Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 30 Juni 2015

Sekilas Neuroplastisitas atau Plastisitas Otak

by Joielechong sipayung  |  in Otak at  Selasa, Juni 30, 2015


Neuroplastisitas atau Plastisitas Otak yang di dalam bahasa inggris disebut Neuroplasticity atau Brain Plasticity sering disalahartikan sebagai kemampuan otak untuk meregenarasi dirinya secara total. Kemampuan otak ini lebih bisa diartikan seperti seorang normal yang kehilangan kakinya. Dimana setelah beberapa waktu setelah kehilangan tubuhnya akan melakukan penyesuaian sendiri dan menyeimbangkan tubuh sehingga orang tersebut akan menjadi terbiasa untuk menggunakan satu kaki saja. Seperti itulah sifat plastisitas otak. Oleh karena itu jika terjadi kerusakan otak permanen seperti akibat kecelakaan atau penyakit yang terjadi pada otak maka otak tidak bisa memperbaiki dan menggantikan kerusakan itu tetapi otak akan melakukan penyesuaian untuk menggantikan fungsi yang sebelumnya dilakukan di bagian yang rusak tersebut.

Plastisitas otak lebih tepat diartikan sebagai perubahan jalur saraf dan sinapse berkenaan dengan perubahan sifat, lingkungan, proses saraf, proses berpikir, dan emosi, serta perubahan yang terjadi akibat cedera fisik. Pengertian ini tepat seperti pengertian yang bisa didapatkan di wikipedia berbahasa inggris dengan kata Neuroplasticity(1). Sayangnya di wikipedia berbahasa Indonesia arti dari Neuroplastisitas(2) masih mengarah kepada pengertian yang salah yang telah dijelaskan pada paragraf sebelumnya.

Tipe plastisitas otak dapat dibagi menjadi tiga:
  1. Experience-independent / Independen terhadap pengalaman
  2. Experience-expectant / Mengharapkan pengalaman
  3. Experience-dependent / Bergantung pada pengalaman 
Plastisitas Experience-independent umumnya merupakan proses yang terjadi pada masa pra-kelahiran.

Plastisitas experience-expectant umumnya terjadi pada masa perkembangan. Salah satu contohnya dapat dilihat pada percobaan yang dilakukan pada seekor anak kucing. Jika anak kucing setelah dilahirkan salah satu matanya tetap ditutup, mata yang terbuka akan memperluas area penglihatannya yang menyebabkan kolom saraf yang berhubungan dengan mata tertutup mengalami penyusutan. Ketika mata yang tertutup dibuka, penglihatan anak kucing tersebut menjadi terganggu.

Plastisitas experience-dependent merupakan proses perubahan susunan saraf yang sudah ada. Hal ini dapat ditemukan pada situasi dimana hewan mempelajari sebuah masalah, saat hewan menerima perubahan lingkungan yang sangat besar, cedera, atau respon terhadap pengalaman abnormal seperti obat psikoaktif. Pengalaman ini menyebabkan peningkatan dan penurunan jumlah sinapse, bahkan pada hewan yang sama, tetapi pada bagian otak yang berbeda.

Kemampuan otak untuk melakukan perubahan ini telah memberikan manusia wawasan baru tentang bagaimana cara mengembangkan diri. Dari penemuan ini disimpulkan bahwa setiap manusia memiliki kemampuan untuk memperbaiki tingkat pengetahuannya, sifatnya, sikapnya, dan kebiasaannya. Sehingga pemahaman bahwa setiap manusia sudah ditakdirkan seperti apa adanya--kaya, miskin, bodoh, pintar, pemalas, rajin, cekatan, lamban--sudah tidak relevan lagi.

Setiap manusia memiliki kemampuan untuk mengubah keadaannya. Tentunya jika manusia itu sendiri mau.



Referensi:
(1) Neuroplasticity, https://en.wikipedia.org/wiki/Neuroplasticity, diakses pada 30 Juni 2015 02:24 WIB.
(2) Neruplastisitas, https://id.wikipedia.org/wiki/Neuroplastisitas, diakses pada 30 Juni 2015 02:24 WIB.
(3) Brain Plasticity In The Developing Brain, Bryan Kolb dkk, http://sites.oxy.edu/clint/physio/article/BrainPlasticityintheDevelopingBrainKolb2013.pdf .
(4) The Power of Habit: Why We Do What We Do in Life and Business, Oleh Charles Duhigg, Penerbit Random House Trade Paperbacks.

0 comments:

Silahkan tinggalkan komentar anda: