Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 16 Juni 2014

Dialog antara saya dan supir angkot

by Joielechong sipayung  |  in hidupku at  Senin, Juni 16, 2014

Ini merupakan dialog singkat yang benar-benar terjadi antara saya dan pak supir angkot No. 64 di medan. Kejadiannya tepatnya pada tanggal 13 Juni 2014, hari Jumat siang, pukul 11:00 WIB. Ada beberapa hal yang saya dapatkan dari dialog ini yang saya rangkuman pada bagian akhir dialog. Silahkan membaca... :)

Pak Supir: (Tiba-tiba nyeletuk)... Mepet aja mobil itu disamping mobil Damri (Bus trayek medan-binjai), gak mau dipotongnya. Kawan itu sudah kesal (Supir angkot Morena di depannya) gak bisa lewat padahal saingannya di depan.

Saya: (Diam sambil tersenyum)...

Supir: (Sambil mengertakkan gigi yang terlihat dari otot rahangnya yang menggembung) Sama aja semua mobil pribadi nih (Melihat mobil pribadi yang ada di depan, yang berada di tengah badan jalan, yang tidak mau memotong orang di depannya).

Saya: Takut tergores mungkin bang...

Supir: Bukan takut tu bang, gak ditahunya supir angkot lagi nyari sewa, ntar kena senggol baru tahu...

Saya: (Tersenyum...)

Supir: (Wajah kesal sambil memotong mobil yang didepannya...)

Selang beberapa saat, saya coba bertanya ke abang supir tentang siapa capres yang bakal ia pilih.

Saya: Abang milih siapa, Bang?

Supir: Ahh, golput aku bang. KTP aja gak punya. Udah diurus-urus gak jadi-jadi, banyak kali persyaratannya. Malas aku bang, gak jelas pemerintahan ini. Banyak kali janji-janji.
Dulu kata pak Gatot (Gubernur Sumatera Utara), dia berpihak pada rakyat kecil, tapi setelah terpilih gak ada yang dilakukannya. Gara-gara suaminya bu Megawati, jadi ada karyawan kontrak.
Kita lihat aja kalau pak Jokowi naik. Pejabat memang dukung karena ada yang didapat kalau dia terpilih, tapi sama kita rakyat kecil apa?

Saya: (Diam) hmm...

Supir: Dari rakyatnya semua biaya itu Bang, buat KTP pun pakai uang rakyat..

Saya: Iya bang, masak diminta uang lagi untuk ngurus KTP kan?....

Supir: Wajar itu bang, untuk uang capeknya. Sama kayak aku nyuruh anak beli rokok ke kedai, dikasihnya uang capeknya. Tapi kalau dipatok 200 ribu buat SIM, 50 ribu buat KTP, udah gak betul lagi gitu bang. Semuanya kita bayar ke pemerintah, bang.

Saya: Semuanya kena pajak, makan aja pun kita kena pajak, bang...

Supir: Iya bang, jalan ini aja pun dari pajak kitanya, bang. Mobil ini juga bayar asuransi. Tiap hari bayar 21 ribu. Supir yang bayar asuransi orang abang kalau naik mobil ini (Asuransi untuk penumpang). Mau urus surat-surat mobil aja perulu biaya berjuta-juta ke kantor polisi, bang. Belum lagi pungli-pungli....

Saya: (Terdiam sebentar). Iya yah bang...
(Sejenak kemudian terpaksa saya dengan berat hati mengakhiri percakapan kami ini, saya merogoh saku dan mengambil uang untuk ongkos). 4 ribu kan, bang?

Supir: Iya bang.

Saya: Terima kasih yah bang.


Pesan moral yang bisa didapat dari dialog yang singkat ini adalah:
1. Jadilah pejabat yang peduli rakyat.
2. Jangan pernah mengumbar janji tanpa pernah memenuhinya.
3. Belajarlah untuk menjadi rakyat kecil.

Pengalaman yang saya dapat dari dialog ini:
1. Masyarakat sudah menerima bahwa memberikan uang tips itu adalah hal yang lumrah, walaupun sebenarnya kebiasaan tersebut salah.
2. Orang lain akan mendengar jika kita memberikan waktu kita untuk mereka.
3. Orang lain akan berpikir bahwa kita bersahabat jika kita berusaha diam dan mendengarkan keluhan mereka.


Sekian dan terima kasih.

0 comments:

Silahkan tinggalkan komentar anda: