ahli (Deci dan Ryan sebagai pionirnya), pola imbalan yang dianut perusahaan ini memiliki efek menurunkan kinerja pekerja di dalam perusahaan bukan menaikkan kinerjanya. Efek jangka panjang dari pola imbalan yang dianut akan menurunkan keseluruhan kinerja pekerja, dan yang lebih mengkhawatirkan, pekerja akan bekerja berdasarkan imbalan bukannya dengan keinginan yang tulus untuk bekerja. Tentu saja hal ini akan merugikan perusahaan.

Motivasi Yang Sebenarnya

Berdasarkan kajian penelitian tentang Teori Determinasi Diri oleh Deci dan Ryan, ada tiga aspek yang  menggerakan motivasi sebenarnya (motivasi intrinsik) pada manusia untuk melakukan sesuatu:
  • Kompetensi; mencari pengaturan akan hasil akhir dan pengalaman dalam menguasai sesuatu.
  • Keterkaitan; keinginan universal untuk berinteraksi, terhubung, dan mengalami hal tentang kepedulian terhadap orang lain
  • Otonomi; keinginan universal untuk menjadi agen penentu kehidupannya sendiri dan bertindak secara harmonis terhadap pribadi sendiri
Kompetensi
Setiap orang menginginkan dirinya mampu untuk menguasai sesuatu. Dengan menguasai sesuatu, motivasi intrinsiknya akan meningkat.

Keterkaitan
Saat manusia memiliki interaksi dan hubungan yang baik dengan sesama, motivasinya akan meningkat. Pada anak-anak yang merasa bahwa guru mereka tidak peduli atau cuek akan menurunkan motivasi intrinsiknya karena kebutuhan akan keterkaitan tidak terpenuhi.

Otonomi
Faktor eksternal yang memaksa orang untuk bekerja sesuai deadline, dimana dikontrol dan dibatasi oleh pekerjaan, ternyata akan mengurangi motivasi intrinsik. Atau faktor eksternal seperti upah karena bekerja sesuai aturan juga ternyata akan menurunkan otonomi yang kemudian akan menurunkan motivasi dan pada akhirnya akan menurunkan kinerjanya dalam bekerja.

Motivasi yang sebenarnya adalah berasal dari dalam, dimana ketiga faktor yakni kompetensi, keterkaitan, dan otonomi telah terpenuhi. Oleh karena itu, motivasi akan uang sebenarnya tidak pernah ada. Uang malah mengaburkan motivasi yang sebenarnya.

Bagaimana memunculkan motivasi yang sebenarnya
Pemenuhan akan ketiga aspek penggerak motivasi akan memunculkan motivasi yang sebenarnya. Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara:
  1. Berikan atau ajarkan kemampuan yang bisa membentuk seseorang. Dimana kemampuan ini ditujukan semata-mata untuk pengembangan orang tersebut.
  2. Bangun interaksi dan kepedulian sosial terhadap orang tersebut. Jika dalam perusahaan, bangun lingkungan kerja yang bersahabat yang memiliki hubungan yang erat dalam setiap aspek kerja perusahaan.
  3. Berikan kebebasan seseorang dalam memilih sesuatu meskipun pilihannya hanya dua. Dengan memberikan pilihan, akan menciptakan kesan bahwa orang tersebut memiliki otonomi terhadap pilihannya.
  4. Jangan memberi hadiah berupa uang jika ingin menghargai hasil kerja orang lain. Berikan penghargaan seperti sanjungan atau pujian atas kerja orang lain. Kalaupun memang harus memberikan uang, jangan pernah memberikannya secara teratur. Berikan secara mendadak dan tidak terduga, sehingga motivasi intrinsiknya tidak menurun.


Salam pemikir.

0 comments:

Silahkan tinggalkan komentar anda: