Diberdayakan oleh Blogger.

Sabtu, 06 September 2014

Telivisi dan kenyataan

by Joielechong sipayung  |  in Opini at  Sabtu, September 06, 2014

Apa yang ditampilkan di telivisi kebanyakan tidak sesuai dengan kenyataan. Banyak hal yang ditampilkan ternyata tidak nyata atau setidak-tidaknya ditambahi dengan bumbu-bumbu yang akan memberikan nilai lebih untuk "dijual" ke masyarakat. Memang hal-hal yang disertai dengan bumbu-bumbu tertentu merupakan bahan "jualan" yang paling  memberikan untung yang menggiurkan bagi para pemilik media yang menggunakan sarana telivisi.

Mulai dari masalah kehidupan artis - masalah rumah tangga, cinta, karir, dan sebagainya-, politikus yang bermasalah, manusia yang bermasalah (banci, tukang kawin cerai, penipu, koruptor, dan teman-temannya), hingga kejadian yang fenomenal, merupakan bahan yang paling memberi untung untuk pemilik media. Tentu saja dengan bumbu-bumbunya terlebih dahulu. Sayang sekali, kebanyakan masyarakat belum mampu mencerna kandungan kebenaran dari informasi yang diberikan di televisi. Dan akibatnya, masyarakat menerima informasi tersebut sebagai kebenaran yang nyata. Sedih sekali, telivisi yang seharusnya menjadi media informasi malah menjadi media yang membelokkan kebenaran.

Masalah yang dipaparkan, sebagai contoh masalah kawin cerai, sedikitnya akan memberikan nilai yang salah bagi masyarakat. Masyarakat akan menilai masalah tersebut sebagai hal yang biasa sehingga masyarakat secara tidak sadar akan mempraktikan hal tersebut dalam kehidupan sehari-hari dan menganggap kawin cerai di dalam sebuah komunitas adalah hal yang lumrah karena sudah wajar seperti yang ditunjukkan di televisi.

Telivisi seharusnya menjadi bahan informasi yang dapat diandalkan masyarakat. Telivisi seharusnya menjadi alat pemberi informasi yang benar. Tetapi saat ini, sepertinya telivisi belum bisa sampai ke tahapan tersebut. Menyedihkan.

0 comments:

Silahkan tinggalkan komentar anda: