Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 07 April 2014

Kesadaran bahwa saya memiliki potensi berhasil

by Joielechong sipayung  |  in Opini at  Senin, April 07, 2014

Believe *
Banyak hal yang tidak saya sadari selama ini. Terlalu banyak. Sering saya berharap untuk menjadi orang lain, "seandainya saya punya banyak uang seperti mereka, punya wajah seperti mereka, punya pemikiran seperti mereka, bisa bertindak seperti mereka", namun jika saya mendapatkan semua pengandaian itu tetap saja saya tidak akan bisa menjadi seperti mereka. Sekalipun semuanya tersebut saya miliki, tetap saya tidak akan melakukan apa-apa. Mengapa? Karena saya tidak mampu menerima diri saya sendiri dan tidak menyadari bahwa semua hal tersebut sudah saya miliki. Banyak hal yang saya sadari melalui pencerahan ini.

Hal pertama. Untuk menjadi seorang yang sukses, saya harus belajar menerima diri. Saya harus menyadari bahwa saya diciptakan oleh Sang Pencipta sebagai manusia yang unik, yang lengkap, yang diciptakan untuk menjadi sukses dan telah diperlengkapi oleh bibit keberhasilan. Nah, hal ini belum pernah saya sadari sebelumnya makanya saya masih tetap saja belum menunjukkan langkah berarti menuju kesuksesan. Lama sekali waktu yang saya perlukan untuk menyadari hal ini, butuh waktu berpuluh-puluh tahun. Saya tidak mau menyalahkan keadaan atau lingkungan atau orang tua saya atas kekurangan ini. Tidaklah pantas untuk saya lakukan. Saya sepenuhnya menerima hal ini sebagai keberuntungan. Keberuntungan yang orang lain mungkin tidak akan pernah dapatkan.

Hal kedua. Ada ungkapan yang berbunyi "Satu gambar bernilai seribu kata" yang di dalam bahasa inggrisnya berbunyi "A picture is worth a thousand word" yang banyak sekali orang menerimanya. Saya pun pada awalnya menerima ungkapan ini sebagai kebenaran. namun ternyata ungkapan ini tidak sama sekali benar. Sebuah gambar memang dapat diartikan ke dalam banyak kata, tetapi nilainya jauh lebih sedikit dari nilai yang dapat dikandung dari seribu kata. Contohnya, sebuah gambar tentang seorang tua yang menasihati seorang muda pada Gambar 1.1 di bawah ini:
Flicker via kamshot
Gambar 1.1 menunjukkan seorang tua yang memberikan nasihat pada seorang muda, terlihat dari gaya yang ditunjukkan oleh orang tua tersebut saat sedang berbicara. Namun, apakah gambar tersebut bisa menunjukkan kata-kata yang sedang disampaikan oleh orang tua itu? tentu saja tidak kan?. Apakah saya mendapatkan sesuatu nasihat dari gambar tersebut? pastinya tidak. Tetapi dengan seribu kata dapat dijelaskan apa yang sedang dilakukan orang tua tersebut, apa yang sedang dikatakannya, apa-apa saja nasihat yang diberikannya. Seribu kata jauh lebih berharga dari satu gambar.

kata-kata bisa memberikan kita kekuatan untuk bertindak. Untaian kata bisa membangkitkan semangat hidup orang yang jiwanya melemah. Kata-kata bisa membimbing orang menuju kepada kehidupan yang sebenarnya. Kata-kata bisa membangkitkan keyakinan seseorang. "Iman timbul dari pedengaraan".

Hal ketiga. Saya tidak bisa memberikan sesuatu yang tidak saya miliki kepada orang lain. Tidaklah mungkin untuk memberikan kasih sayang pada orang lain jika saya sama sekali belum pernah merasakan kasih sayang. Saya tidak mungkin dapat memberi orang lain uang jika seandainya saya sendiri tidak punya uang kan?. Sama halnya jika saya ingin memotivasi orang lain untuk melepaskan kecanduannya dari obat-obatan sedangkan saya sama sekali tidak pernah mengecap obat-obatan dan tidak pernah mengalami kecanduan. Saya tidak mungkin dapat memotivasi mereka karena saya tidak pernah memiliki, mengalami apa yang pecandu alami.

Saya tidak bisa memotivasi orang untuk melewati masa krisis dalam hidup jika saya sebelumnya tidak pernah merasakan masa krisis. Jika saya tetap berusaha memotivasi orang meskipun saya sama sekali belum pernah merasakan apa yang orang tersebut rasakan maka saya bukanlah orang jujur, bukan? berarti saya pembohong, bukan?. Kecuali jika saya mengakui bahwa saya belum pernah mengalaminya dan bahwa saya belajar dari buku atau pengalaman orang lain.

Dasar inilah yang membuat saya tidak menyukai Bapak Sis Maryono Teguh, yang dikenal orang sebagai Mario Teguh. Siapa pun boleh mengatakan saya sebagai haters Mario Teguh jika memang ketidaksukaan saya dianggap tidak pantas. Saya terima. Saya serahkan pada pembaca dalam menilai saya melalui apa yang saya sampaikan.

Mengapa saya tidak menyukai beliau? Karena bagi saya, motivasi yang diajarkan Beliau kepada orang-orang yang gagal bukanlah berasal dari pengalaman pribadinya sebagai orang yang pernah gagal. Saya pikir Beliau tidak pernah mengecap pahit dan manisnya kegagalan. Saya belum pernah mendapatkan data yang valid tentang masa-masa kehidupan yang suram yang pernah Beliau lewati. Beberapa sumber hanya sekadar dongeng atau hanya sekadar komentar di blog. Tidak ada satu artikel pun yang menjelaskan pernahnya beliau melewati masa-masa suram. Karena tidak ada penjelasan yang pasti, maka saya terpaksa mengambil referensi dari Wikipedia. Silahkan pembaca menentukan apakah Beliau memang pernah merasakan susah senangnya masa suram dari artikel di wikipedia ini (silahkan baca di bagian pendidikannya). Bagi saya, Beliau hanya motivator yang berasal dari keluarga mapan yang punya pengalaman buku.
Saya menilai bahwa motivator yang benar haruslah pernah merasakan apa yang dirasakan orang-orang yang dimotivasinya. Orang-orang butuh motivator yang pernah jatuh ke dalam masalah yang sama yang pernah mereka alami. Motivator yang bicara dari pengalamannya seperti Tony Robbins. Bukan sekadar bicara tentang pengetahuan yang tidak pernah dialaminya.

Sekali-kali kita tidak bisa memberikan apa yang kita tidak miliki kepada orang lain. Tidak mungkin memberikan motivasi untuk keluar dari masalah padahal kita sendiri tidak pernah mengalami masalah tersebut.

Ada berbagai hal lain yang penting yang saya dapatkan, mungkin suatu saat saya bisa menuangkannya. Sayangnya saat ini saya lupa.



* gambar berasal dari http://www.productiveflourishing.com/what-i-believe/

0 comments:

Silahkan tinggalkan komentar anda: